
Agung yang pernah bermasalah dengan Desta tentu saja merasa tidak senang, karena setiap bawahannya harus melalui persetujuannya terlebih dahulu sebelum bergabung, tapi Desta sampai-sampai Albert sendiri yang mengenalkannya pada tim ini.
"Bocah sialan, trik kotor apa yang sedang kau mainkan?" Agung mengutuk di dalam hatinya.
Desta yang tidak merasa melakukan kesalahan kepada siapa pun, hanya duduk dan mengamati seluruh karyawan yang sedang bekerja.
Waktu istirahat pun tiba, Debby mengisyaratkan bahwa dia akan menunggu Desta di kantin, dan Desta hanya mengangguk kecil lalu dia membiarkan Debby pergi terlebih dahulu.
Desta pun menyadari sesuatu, lalu dia pergi ke toilet terlebih dahulu.
Saat tiba di toilet, dia bersandar pada dinding dan berkata, "Mau sampai kapan kau menatap dan mengkutiku seperti kecoa?" Desta menyadari ada seseorang yang memperhatikannya sedari tadi.
"Hmm, ternyata kau menyadarinya, aku hanya akan menanyakan ini satu kali saja, bagaimana kau bisa memperdaya manager Albert?" Agung keluar dari persembunyiannya dan langsung menanyakan rasa penasarannya.
"Kalau aku tidak jawab?" