
Tak lama kemudian ponsel Desta berdering oleh panggilan dari Sebastian.
"Ada apa paman?" jawab Desta yang mengangkat panggilan telepon.
"Tuan muda, apakah meloloskan Denis sebagai manager divisi teknis merupakan keputusan yang tepat?" tanya Sebastian meminta saran dari Desta.
"Aku mendapatkan banyak keluhan dari bawahannya, padahal belum berjalan 1 bulan dia bekerja" sambung Sebastian.
"Haha, hal itu sudah kuduga sebelumnya, tapi aku masih ingin membiarkan Denis menjabat sebagai manager di sana, walaupun memang aku tidak suka dengan sifatnya" jawab Desta, dia memang sedikit kesal dengan sikap Denis sewaktu di bandara, tapi dia ingin memberikan kesempatan padanya untuk memperbaiki itu.
"Baiklah, kalau begitu aku tidak akan mengambil tindakan apapun untuk saat ini" ucap Sebastian dan menutu panggilan teleponnya.
"Huh, aku kan tidak meloloskannya, tapi orang pilihan paman Sebastianlah yang melakukannya, jadi aku akan melihat ke depannya dulu" gumam Desta lalu kembali mendekat pada Debby.
"Pamanmu?" tanya Debby sambil menaikkan alisnya.
__ADS_1
"Iya, biasa masalah perusahaaan, ada seorang manager yang dikomplain oleh bawahannya" ucap Desta.
"Tapi ya sepertinya itu memang karena managernya sendiri yang bikin kesal" sambung Desta, lalu dia mengambil kursi untuk duduk di sebelah kasur Lia.
"Sepertinya repot juga ya jadi atasan" Debby khawatir dengan jabatannya yang baru saja dia dapatkan, apakah dia akan baik-baik saja dengan para bawahannya.
"Tok tok"
Terdengar suara ketukan pintu dan terlihat Retno sudah kembali ke rumah sakit dengan membawa beberapa buah-buahan untuk Lia.
"Ah, ibumu sedang tidak enak badan, jadi dia beristirahat sejenak di rumah" jawab Retno.
"Aku ingin mengabarkan secara langsung bahwa masalah hutangnya sudah lunas dan seharusnya sudah tidak ada masalah yang akan mengganggu keluarga ini lagi" ucap Desta dengan tatapan yang serius pada Retno.
"Kecuali jika kalian yang mencarinya" Desta bermaksud untuk memarahi Anna, tapi dia pikir itu tidak perlu, karena tugas Retnolah untuk memarahinya.
__ADS_1
"Aku mohon untuk sementara ini jangan bertindak yang akan merugikan kalian sendiri, aku tidak ingin pernikahanku dengan Debby terganggu" akhirnya Desta mengatakan yang dipikirkannya, karena dia benar-benar tidak ingin membuat dirinya harus terus menerus terlibat perkelahian yang tidak perlu.
"Ah, tapi sepertinya mau bagaimanapun, jalanku akan dipenuhi dengan masalah" gumam Desta yang berpikir pasti masih banyak orang yang akan membuat keributan dengannya.
Debby tertegun mendengar Desta memarahi ayahnya, dan dia lebih tertegun lagi melihat ayahnya yang hanya bisa tertunduk mendengarkan ocehan Desta.
Selama dia hidup dengan keluarganya, baru Desta yang berani memarahi ayahnya seperti seorang anak kecil yang dimarahi oleh orang tuanya.
"Terima kasih atas semua bantuanmu, aku tidak mungkin bisa membalasnya" ucap Retno pelan.
Retno tahu Desta hanya seseorang yang memenangkan hadiah undian, tapi bukan berarti uang yang dia dapatkan dari undian itu tidak terbatas.
Namun, meskipun begitu Desta tetap membantu istrinya untuk melunasi hutang yang 10 miliar itu, tentu saja Retno tidak punya muka di depan Desta dan hanya bisa tertunduk malu karena bahkan jika uang yang dimiliki olehnya dan istrinya digabungkan, belum bisa mengembalikan pinjaman 10 miliar itu.
"Sudahlah, yang penting jangan diulangi lagi, tolong sampaikan itu pada bibi juga" Desta menghela nafas dan kemudian berdiri dari kursi yang dia duduki.
__ADS_1