
Dalam waktu 1 jam 20 menit, akhirnya mereka berdua tiba di kantor polisi yang menahan orang tua Febrianto.
Kantor polisi itu terbilang kecil dan yang bertugas di sana pun tidak lebih dari 7 orang, mulai dari jabatan bawahan hingga atasan dan hanya terdapat 2 ruang kurungan.
“Tok.. Tok..” Desta mengetuk pintu depan kantor polisi dan melihat 4 orang anggota polisi sedang asyik bermain kartu judi.
“Mereka tidak dengar bos” ucap Febrianto dengan suara kecil.
“Permisi, ada orang tidak?” Desta berjalan masuk dan mendekati keempat orang tersebut dan mengambil beberapa makanan ringan yang ditaruh di atas meja.
“Hei, kau cari masalah?” bentak salah satu dari mereka sambil menarik pergelangan tangan Desta untuk menghentikannya mengambil makanan ringan tersebut.
“Ah, tidak kok, aku sedang mencari orang tua dari pria yang berdiri di sana” ucap Desta sambil menunjuk ke arah Febrianto yang sedang berdiri dan melambaikan tangan didekat pintu keluar.
“Si Febrianto ini, jika berhadapan dengan polisi kenapa nyalinya menciut?” gumam Desta yang sangat penasaran karena dia sudah memperhatikannya sejak awal mereka bertemu.
“Orang tua apa? Tidak ada orang tua di sini” ucap pria yang menarik pergelangan tangan Desta tadi.
“Hoo, kalau begitu tidak keberatan jika melihat-lihat isi kantor ini, ‘kan Rio?” ucap Desta sambil tersenyum kecil dan membacakan nama orang yang menarik pergelangan tangannya itu.
“Orang umum tidak diperbolehkan masuk apalagi melihat-lihat isi kantor..!” ucap Rio.
“Kalau begitu apakah aku boleh tahu siapa saja yang kalian tahan di sini?” tanya Desta yang masih berusaha dengan cara baik-baik.
“Bukan urusanmu, sekarang pergilah..!” teriak Rio dan menghempaskan tangan Desta kembali kepadanya.
“Ayah..! Ibu..! Kalian di sini?” teriak Febrianto yang sudah geram dengan sikap Rio.
Dia sangat ingat dengan wajah Rio yang memukul lalu membawa ayah dan ibunya untuk dipenjarakan di sini.
Febrianto sangat ingin melawan saat itu, namun dia masih memikirkan perasaan kedua orang tuanya jika mereka melihat anaknya melakukan kekerasan di depan mereka, terlebih lagi itu adalah polisi.
__ADS_1
Karena keluarganya sangat menghormati polisi sampai-sampai terlihat seperti mereka takut dengan polisi.
“Kau memanggil siapa? Sudah aku bilang tidak ada orang tua di sini..! Pergilah atau aku akan menangkap kalian dengan tuduhan penyerangan terhadap anggota kepolisian..!” ucap Rio dengan senyuman licik yang terukir di wajahnya.
Karena tidak ada jawaban yang terdengar dari dalam kantor polisi, Desta pun sedikit yakin bahwa orang tua Febrianto memang tidak ada di sini, “Sudahlah Feb, mungkin mereka mengatakan yang sebenarnya”.
“Tidak mungkin..! Aku sangat yakin dialah yang membawa orang tuaku..! Katakan di mana mereka?” Febrianto hampir saja menarik kerah baju Rio sebelum akhirnya dihentikan oleh Desta.
“Jangan gegabah..! Jika kau melakukannya, mereka akan punya bukti kuat bahwa telah terjadi penyerangan terhadap anggota polisi..!” Desta mengulurkan tangannya untuk menghentikan Febrianto.
“Ya, Itu benar..! Sekarang pergilah kalian, pecundang..!” ejek Rio dan dia kembali bermain kartu bersama anggota yang lainnya.
“Aku akan mencari tahu di mana mereka saat ini..!” Febrianto terlihat sangat teguh dan penuh ambisi untuk menolong dan membebaskan kedua orang tuanya yang tidak bersalah.
Tak sampai mereka keluar dari ruangan depan, terdengar suara yang memanggil nama Febrianto dari dalam kantor tersebut.
Semua orang termasuk keempat polisi tadipun terdiam dan menghentikan gerakan mereka dan saling tatap untuk memastikan tindakan apa yang akan diambil oleh masing-masing orang setelah mendengar suara tersebut.
