Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Kenyataan


__ADS_3

"Hanya ingin menegaskan bahwa adik ku sebenar nya masih hidup, dan kami sengaja menyembunyikan nya demi kepentingan bisnis?! Pikiran anda sungguh picik tuan Budi! Jika pun adik ku benar masih hidup, atau bangkit dari alam kematian nya. Kami sekeluarga akan menyambut nya dengan penuh suka cita. Bisnis bagi keluarga ku hanya lah sampingan belaka, kekayaan keluarga ku tak akan habis meski menghidupi seluruh kota ini beserta sanak keluarga anda. Maaf bukan bermaksud sombong, namun kenyataan nya Keluarga ku tak kekurangan uang. Jadi tak perlu menjadikan kematian adikku untuk mendongkrak popularitas dan elektabilitas perusahaan keluarga ku!" Klik


Mylo melempar ponsel nya asal saking emosi nya, pria itu bahkan lupa jika sang istri tengah merajut mimpi, melukis pulau dan benua di sofa ruangan nya.


Olivia terbangun karena terkejut suara gaduh dari ponsel sang suami.


"Sayang? Aku seperti mendengar suara berisik, apa terjadi gempa?" Olivia menopang perut nya yang mulai terlihat membuncit. Olivia dan Mylo di anugerahi berkah tak terkira, ada dua janin tengah bersemayam indah di dalam rahim wanita mungil itu.


"Astaga sayang! Maafkan aku...aku lupa kau sedang tidur di sana. Kembali lah tidur, maaf sudah membuat mu terbangun." Mylo beranjak dari kursi nya menuju ke arah sang istri dengan perasaan bersalah yang amat sangat.


"Kenapa kau membanting ponsel mu, sayang sekali padahal ini harga nya sangat mahal. Kau akan memangkas biaya persalinan ku nanti jika membeli ponsel baru." Gerutu Olivia menatap miris ponsel Mylo yang retak.


Mylo menggaruk tengkuk nya, Olivia selalu lupa jika uang nya banyak.


"Maaf kan aku sayang, ini tidak rusak total. Hanya anti gores nya yang pecah, masih bisa di pakai dan di perbaiki. Jadi jangan khawatir aku akan mengambil uang mu." Ucap Mylo menenangkan sang istri. Olivia tersenyum senang, wanita itu menjadi semakin sensitif jika membahas pengeluaran. Memiliki dua anak dan kini akan memiliki dua lagi, membuat nya ekstra menabung. Padahal meski di belanja kan miliaran setiap hari, wanita itu tak akan jatuh miskin.


Mengingat dua kakak nya masih rutin mengisi rekening nya setiap bulan, di tambah sang ayah juga kedua mertua nya. Belum lagi Mylo yang mendedikasikan semua hasil kerja nya untuk sang istri tercinta. Pria itu seperti anak sekolah yang di sangui setiap akan berangkat bekerja. Mylo hanya mengantongi uang tunai tak lebih dari 200 rb rupiah setiap hari. Dan uang itu kadang kembali dengan utuh, mengingat jika pria sejenis Mylo adalah pria yang hemat (pelit).


"Bagus. Belajar lah berhemat sayang, kita akan memiliki banyak anak nanti. Aku khawatir mereka akan kekurangan jika kita terlalu boros." Nasihat Olivia membuat Mylo tak tau harus senang atau ingin menangis. Istri nya terlalu polos namun dia sangat mencintai wanita itu.


"Ya aku tau, maaf kan aku sayang. Lain kali tidak lagi, aku akan melempar kertas saja jika aku marah." Sahut Mylo tersenyum manis.

__ADS_1


"Eh? Kenapa kau marah? Apa seseorang membuat suami ku ini tak senang hari ini, hmmm?" Tanya Olivia lembut, meski selalu terlihat 'bodoh' namun sisi keibuan nya selalu membuat Mylo tak berdaya.


"Tidak sayang, hanya orang iseng yang sedikit bosan bekerja sama dengan perusahaan kita. Jadi ku black list saja sekalian, kita tidak butuh rekan bisnis yang tidak punya pendirian." Terang Mylo secara garis besar, dia tidak mungkin merinci duduk persoalan nya pada sang istri.


Olivia terlihat mengangguk paham, "baik lah, aku mau lanjut tidur. Tapi aku sedikit lapar, apa ponsel mu masih bisa di gunakan sayang? Aku ingin memesan makanan dari restoran papa." Mylo menekan tombol power dan masih berfungsi dengan baik, hati nya bersorak lega.


"Ini sayang, pesan kan aku susu coklat seperti biasa. Aku ingin makan iga bakar, juga sup iga dengan nasi dua porsi." Ujar Mylo mengatakan keinginan nya. Olivia dengan cekatan memesan semua jenis makanan yang dia inginkan juga pilihan sang suami.


Selesai memesan makanan, Olivia tak sengaja melihat pesan dari nomor yang di beri nama Sima Conan. Dan itu sedikit mengganggu nya, Sima adalah nama seorang wanita dan hati nya sedikit terusik sehingga tergugah untuk membuka pesan tersebut.


