Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Kembali dengan cara berbeda


__ADS_3

Dengan tangan berkeringat dingin, dokter Jaya pun akhir nya melakukan nya. Hingga di detik berikut nya, suara denyit panjang menandakan salam perpisahan Silvery pada kedua orang tuanya dan seluruh keluarga besar nya. Naura terjatuh di lantai dingin dengan tangis keras. Dokter Rafka yang rupa nya berada disana tanpa mereka sadari lekas meraih tubuh Naura kemudian memeluk nya erat.


Pria itu membisikkan kata-kata yang berusaha untuk meredakan tangis pilu karena kehilangan sang wanita pujaan.


Noora pun tak kalah rapuh nya, wanita itu lemas dalam pelukan Paul suami nya. Ke-dua nya menangisi kepergian sang anak dengan penuh ketabahan yang sangat menyesakkan hati dan jiwa.


Suara isakan bersahutan di dalam ruangan tersebut. Dokter Jaya mengusap sudut matanya yang tak berhenti mengeluarkan tetesan air bening.


Klek


Seorang perawat yang merupakan asisten dokter Jaya di ruang praktek terlihat baru saja tiba dengan nafas tersengal-sengal. Gadis bernama Nia itu berlari menuju brankar kemudian memasang kembali selang oksigen ke hidung Silvery. Melakukan CPR dengan menekan dada Silvery.


"Nia! Hentikan itu!" Namun gadis itu seolah tuli, Nia bahkan memukul dada Silvery dengan acak.


Dokter Jaya yang sudah tak tahan lagi, menarik bahu Nia lalu memberikan sentuhan panas di pipi kanan gadis itu. Nia sejenak terdiam, namun teringat kembali akan tujuan nya datang ke sana. Nia kembali melanjutkan prosedur kompresi brutal. Noora yang tidak tahan melihat putri nya di perlakukan seperti itu, lekas menarik keras rambut panjang Nia dan melakukan hal yang sama seperti yang dokter Jaya lakukan.


Sesaat akan memaki sang perawat, denyit monitor ICU kembali berbunyi. Memperlihatkan hasil dari kebrutalan Nia telah membawa Silvery, permata keluarga itu kembali menyapa dunia melalui suara mesin tersebut.


Dengan wajah memerah akibat tamparan dua orang sekaligus di pipi yang sama. Nia mengusap keringat dingin di kening nya. Menatap pongah pada dokter Jaya, lalu beralih menatap Noora dengan senyum mengejek.


"Selamat nyonya, anda baru saja akan mengirim putri anda ke surga. Lihatlah, dunia masih menghendaki nya untuk tetap tinggal." Nia melangkah menuju Naura yang kini telah berdiri namun masih di topang oleh Rafka.

__ADS_1


"Usap air mata anda dokter, tim 2 butuh seorang Dokter bedah yang tak cengeng. Maaf dokter Jaya, kali ini aku ijin membelot dari tim anda." Dokter Jaya masih terpekur ditempatnya berdiri. Begitu pula dengan Naura, dia masih linglung dengan kejadian yang begitu cepat tersebut.


"Dokter!" Seru Nia tak sabar. Gadis itu bahkan menarik pergelangan Naura menuju pintu keluar, juga memberikan kode pada dokter Rafka agar membawa Naura ke ruang operasi. Sementara diri nya yang rupanya sudah bersiap dengan dua orang perawat lainnya, yang tertinggal kala dia berlari kencang menuju ruang Silvery.


Kedua perawat itu mulai menyeret ranjang Silvery keluar ruangan, namun kesadaran Noora kini telah pulih kembali.


Wanita itu menolak putri nya di bawa tanpa persetujuan nya.


"Jika anda masih ingin melihat nona Silvery menghirup udara tanpa selang sialan ini. Ijinkan aku membawanya kembali dengan cara ku nyonya. Pendonor yang cocok dengan nona sudah ada di ruang operasi bersiap untuk menjalani operasi transplantasi ginjal. Nona mendapatkan ketiga hal yang di butuhkan. Ginjal, cangkok hati juga paru-paru. Prosedur itu akan di lakukan bertahap. Termasuk donor sum-sum tulang belakang. Dokter Jaya pasti lebih paham dariku, bukan begitu dok?" Ucap Nia penuh nada sindiran.


