
Sesaat kemudian Sebastian mengalihkan perhatiannya dari Denis menuju walikota, dan Denis pun pergi dari sana untuk mendatangi Desta.
“Kau lihat? Aku benar-benar akan menjadi orang yang hebat di perusahaan ini, semua orang termasuk pak Sebastian akan mengagumiku” ucapnya dengan penuh kebanggaan.
“Hoo, sungguh menarik, apa kau merasa seperti itu hanya karena sudah berbicara dengan paman itu?” jawab Desta yang menaikkan sebelah alisnya.
“Tidak sopan, panggil dia tuan Sebastian..! kau tidak punya hak untuk memanggilnya paman sepertiku, karena aku adalah manager divisi teknis di Heir Group..!” bentak Denis dengan rasa bangga yang luar biasa.
“Orang ini kenapa sih? Dari tadi melakukan hal yang klise dan mendatangiku hanya untuk pamer? Aku jadi ragu untuk menerimanya di Heir Group” gumam Desta dalam hatinya.
“Ah maafkan aku, kalau begitu tuan Sebastian, bagaimana?” ucap Desta yang hanya mengikuti keinginan Denis agar dia cepat pergi dari hadapannya.
“Bagus, memang seharusnya seperti itu..!” lalu Denis pun pergi dari hadapan Desta.
“Orang itu aneh sekali, sikap dan tingkah lakunya seperti anak kecil” gumam Desta lagi.
__ADS_1
Tapi belum cukup sampai di situ, sepertinya Denis mengetahui bahwa Andre akan menjadi anak buahnya nanti, jadi dia mendatangi Andre untuk memberitahukannya bahwa dia adalah atasannya.
Desta hanya menepuk dahinya saat melihat itu, dia merasa Sebastian terlalu mempercayai pemberi tes seleksi itu, tapi dia juga tidak ingin ikut campur dalam keputusan mereka untuk memilih karyawan untuk sementara ini, Desta akan meliihat perkembangannya ke depan.
“Baiklah, semoga kau kuat menjadi bawahannya Denis, kawan..!” Desta berbicara kecil dan mengacungkan jempolnya ke arah Andre dari jauh.
“Bos, aku tahu nanti harus membeli mobil apa untukmu” Febrianto mendatangi Desta dan memberi saran setelah dia melihat deretan mobil yang terparkir di parkiran gedung.
“Nah, lalu apa yang akan kau sarankan untukku?” tanya Desta.
“Bagaimana kalau Honda HR-V? Harganya berkisar 291 jutaan saja dan muat hingga 5 orang” Febrianto menunjukkan foto yang dia ambil dari salah satu mobil yang ada di parkiran.
“Oke bos..! Ngomong-ngomong bos, aku sepertinya sudah memikirkan hadiah apa yang aku inginkan” ucap Febrianto yang terlihat begitu yakin.
“Oh ya? Apa itu?” jawab Desta dengan senyum kecil.
__ADS_1
“Aku ingin pulang ke Jogjakarta, ke tempat orang tuaku tinggal saat ini, aku ingin memberikan mereka tempat tinggal yang lebih layak daripada yang sekarang, aku sangat ingin melihat wajah bahagia mereka” jawab Febrianto dengan tatapan yang meyakinkan.
“Haha, dasar bodoh..!” jawab Desta yang langsung tertawa terbahak-bahak.
“Ma-maafkan aku jika permintaanku terlalu berlebihan bos” Febrianto tertunduk meminta maaf karena takut keinginannya tidak akan dikabulkan oleh Desta.
“Kenapa kau meminta maaf? Dan kenapa hal seperti membahagiakan orang saja kau meminta izinku sebagai hadiah untukmu?” ucap Desta dan membuat Febrianto bingung sejenak.
“Maksudnya bos?” tanya Febrianto.
“Itu tidak akan aku jadikan hadiah, itu kebebasanmu Feb..! Jadi, aku masih menyimpan permintaan hadiah untukmu jika kau menginginkannya lain kali” jawaban Desta membuat Febrianto sangat senang, dia tidak menyangka orang seperti Desta akan sangat baik kepadanya.
“Tapi dengan satu syarat..!” sambung Desta.
“Apapun itu akan aku lakukan bos” jawab Febrianto yang mulai merunduk.
__ADS_1
“Aku ingin kau mengajakku pergi ke sana..! Lagipula aku belum pernah ke Jogjakarta” Desta memberikan syarat yang sangat mudah, karena dibalik itu, Desta tidak ingin terjadi sesuatu pada pengawalnya.
“Baik bos” Febrianto merunduk dan berterima kasih kepada Desta.