
Tubuh kecil Mylo bergetar hebat di ujung tangga, sayup-sayup anak itu mendengar dan melihat bibi Marta menangis sambil memeluk gagang telepon.
"Ya Tuhan! kenapa cobaan keluarga ini tidak pernah sudah... kasihanilah anak-anak malang ini jika harus kehilangan ayah mereka..." Marta terisak sambil di tenang kan oleh bu Parmi.
"Bangun kan anak-anak, kita ke rumah sakit. Jangan katakan apa pun dahulu, kita belum tau kondisi tuan Harland separah apa. Polisi baru menginformasikan jika kapten nya meninggal di tempat, satu lagi dalam kondisi kritis. Kondisi tuan Harland masih belum pasti. Saat di selamat kan kondisi tuan Harland tak sadar, dari mulut dan luka kepala nya terus mengeluarkan darah." Cerita bu Parmi pada sang suami dan Drew yang baru tiba.
Sedang kan Roky, Evan dan yang lain sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit setelah di kabari oleh Drew.
"Ma..." suara Mylo bergetar serak di samping ranjang sang ibu. "Aku tidak pernah meminta apapun sejak aku kecil, sekarang aku ingin membuat permintaan sebagai seorang anak kecil pada umumnya. Bangun lah ma, papa sedang butuh mama sekarang. Aku mohon, kali ini saja...aku tak ingin kehilangan papa..mama boleh membenci ku nanti, tidak masalah. Tapi Mylo mohon, buka lah mata mama! Sadarlah ma..!" seru Mylo dengan suara tercekat di tenggorokan. Mylo bahkan sampai bersimpuh di samping ranjang, sembari menggenggam sebuah kalung Rosario yang biasa dia pakai untuk berdoa setiap malam.
Tubuh kecil itu berguncang hebat, Mylo berlutut dalam posisi pasrah dalam harapan yang hampir pupus. Dia butuh sandaran, dia butuh kekuatan sekarang. Hingga sebuah elusan lembut di puncak kecil nya.
Mylo lekas mendongak, bola kata kecil nya hampir melompat keluar. Melihat pemandangan yang selalu dia doa kan setiap hari malam selama satu tahun ini. Ibu nya bangun, ya Rosy kini tengah berusaha untuk menopang tubuh lemah nya di tumpukan bantal.
"Bi_sa ban_tu ma_ma sayang?" ucap Rosy lemah.
Mylo mengusap kasar air mata nya kemudian bergegas membantu sang ibu bersandar di punggung ranjang.
"Mama.." lirih Mylo menatap tak percaya pada keajaiban Tuhan di hadapan nya.
"Papa? bagaimana?" Rosy menatap manik memerah sang anak dengan intens.
"Papa kecelakaan helikopter saat memaksa pulang, semua salah Mishy ma. Mishy marah-marah pada papa karena papa batal pulang! ini semua salah Mishy!" isak Mylo di depan sang ibu, ini adalah tangis pertama yang Rosy lihat. Tentu hati nya tak tega.
"Bukan salah adikmu, tak baik menyalahkan siapapun atas apa yang terjadi. Apa mama pernah menyalah kan papa atas apa yang mama alami?" Mylo menggeleng pelan. "Benar. Tidak pernah. Papa adalah pria hebat, apa kau ingat? papa rela berkorban untuk menyelamatkan mu bahkan papa belum mengetahui siapa yang sedang dia tolong. Papa berjuang di antara gulungan ombak dan menepis rasa takut nya sendiri agar kau bisa selamat. Papa sehebat itu, kau tau? papa itu adalah bagian dari dirimu, papa takut kedalaman. Lihat lah apa yang papa lakukan. Papa berjuang menaklukkan rasa takut nya demi diri mu. Ini rahasia kecil kita." Rosy mengangkat jari kelingking nya yang terasa bersih dan segera di sambut oleh Mylo.
__ADS_1
Sejati nya tubuh Rosy sangat lah lemah, namun berita tentang sang suami. Mampu membuat sudut hati nya terenyuh sakit. Dia ingin menjadi kuat di saat-saat seperti ini.
"Sekarang hubungi paman Drew"
"Paman sudah di bawah, menelpon beberapa orang." Jawab Mylo masih terisak pelan.
"Tuan mu_da... nyo_nya.." Drew terpaku di depan pintu kamar utama. Niat hati ingin membangun kan Mylo setelah berhasil membangunkan sang tuan putri yang paling susah untuk di bangun kan. Drew malah di buat terkejut dengan apa yang dia lihat di dalam kamar tersebut.
"Nyonya..." lirih Drew mengulang kalimat nya.
"Apa kabar mu Drew, senang bisa melihat mu kembali." Ucap Rosy tersenyum simpul.
"Saya yang sebalik nya merasa sangat senang nyonya, anda telah kembali. Suatu hal yang paling kami semua nanti kan selama ini." Drew menetes kan air mata nya saking terlalu bahagia. Sang nyonya baik hati mereka telah terbangun dari tidur panjang nya.
"Ku dengar suami ku mengalami kecelakaan? apa kau bisa membantu wanita payah ini untuk bersiap Drew..." Drew sedikit terkejut, lalu menatap sang tuan muda yang terlihat masih duduk di samping sang ibu dengan mata memerah. Dia tau dari mana berita itu bersumber hingga ke telinga sang nyonya.