“Jadi, apa kalian yakin tidak ada orang tua yang ditahan di sini?” tanya Desta dengan senyuman jahatnya.
“Sudah aku katakan tadi..! Apa kau tuli, hah?” bentak Rio dengan wajah yang dibuatnya masam untuk menakuti Desta.
“Lalu, bagaimana kau menjelaskan suara yang memanggil nama Febrianto tadi? Jika itu bukan orang tuanya, lalu siapa? Karena dia tinggal hanya bersama orang tuanya di sini” tanya Desta sambil tetap tersenyum.
“Suara apa? Aku tidak mendengar apapun, sekarang pergilah sebelum aku menangkapmu..!” ancam Rio.
“Oh, itu ancaman? Kenapa aku sama sekali tidak takut ya?” jawab Desta dengan santainya.
“Kau..! Oke, kau benar-benar datang untuk mencari masalah dengan kami, jangan salahkan aku jika ada tulang yang patah..!” Rio berdiri dan diikuti dengan ketiga orang lainnya.
“Kita akan mengatakan ini sebagai pembelaan diri terhadap penyerangan dan penghinaan dari orang ini..!” ucap Rio dan ketiga orang lainnya mengangguk mengiyakan atasannya tersebut.
__ADS_1
“Hei ayolah, penyerangan apa? Penghinaan apa? Aku sama sekali tidak menyerang ataupun menghina” walaupun begitu, Desta masih tetap tenang dan senyuman dari wajahnya pun tidak dikendurkan sedikitpun.
“Diam kau..!” mereka berempat pun langsung menyerang Desta dengan membabi buta.
Rio mengambil tongkat pemukul yang tergantung di dinding ruangan, lalu dia maju menyerang Desta.
Namun, semua usaha mereka untuk memukul Desta seperti sia-sia karena Desta bisa dengan sangat mudah menghindari setiap serangan dari mereka.
“Ampun pak polisi..! Jangan paksa aku..!” ucap Desta dengan nada dan ekspresi yang menjijikkan.
“Diam kau..!” teriak Rio dengan kekesalan yang semakin menjadi.
Febrianto yang menyaksikan kejadian itu hanya tertawa melihat tingkah laku bosnya tersebut.
“Feb, kau mau sampai kapan berdiri di situ? Apa kau tidak ingin tahu siapa yang memanggil namamu tadi?” Desta menyuruh Febrianto untuk segera masuk ke dalam ruang tahanan dan memeriksa siapa yang ada di sana.
“Oke bos..!” Febrianto masuk ke dalam dan sempat dihalangi oleh salah satu dari 4 polisi tersebut, tapi karena kegesitannya, dia bisa dengan sangat mudah menghindari dan melewati mereka semua.
Febrianto berlari menuju ruang tahanan dan dengan segera mengiyakan bahwa yang ditahan di sini adalah kedua orang tuanya.
“Ayah, ibu..! Kalian baik-baik saja?” teriak Febrianto sambil berlari menuju ruang tahanan yang mengurung orang tuanya.
“Kami baik-baik saja walaupun sedikit terluka karena kami sempat sedikit disiksa selama 1 hari penuh oleh salah satu dari mereka yang bernama Rio..! Tapi sudahlah, kami sudah memaafkannya, yang terpenting sekarang adalah temukan kebenaran dan keadilan untuk keluarga kita..!” ucapan ayahnya yang begitu menyayat hati Febrianto karena dia tidak tega melihat kondisinya yang babak belur dari wajah hingga ujung kakinya.
“Brengsek..! Beraninya dia melakukan ini kepada orang tuaku..!” Febrianto mengutuk didalam hatinya dan dia kini sangat dendam kepada Rio sampai-sampai seperti ingin meledak oleh luapan kekesalannya.
“Ayah, ibu, aku akan mencari kunci penjara ini dan segera membebaskan kalian..!” Febrianto langsung menelusuri setiap ruangan yang ada didalam kantor polisi ini dan hingga akhirnya tinggal 1 ruangan terakhir untuk dia periksa.
“Kuncinya pasti ada di sini, karena aku tidak melihat mereka berempat memegang kunci” gumam Febrianto dan perlahan dia membuka pintu ruangan tersebut.
Di dalamnya terdapat beberapa kunci yang tergantung di dinding dan seseorang yang terlihat sedang menghitung uang dan di mejanya terpampang papan nama yang bertuliskan “Patrick”.
__ADS_1