Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Anak Itik


__ADS_3

Pagi di kediaman Wira layak nya taman kanak-kanak, beda nya kanak-kanak remaja itu terlihat memperdebatkan masalah yang lebih serius ketimbang berebut pensil warna dan buku gambar.


"Ck! seharusnya kau bilang pada ku sejak semalam. Kau sengaja bukan, ingin membuat ku di hukum di bawah tiang bendera?" tuduh Kael menatap sengit ke arah Selo. Kedua remaja yang beberapa bulan lagi akan genap berusia 17 tahun itu terlihat saling melempar tatapan tajam.


"Ini, sudah kakak kerjakan subuh tadi. Maaf, kakak juga lupa memberi tahu mu." Ucap Mima menatap sang adik dengan perasaan bersalah. Padahal bukan salah nya sama sekali. Mima mengikuti olimpiade matematika, dan gadis itu sibuk mempersiapkan diri nya dengan fokus belajar.


"Makasih kakakku yang cantik dan baik nya kaya malaikat..." puji Kael mencium pipi sang kakak dengan sayang, membuat Justin melempar nya dengan potongan buah melon.


"Dasar tukang cemburu, dia kakak ku buduh!" kesal Kael tak terima.


"Tapi dia kekasih ku!" sahut Justin tak mau kalah.


"Sudah-sudah..habis kan sarapan kalian, daddy akan mengantar ke sekolah hari ini. Paman Eko sedang libur mendesak untuk tiga hari ke depan, jadi daddy yang akan menjadi sopir kalian selama paman Eko pulang kampung." Ujar Wira menengahi.


Pria itu terlihat semakin berkarisma di usia nya yang menginjak 42 tahun.


"Kenapa tidak dengan ku saja dad? mobil ku lowong untuk membawa anak-anak itik ini.." jahil Miguel mengerling pada adik-adik nya. Dan mendapatkan pelototan tajam dari sang ayah.


"Maaf dad.." kekeh Miguel mengangkat dua jari nya membentuk huruf perdamaian.


Selesai sarapan Wira berpamitan pada permaisuri nya seperti biasa.


"Sayang, jangan lakukan apapun hari ini. Cukup jaga di kembar saja, oke? aku tak mau melihat mu kelelahan, dan ingat, aku punya banyak mata di rumah ini." Mishy mengerucut kan bibir nya, suami nya selalu melarang nya melakukan apapun. Wira bahkan memasang banyak CCTV untuk memantau aktivitas nya di rumah.

__ADS_1


"Apa kau berniat menggoda ku mom? lihat dia langsung bereaksi..." bisik Wira di telinga sang istri, sontak Mishy menghadiahi sang suami dengan Capitan andalan nya.


"Auww sayang...kau harus membayar nya nanti malam. Dua kali lipat, lunas!" Tuntut Wira membuat Mishy mencebik sedang kan Wira terkekeh jahanam.


"Daddy!!" teriakan anak-anak nya membuat Wira terkekeh, sesi pamit ala Wira selalu memakan waktu yang lama.


"Maaf kids, mommy kalian masih merindukan daddy." Jelas Wira beralasan. Anak-anak nya mencebik mendengar kalimat manipulatif tersebut. Siapa yang tak tau di keluarga mereka, selain sang paman yang terkenal bucin. Ada Wira sang ayah yang tak kalah bucin.


Wira tertawa renyah melihat reaksi anak-anak nya, hanya Mima yang selalu bersikap dewasa di antara mereka. Gadis yang selalu menjadi andalan Wira dan Mishy untuk menjadi pawang adik-adiknya.


"Bagaimana persiapan olimpiade mu kak? apa ada sesuatu yang harus kau lengkapi lagi? kita akan mencari nya bersama." Ujar Wira memecah keheningan.


