
Setelah Desta melepaskan semua tali yang mengikat Andre, mereka pun bergegas untuk pergi dari situ, namun langkah mereka terhenti saat suara Denis yang sudah mulai terdengar mengatakan sesuatu.
“Ka..u, akan menye..sali semua ini, uhuk uhuk” dengan seluruh kemampuannya, Denis mencoba berbicara sambil bernafas normal.
“Aku tahu tentang pacarmu, aku sempat uhuk uhuk” ucapan Denis terpotong karena akhirnya dia memuntahkan darah segar dari mulutnya.
“Kau sempat apa?” Desta berbalik dan melihat Denis dengan tatapan tajam.
“Aku sempat melihat wajah pacarmu, dan aku akan mencarinya dan membunuhnya agar kau merasakan apa yang aku rasakan, kehilangan..!” Denis berteriak dan kembali batuk-batuk untuk mengambil nafasnya.
“Aduh, benar-benar tidak sayang nyawa” Andre menepuk dahinya.
“Hoo, kau sempat melihatnya? Bagaimana jika kau tidak bisa melihatnya?” Desta berjalan dengan langkah yang tegas mendekat kepada Denis.
__ADS_1
Desta sangat tidak suka jika ada yang mengancamnya, apalagi yang diancam adalah calon istrinya.
Lalu dia mengambil potongan parang yang dipukulnya tadi dan membawa parang itu bersamanya.
Langkah Desta semakin mendekat dan semakin terasa amarah yang meledak-ledak.
“Aku sudah sangat berbaik hati untuk tidak membunuhmu saat kupukul ulu hatimu tadi, tapi sepertinya aku salah, sepertinya aku memang harus membunuhmu malam ini agar kau tidak membuat masalah lagi” ucap Desta sambil mengayun-ayunkan parang yang dipegangnya.
“Lagipula kau juga tidak diinginkan oleh ayah pacarmu itu kan? Jadi kalau pun kau mati juga tidak ada yang akan mencarimu, aku juga yakin pacarmu itu pasti akan sangat mudah mencari pria lain” ucapan Desta sudah semakin tajam dan sangat menyakitkan hati Denis.
“Ma-mau apa kau?” Denis terlihat sangat ketakutan.
“Oh tidak apa-apa, aku hanya ingin menghukummu karena berani menculik temanku, mengancamku, bahkan kau mengancam untuk membunuh tunanganku, aku akan mengacungkan jempol untuk keberanianmu itu” Desta menarik kerah baju Denis, dan Denis pun meronta-ronta ketakutan lalu berteriak sekencang mungkin untuk meminta tolong.
__ADS_1
“Percuma saja kau berteriak, kita berada jauh dari pemukiman penduduk yang ramai, terima kasih karena sudah memilih lokasi yang bagus” Desta membuat semua orang yang melihatnya menjadi merinding, mereka tidak seperti sedang melihat seorang manusia, mereka seperti melihat seorang iblis yang akan menghukum orang jahat.
“Andre, ambil pipa besi itu dan hancurkan semua ponsel mereka” perintah Desta kepada Andre agar tidak ada satupun orang yang masih sadar merekam kejadian ini.
Andre tak mengatakan apapun dan langsung melaksanakan yang diperintahkan Desta, dia mengambil sebuah pipa besi dari seorang teman Firman yang sudah terkapar lalu berjalan berkeliling untuk mengambil ponsel semua orang termasuk milik Firman dan Denis.
“Prang.. Prang”
Semua ponsel pun kini sudah tidak berbentuk dan menjadi sampah.
“Bagus..! Oke, sekarang kita kembali lagi padamu” ucap Desta yang masih memegang kerah baju Denis.
“Hentikan..! Ma-maafkan aku sudah mengancammu..! Aku yang salah, aku yang sudah terlalu bodoh untuk tidak mengetahui kekuatanmu” Denis mengucapkan semua itu agar dia bisa menyelamatkan dirinya dari amukan Desta.
__ADS_1
“Kau tahu? Aku senang mendengarnya, tapi aku tidak senang dengan kepura-puraan..!” Desta tahu bahwa Denis mengucapkannya karena panik dan tidak dengan kejujuran.