
"Apa kau tau, orang baik itu harus menjalani serangkaian fisioterapi, untuk melakukan pemulihan pada beberapa luka operasi nya. Sama seperti mu, hanya saja ini sedikit berbeda. Orang baik itu baru saja kehilangan sebagian organ penting dalam tubuh nya, sedang kan kau mendapatkan apa yang kau butuhkan. Jadi pemulihan kalian sedikit berbeda. Begitu lah garis besar nya, apa kau paham?" Silvery terlihat merenung kemudian mengangguk paham.
"Lihatlah tami tak di undang ini, dia pasti ingin menumpang makan cemilan mu lagi. Jangan membagi nya lagi kali ini, atau makhluk tak tau malu ini akan datang setiap hari meminta makanan." Ketus Naura sewot.
Rafka tersenyum mendengar kalimat pedas Naura, itu sudah biasa bagi nya jadi tak mengherankan lagi.
"Hai calon pacar, sekaligus calon ibu benih-benih kecebong ku." Puk
Naura melempar sendok plastik ke kepala Rafka, hingga pria itu meringis.
"Kau kasar sekali sayang, nanti benih ku pada takut kau buahi jika induk nya segarang ini." Celoteh Rafka semakin ngaur.
"Berhenti mengoceh dan pulanglah, apa kau tak malu menumpang makan di rumah orang setiap hari."
"Kenapa harus malu? Kedua calon mertuaku sudah memberikan aku lampu hijau. Hanya menunggu persetujuan mu saja, janur merah muda siap untuk di lengkugkan." Ujar Rafka tersenyum lebar.
"Dalam mimpi mu!" Sewot Naura kesal, namun Rafka malah semakin tergelak renyah. Dia tau Naura pun memiliki rasa pada nya, hanya saja gadis itu terlalu fokus pada pemilihan sang adik tercinta.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
Seorang gadis tengah berjalan tergesa menuju sebuah lorong perpustakaan. Dia lupa telah meninggal ponsel nya di sana ketika pergi tadi.
Brugh!
Hampir saja diri nya terjatuh, namun lengan kokoh menopang tubuh kecil nya hingga tak sampai mencium lantai.
__ADS_1
"Kau baik-baik saja nona?" Bukan nya menjawab, gadis itu malah terbengong menatap wajah tampan bak dewa Yunani di hadapan nya hingga tak berkedip. Jantung nya berdegup kencang, dan ini kali pertama nya dia merasa kan rasa tak biasa terhadap lawan jenis.
"Nona?" Ulang si pria mengibaskan tangan nya di depan wajah si gadis.
"Hah? Ah ya, aku baik. Terimakasih sudah menolong ku, dan maaf telah menabrak mu. Aku terburu-buru, ponsel ku tertinggal di rak di ujung sana." Tunjuk nya menunjukan sudut lorong di mana ada rak tinggi berisi banyak buku tersusun rapi.
Si pria ikut menoleh kemana arah telunjuk lentik itu mengarah.
"Ponsel berwarna merah muda dengan casing bergambar hello Kitty?" Tanya si pria memastikan.
"Benar. Bagaimana kau bisa tau?" Tanya si gadis dengan mata berbinar. Si pria tersebut simpul, lalu mengeluarkan ponsel tersebut dari saku celana nya.
"Ini milik mu?" Dengan kedua mata melotot sempurna, senyum lebar nya ikut menyambut riang ponsel tersebut.
"Aku melakukan sedikit keajaiban. Dan dia langsung keluar dari tumpukan buku-buku itu. Lalu mengatakan akan ada seorang gadis yang akan kembali datang untuk mencari nya. Tapi sebelum itu, gadis tersebut akan menabrak ku terlebih dahulu." Seloroh si pria membuat pipi si gadis mengeluarkan semburat merah merona.
Dengan ekspresi malu-malu, si gadis menyelipkan anak rambut nya kesamping telinga. Dan itu berhasil membuat jantung si pria berdebar kencang.