"Bersiap lah sayang, adik mu sangat susah menahan kantuk jika sudah tertidur. Pasti kan kau membawa kan bantal dan selimut untuk adik mu." Titah Rosy pada putra sulung nya.
"Apa mama membutuhkan bantuan suster Elsa? Aku akan membangun kan nya jika iya."
"Tidak sayang, yang lain saja sudah cukup. Mama khawatir lebih ingin mencakar nya ketimbang membutuhkan bantuan nya." Kekeh Rosy mencair kan suasana di antara mereka. Putra nya sedang dalam kondisi hati yang sangat mencemaskan sang ayah. Pria kecil itu butuh sedikit di alihkan.
"Baiklah" Mylo tersenyum manis lalu beranjak keluar dari kamar.
Di sisi lain, Roky dan Evan tiba bersamaan di area parkiran. Sementara Sania dan suami nya sudah lebih dulu tiba. Sedangkan Hany dan ibu nya sedang dalam perjalanan bersama Johan.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan nya?" tanya Roky dengan nafas tersengal-sengal, pria itu berjalan setengah berlari dari area parkir menuju IGD.
"Masih di tangani si ruang tindakan, sebentar lagi akan di lakukan tindakan operasi darurat setelah semua prosedur nya selesai di dalam. Anak-anak sudah di ajak kemari?" tanya Sania terlihat menekan rasa cemas nya. Dapat dia lihat kondisi Harland tidaklah baik-baik saja.
Kepala pria itu mengalami luka cukup lebar, bahkan tengkorak kepala nya sampai terlihat. Tangan kirinya patah dan bahu kanan nya terkilir. Harland seperti sangat berjuang keras untuk mempertahankan posisi nya agar tetap aman. Namun rupa nya kalah oleh guncangan pesawat. Satu hal yang patut di syukuri, parasut meski tak sempat di gunakan. Namun mampu melindungi punggung Harland dari sebuah besi tuas yang terlihat menancap di bagian punggung pria itu. Jika tidak ada tas parasut tersebut, alamat jantung Harland lah yang tertusuk oleh ujung runcing besi tersebut.
Evan dan Roky mengusap wajah gusar, kedua nya merasakan ketakutan yang sama.
"Sebagai seorang dokter, berapa persen kemungkinan nya?" Sania menatap kedua pria itu bergantian. Lidah nya terasa kaku untuk menyampaikan opini nya.
"27 persen.." jawab Sania pelan. Sungguh dia tak Sanggup mengurai secara detail bagaimana kondisi Harland yang sesungguhnya. Hening. Tak ada yang menyela atau pun mengajukan tanya. Diam mereka menjelaskan jika kondisi Harland sedang di ambang. Teringat wajah polos Mishy dan Mylo, sungguh hati mereka bagai di timpa beban miliaran ton.
Suara derap langkah mengalihkan perhatian mereka, tiga orang Dewasa dengan ekspresi wajah penuh kekhawatiran terlihat jelas di sana.
"Bagaimana kondisi kakak ku mbak?" tanya Hany terisak pelan. Sania menggeleng pelan, tangis wanita itu pecah seketika. Dengan sigap Johan memeluk erat sang istri. Harland meski pun hanya ipar bagi nya, namun pria itu sudah seperti seorang kakak kandung. Dia yang hanya anak seorang penjual sayur, di restui menikahi Hany hanya dengan modal tekad dan usaha kecil-kecilan. Yaitu bengkel motor. Hingga akhirnya di percaya untuk mengelola beberapa restoran milik sang kakak ipar. Harland bahkan membangun kan rumah bagi kedua orang tua nya berikut kios untuk berjualan sembako lengkap.
Tak terkira kebaikan Harland bagi Johan. Untuk itu dia merasa sangat sedih yang sama ketika tau pria itu mengalami musibah.
"Bu, ayo duduk dulu..." ujar Sania lembut. Di tuntun nya wanita paruh baya yang terlihat tegar itu menuju kursi tunggu.
"Apa hukuman putra ku masih belum cukup Sania? apa dosanya masih terlalu besar untuk bisa di tebus dengan perbuatan baiknya selama ini? apa Putra ku masih kurang tulus dalam menjalani hidup nya? Ya Tuhan! apakah ini akibat dari dosa-dosa ku di masa lalu, kini di tanggungkan pada putra ku yang malang." Wina menepuk dada nya untuk mengurangi sedikit rasa sesak yang menghimpit hati nya.
Sania menggeleng pelan, merengkuh tubuh wanita paruh baya itu dengan kasih sayang. Hanya itu yang bisa dia lakukan, memberikan pelukan hangat agar bisa sedikit meringankan beban hati Wina. Wanita yang bergelar ibu dan nenek, kini tengah terpuruk dalam Kemalangan putranya. Hati ibu mana yang sanggup menerima nya dengan lapang dada.
**∆Nanti update lagi agak siangan ya, othor mau berjibaku dengan kehidupan nyata dulu😘😘😘
__ADS_1
Terimakasih sudah setia di mengikuti novel remahan ini, untuk undian tgl 30 kita undi ya🤗🤗
Luv yuu kalian semua, pembaca ku yang hebat🥰🥰🤍🤍**