Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Sold out


__ADS_3

"Ku pikir kau tak akan bangun lagi, aku sudah berpikir untuk menikahkan Olsen dengan Maya. Mereka saling memahami, akan lebih cocok dari pada menikah dengan pria bejat seperti mu!" sarkas Mahesa menohok tepat di jantung Odion.


Odion membeliak dan berusaha untuk duduk. "Maaf pa, Maya akan menikah dengan ku. Hanya aku!.." Tekan Odion tak terima. " ya lagi pula kami sudah berencana akan menikah dalam waktu dekat. Maya sudah memaafkan ku, benar kan sayang?" sungguh Odion was-was menanti jawaban wanita hamil itu.


Maya mengangguk lemah, dia tak mungkin mengatakan tidak. Pasti Odion akan di sakiti lagi oleh ayah nya.


"Lekas lah pulih, pria sejati tak mengenal rasa sakit. Kalian menikah lusa, jika kau masih betah di sini. Olsen siap menggantikan tempat kosong di samping Maya." Ujar Mahesa tanpa belas kasihan.


Odion segera mendudukkan diri nya meski terasa remuk redam. Ucapan ayah nya tak pernah main-main.


"Besok pun aku siap!" seru Odion penuh semangat, pria itu menggenggam jemari Maya untuk meredam rasa sakit di tubuh nya. Maya menatap kasihan wajah Odion yang berusaha keras menahan rasa sakit.


"Bagus! jangan jadi pria cengeng." Mahesa keluar dari sana sekaligus memanggil dokter. Bukan nya Mahesa tak kasihan melihat kondisi sang anak, namun mengingat perbuatan tak terpuji yang di lakukan oleh Odion. Rasa kasihan nya menguap begitu saja.


"Maaf sayang, jika pernikahan kita tak sesuai impian mu. Aku tak ingin tempat ku di ganti kan oleh orang lain, kecuali aku sudah tak bernyawa." Maya menutup mulut Odion dengan jarinya, dia tak suka membahas sesuatu tentang kematian.

__ADS_1


"Tak apa, aku tak pernah bermimpi untuk melangsungkan pernikahan seperti Cinderella. Cukup bersumpah setia di hadapan Tuhan saja, itu sudah lebih dari harapan ku." Mata Odion berkaca-kaca, ini kah wanita yang dulu begitu dia benci tanpa alasan. Wanita yang sering dia dan teman-teman nya kerjai di kampus. Wanita yang menerima kata-kata kasar nya tanpa tau apa kesalahan nya.


Air mata pria itu luruh tak tertahan kan, Maya terkejut reflek memeluk tubuh Odion. Bahu Odion berguncang hebat, pria itu menyesali banyak hal dan waktu yang dia buang sia-sia untuk menyakiti wanita sebaik Maya.


"Sudah, jangan mengingat masa lalu jika kita ingin melangkah ke depan. Apa yang terlewati bisa kita jadikan pelajaran, hidup tak selalu seperti apa yang kita lihat dan kita dengar dari orang lain. Aku sudah memaafkan mu, meski pun aku tak bisa melupakan kejadian keji yang kau lakukan padaku. Ingatan itu membekas tanpa aku ingin kan." Ujar Maya lembut. Odion menguraikan pelukan nya lalu menatap wanita di hadapan nya dengan sejuta sesal.


"Aku akan menebus nya, dengan banyak cinta dan perhatian hingga ingatan itu menghilang dengan sendiri nya. Terimakasih sudah menerima pria bejat ini, aku mencintaimu sayang. Sejak pertama aku melihat mu, gadis yang malu-malu saat memperkenalkan dirinya sebagai mahasiswi baru. Gadis yang membuat ku terpesona hanya karena melihat nya menyelipkan rambut nya. Gadis yang membuat ku tak bisa berpikir jernih karena terlalu di kuasai oleh rasa cemburu. Tetap lah di samping ku, apapun yang terjadi. Aku tak sanggup lagi kehilangan mu." Ungkap Odion seraya mencium seluruh wajah Maya.