Sesaat setelah terbuka Olivia mengernyit dalam, karena mendapati dua pesan gambar. Mylo masih sibuk bermanja dengan mengelus perut sang istri tanpa tau jika ekspresi Olivia telah berubah total.


"Kau? Kenapa merahasiakan hal sebesar ini dari ku? Kenapa kau tak mengatakan kan nya dengan jujur? Kenapa kau tega membohongi ku? Apa karena aku istri yang lemot? Sehingga kau tau kau berbagi apa pun padaku? Sima, wanita itu...." Mylo terkesiap.


Olivia membuka pesan dari detektif yang dia sewa, apa Sima mengirimkan gambar tak senonoh. Pikiran buruk mulai menghantui kepala nya, melihat reaksi Olivia pikiran nya mulai menuduh Sima yang bukan-bukan.


"Sayang, dia hanya seseorang yang ku sewa untuk..."


"Kau bahkan menyewa wanita lain ketika aku masih mampu melakukan nya? Kenapa kau jahat sekali?!" Tuding Olivia semakin terisak. Mylo semakin kalut, pria itu mencoba meraih ponsel nya dari tangan sang istri namun Olivia menolak nya.


Sehingga praduga Mylo semakin tak karuan, apa Sima mengirimkan poto diri nya dengan pose bu g il? Sehingga sang istri merasa sangat terhina dan marah.

__ADS_1


"Sayang dengarkan aku, aku hanya menyewa nya untuk me..."


"Melakukan hal gila dan merahasiakan nya dari ku. Apa aku terlihat begitu bodoh hah?! Sehingga kau tak sudi berkata jujur padaku?" Mylo mulai panik, Olivia tak pernah marah selama ini, wanita itu selalu memiliki pikiran positif untuk segala hal. Dan Sima pasti mengirimi nya pesan yang menyulut kemarahan sang istri, sehingga membuat istri nya cemburu.


Tanpa tau pesan apa yang di kirim oleh Sima, pikiran buruk nya tentang wanita itu semakin menggebu. Mylo bahkan berjanji akan memberikan wanita itu pelajaran jika berjumpa nanti, berani sekali telah membuat istri nya menangis hingga tersedu.


"Maafkan aku sayang, aku..."


"Kenapa kau tak mengatakan jika Mishy masih hidup? Kenapa kau membohongi kami semua? Apa kau tak melihat bagaimana mama begitu terluka atas kehilangan putri semata wayang nya? Apa kau lupa tangis pilu anak-anak nya? Kenapa kau kejam sekali pada anak-anak malang itu? Kau dan kak Resy sangat jahat! Kalian berdua tega sekali menyembunyikan hal besar ini dari kami semua..." Mulok tertegun.


Dia dan Resy bersekongkol? Adik nya masih hidup? Dengan rasa penasaran yang membuncah, Mylo memaksa mengambil ponsel nya setelah mengatakan kata maaf sebelum merampas nya secara paksa.


Kedua mata Mylo hampir melompat keluar, bagaimana tidak dua pesan gambar yang di kirim oleh Sima tadi siang. Adalah foto sang adik tengah sarapan. Di suapi oleh Resy dengan penuh kasih sayang. Adik nya duduk di kursi roda dengan tubuh kurus nya, namun tetap terlihat sangat cantik. Itu adik nya, ya dia tidak salah mengenali nya.


Air mata nya mengalir deras lalu memeluk sang istri sembari menangis juga tertawa. Mentertawai kebodohan nya. Pesan itu bahkan hampir saja dia hapus tadi, dan dia hampir saja tak akan pernah mengetahui kenyataan ini.


"Mishy, dia Mishy kita sayang...dia masih hidup. Apa kau melihat nya? Dia terlihat sangat cantik, dengan rambut pendek yang indah." Mylo kembali tertawa, tawa kebahagiaan yang di banjiri oleh air mata. Olivia terlihat Heran, kenapa Mylo seolah tak mengetahui hal tersebut.


"Kenapa kau seperti baru mengetahui nya? Bukan kah wanita yang bernama Sima adalah orang yang kau sewa untuk merawat Mishy? " Tanya Olivia heran. Kini otak Mylo mulai bekerja dengan benar, rupa nya sang istri menangis karena mengira diri nya telah berbohong soal Mishy. Bukan karena istri nya mencemburui nya dengan wanita bernama Sima itu. Mylo semakin tertawa keras, pikiran nya sangat lamban belakangan ini. Apa ini kutukan sang mertua karena membuat sang istri kembali mengandung.


"Wanita itu bernama Sima, dan aku menyewa nya untuk mengawasi kehidupan kek Resy selama satu tahun ini. Aku mencurigai kakak telah melakukan hal yang tidak baik. Aku pernah memergoki nya membeli beberapa jenis obat dengan cara yang tidak benar. Rupa nya kakak sedang melakukan hal besar di belakang kita. Aku bodoh karena sempat berpikir buruk pada nya, ayo kita mendatangi apartemen nya. Aku tak sabar ingin bertemu dengan adik ku." Olivia mengusap air mata nya kemudian mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2