"Sudah lengkap semua dad, hanya perlu mempersiapkan diri saja. Aku sedikit deg-degan, para peserta dari sekolah lain pasti cerdas-cerdas. Aku sedikit insecure akan menang kali ini." Tutur Mima terlihat gurat kekhawatiran di wajah nya yang teduh. Wajah yang selalu menenangkan ketika melihat nya.


Mima selalu duduk di depan, kondisi kaki nya membuat nya kesulitan jika harus berebut dengan adik-adik nya yang selalu rusuh memperebutkan siapa yang paling pertama masuk ke dalam mobil.


"Terimakasih dad, aku menyayangimu. Terimakasih sudah menjadi ayah ku." Ujar gadis itu berkaca-kaca.


"Aku juga menyayangi mu..." celetuk Justin dari jok belakang. Dan membuat mobil Wira yang tadi nya sunyi kini gaduh akibat sorakan si triplets.


Wira hanya menggeleng kan kepala, Justin bahkan selalu mengklaim jika Mima adalah kekasih nya ketimbang kakak sambung nya. Mishy pun tak masalah, toh mereka tidak memiliki hubungan darah sama sekali.


Pemuda kelas satu SMA itu selalu menjadi pelindung Mima ketika di sekolah. Meski tak ada yang berani membully nya seperti ketika masih SD hingga SMP, tetap saja ada sebagian orang yang suka menjahili gadis malang itu dengan membuat lantai licin.

__ADS_1


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹


Minggu yang di sepakati telah tiba, Miguel terlihat membeli begitu banyak stok makanan ringan juga beberapa makanan kaleng siap santap.


Charlotte terlihat ngos-ngosan karena berlari-lari kecil dari pangkalan ojek menuju mobil Wira. Dengan tas ransel di punggung kecil nya.


"Minum lah, kenapa kau harus berlari seperti tadi. Kau ini perempuan, bersikap anggun lah sedikit." Decak Miguel kesal.


"Maaf Migu, aku takut ada yang melihat ku. Terimakasih minuman nya, kau selalu memberikan ku bekas." Cemberut Charlotte mengembalikan botol minum kemasan pada Miguel. Membuat pria itu terkekeh kecil.


"Aku kasihan melihat mu, harus nya kau berterimakasih padaku. Bukan nya malah mengomel tidak jelas." Charlotte memajukan bibir nya kesal.


"Kenapa kau membawa makanan sebanyak ini? apa kita akan tinggal di sana selama berbulan-bulan? dan kemana Clara? bukankah kau akan menjemput nya terlebih dahulu sebelum kemari?" cecar Charlotte heran.


Miguel menyoyor kening Charlotte yang terus berbicara seperti kereta listrik tanpa jeda.


"Clara akan menyusul, dia sedang ada pemotretan di bali selama dua hari. Tepat ulang tahun mu tiga hari lagi dia akan datang untuk memberikan mu kejutan. Sekarang duduk yang benar, pasang sabuk pengaman mu." Charlotte hanya mengangguk patuh. Meski terlihat tomboi, Charlotte lebih cantik daripada Clara. Miguel pun mengakui nya, hanya saja hati nya sudah terpaut pada gadis itu.


Perjalanan mereka cukup panjang, Miguel memutuskan beristirahat sejenak di sudut jalan. Charlotte tertidur pulas, semalam gadis itu mengerjakan semua pekerjaan nya demi bisa mengambil cuti selama satu minggu penuh.


Miguel merogoh saku jaket denim Charlotte, mengambil ponsel gadis itu dan mengotak atik nya. Tak lama Miguel mengembalikan nya lagi ke tempat semula. Seringai iblis tercetak di wajah nya yang bak dewa Yunani.


"Sebentar lagi kau akan membayar lunas hutang nyawa yang telah orang tua mu lenyapkan dari hidup ku dan Mima." Gumam Miguel tersenyum smirk. Pria itu kembali melanjutkan perjalanan, dengan banyak rencana yang sudah tersusun rapi dari jauh-jauh hari.

__ADS_1


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹


__ADS_2