Pria itu terlalu bahagia, sehingga tak sadar jika Dokter serta perawat harus menunggu adegan tersebut usai dengan menahan nafas. Para jomblo wajib melipir ke ruang kosong, atau memindahkan masker ke atas lebih tinggi. Mata mereka wajib di jaga kesucian nya, agar jiwa-jiwa para jomblower tersebut tak meronta-ronta.


"Khemmmm...maaf mengganggu waktu berkualitas anda tuan Odion. Saya hanya ingin melakukan prosedur pemeriksaan fisik saja. Nanti anda bisa lanjut kan kembali, kami tidak akan menggangu." Canda sang dokter mengurai suasana canggung tersebut dengan tertawa kecil.


"Hmmmm.." Odion hanya berdehem. Dokter pun mulai melakukan pemeriksaan, dan menyatakan hasil nya baik. Odion hanya butuh banyak istirahat, hingga luka lebam nya membaik. Dan beruntung tak ada luka dalam, hanya saja telinga kiri Odion masih sulit mendengar dengan benar. Terasa masih mendengung akibat pukulan sang ayah.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹

__ADS_1


Odion sungguh konsisten, dua hari berjuang memulihkan diri agar posisi nya tak di ganti kan oleh sang adik. Kini pria itu tengah berdiri sambil memegang jemari Maya untuk memasang cincin pernikahan.


Maya yatim piatu, dan yang menjadi Wali nya adalah pria paruh baya yang beberapa kali Odion lihat berjalan bersama Maya. Pria paruh baya yang dulu Odion cemburui hingga menumbuhkan kebencian tak berdasar.


Pria itu rupa nya menjadikan Maya serta adik nya sebagai putri angkat nya. Pria pensiun guru sekolah menengah atas itu hanya tinggal seorang diri, istri dan putri nya mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat. Maya rupa nya mirip dengan mendiang Putri nya, hingga pertama kali melihat Maya ketika pulang dari makam anak istri nya. Pria itu langsung bergegas menghampiri Maya dan memohon untuk memeluk nya walau sebentar.


"Selamat kak, akhirnya kau sold out juga. Aku akan mulai berpikir untuk mencari pacar setelah ini." Kalimat ucapan selamat Olsen benar-benar menjengkelkan.


"Memangnya siapa yang melarang mu mencari kekasih?" ketus Odion galak, dia merasa Olsen meledek nya.


"Ck! mana bisa aku melangkahi mu, kau akan meminta uang pangkal dari ku sebagai mahar karena mendahului mu merasakan malam pengantin yang nikmat." Ucap Olsen tanpa filter.


Odion membeliak sempurna mendengar kata-kata non filter dari mulut adik nya. Sedangkan Olsen terbahak melihat reaksi sang kakak.


Pria itu mencondongkan tubuhnya ke arah Odion, lalu berbisik dengan kalimat gaib. Kalimat yang membuat emosi Odion naik turun bagai rollercoaster.

__ADS_1


"Seperti apa rasa nya malam pertama sambil berdiri kak, apa kau menikmati nya kala itu?" Olsen kemudian berlari untuk menyelamatkan diri ke arah sang ayah yang tengah berbincang dengan rekan-rekan bisnis keluarga Jenar. Dia puas melihat reaksi sang kakak yang pias sekaligus kesal. Dia tau semua cerita itu dari sang ayah, dia pun kesal namun melihat perjuangan sang kakak untuk bertanggung jawab akan perbuatan nya. Olsen akhir nya tak melakukan hal yang sama seperti yang ayah nya lakukan.


Odion mengeram kesal, mulut adik nya benar-benar minta di lem. Wajah nya pasti memerah sekarang, dia pun malu sendiri mengingat kebrutalan nya kala itu. Andai waktu bisa di putar, minimal dia akan menyewa kamar hotel dengan fasilitas terbaik. Bukan nya malah merenggut kehormatan sang istri dengan cara yang tak manusiawi.


__ADS_2