"Terimakasih, aku sedikit ceroboh belakangan ini. Mungkin gejala penuaan dini, membuat ku mudah melupakan sesuatu." Ucap nya sembari tersenyum manis, sangat manis sampai-sampai membuat si pria semakin lupa akan siapa diri nya.
"Kau masih sangat muda, lagi pula penyakit lupa bisa menggerogoti siapa saja tanpa pandang usia." Balas si pria menanggapi dengan bijak, itu semua untuk menutupi degub sialan yang bagai genderang memompa jantung nya.
"Kau benar. Ah, bagaimana jika aku mentraktir mu makan siang? Apa kau sibuk? Aku kebetulan melupakan jam makan siang ku, kakak ku Pasti akan mengomeli ku hingga matahari terbenam di selatan. Semua orang begitu cerewet pada ku." Ucap si gadis memanyunkan bibirnya sedikit kesal, mengingat akan sikap protek keluarga besar nya.
"Aku tidak sibuk. Jadi mau mentraktir ku makan siang di mana?" Potong si pria cepat.
__ADS_1
"Bagaimana jika di warung lesehan, apa kau keberatan?" Si pria sedikit terkejut dengan kesederhanaan gadis di hadapannya. Namun terbersit rasa kagum akan sikap apa adanya gadis cantik itu.
"Baiklah, kau arahkan saja , aku akan mengikuti mu dari belakang."
"Kau menggunakan kendaraan pribadi?" Si pria hanya mengangguk pelan.
"Aku akan menumpang padamu saja, aku kemari menggunakan metro mini. Hari ini aku kabur dari kelas les privat ku, jadi aku tak membawa kendaraan. Lagi pula aku tak tau cara menggunakan benda bergerak itu. Ayo kita berangkat!" Seru nya riang, akhirnya si pria hanya bisa menurut. Meski sempat tercengang oleh perkataan gadis itu, dia takut akan di kira sebagai penyebab gadis itu kabur meninggalkan les nya.
"Si sini?" Ujar si pria memastikan. Warung sederhana namun cukup bersih dengan tatanan meja kursi yang rapi.
"Benar. Ini adalah warung favorit ku sejak aku mulai belajar mengenal bumi Pertiwi yang indah ini. Ayo masuk, kita akan kehabisan kursi kalau terlalu lama menjadi tukang parkir." Ucap nya tak sabar seraya menarik pergelangan tangan si pria masuk ke dalam warung.
"Neng Silver? Tumben sendiri, biasa sama pawang nya?" Canda si pemilik warung tersenyum ramah.
"Pak Agus bisa aja, ini pawang aku yang baru. Ganteng kan?" Deg!
Lagi-lagi jantung sialan nya berdebar kencang tak tau tempat dan waktu. Kalimat si gadis berhasil membuat nya bagai melayang dua sentimeter dari permukaan lantai.
"Ganteng, cocok lah sama neng Silver yang Cantik dan ramah." Puji pak Agus tulus, lalu mempersilahkan kedua insan itu duduk di meja yang ada di sudut warung.
"Oya, aku belum tau siapa nama mu. Aku Silvery, kau boleh memanggil ku Silver asal jangan Very. Itu sedikit mengganggu di pendengaran ku." Ucap Silvery memperkenalkan dirinya.
"Aku Satya, hanya Satya. Kau boleh memanggil ku Satya asal jangan Tya, itu juga sedikit mengganggu bagi ku." Kedua nya pun tertawa renyah, Silvery rupa nya merasa sangat cocok berteman dengan Satya. Yang menurut nya terlihat lebih dewasa namun tak menutupi karisma juga ketampanan yang tak kalah dari pria muda lainya.
"Apa kau sedang mencari buka di perpustakaan tadi?" Tanya Silvery mencoba mengakrabkan diri. Rupanya pesona Satya membuat gadis polos itu ter Satya-Satya pada pria itu.
__ADS_1