Dokter Jaya bergeming menatap tak percaya pada kegesitan sang asisten. Pria paruh baya itu tersenyum penuh rasa bangga, melihat anak didik nya kini telah berani mengambil sebuah keputusan besar demi nyawa seorang pasien.


"Biarkan suster Nia membawanya ke ruang operasi nyonya, aku percaya penuh pada nya." Ucap dokter Jaya membuat Noora akhir nya setuju.


Noora terus menatap pintu ruang operasi tanpa rasa bosan. Entah mengapa dia seperti merasakan kehadiran seseorang dari masa lalu nya. Namun itu tak mungkin, puluhan tahun berlalu dan itu waktu yang tak singkat.


Operasi yang mendebarkan seluruh keluarga akhirnya selesai. Jika ada yang bertanya, kenapa keluarga sekaya Sanders Pratama juga Lochlan serta Scout tak bisa mencari kan donor yang di butuhkan oleh Silvery. Sederhana saja, gadis itu memiliki kelainan genetik langka. Itulah yang memperparah penyakit leukemia yang di derita nya. Tak sembarang orang yang bisa menjadi pendonor bagi gadis itu.


Hanya seseorang yang memang memiliki kecocokan mencapai 99 persen lah yang bisa menjadi pendonor bagi nya. Dan diantara satu kelahiran pertahun, belum tentu ada yang membawa kecocokan tersebut di dalam tubuh nya.


Kecuali seorang pria yang memang telah di incar kehidupan nya oleh sang ahli di masa lalu. Dengan dalih sebuah penebusan dosa, semua rencana pun berjalan tanpa kendala berarti.

__ADS_1


"Naura?" Noora beranjak dari duduk nya, menyongsong sang anak yang baru saja keluar dari ruang operasi.


"Berhasil." Satu kata yang sukses membuat tangis keluarga itu kembali pecah. Tangis haru penuh rasa syukur tak terkira.


Noora memeluk putri sulung nya dengan perasaan bersalah, secara tak langsung Noora telah meremehkan kemampuan sang anak untuk menangani Silvery.


"Maafkan mommy sayang, dan terimakasih telah membawa adikmu kembali." Ucap Noora terisak pelan.


"Mommy tak salah, akulah yang salah. Aku kalah waktu hingga orang baik itu tiba-tiba datang seperti seorang malaikat tak bersayap." Balas Naura tersenyum di balik perih hati nya. Gadis itu kembali menyimpan rahasia besar dalam diam.


Paul menatap haru kedua wanita kesayangan nya itu. Naura bagai mata air di tengah Padang pasir bagi putri nya Silvery. Hampir seluruh hidup gadis itu, di persembahkan untuk sang adik tercinta.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹


Lima bulan telah berlalu, Silvery telah melakukan banyak operasi besar. Kini gadis itu sudah bisa menghirup udara tanpa bantuan selalu oksigen nya. Meski harus di bantu berjalan menggunakan kursi roda.


"Hei, lihat siapa yang tengah merenungi nasib nya." Suara seorang pria membuat atensi Silvery teralih kan.


"Dokter Rafka? Mencari kakak ku? Sebentar lagi wanita galak itu akan kemari, tadi aku meminta nya untuk membuat kan ku puding mangga." Rafka tersenyum mendengar tebakan tepat sasaran calon adik ipar nya itu.


Calon adik ipar? Berharap saja dulu, walau sang calon pacar masih jual mahal pada nya.

__ADS_1


"Kau selalu dapat menebak dengan benar. Apa yang kau rasakan sekarang? Apa operasi terakhir mu masih sering nyeri?" Tanya Rafka penuh perhatian.


"Sedikit. Aku sedang berpikir untuk bertemu dengan orang baik yang telah membawa ku kembali ke dalam keluarga ku. Kapan aku bisa menemui nya?" Rafka terdiam, sejenak berpikir untuk memberikan jawaban yang tepat untuk gadis itu.


__ADS_2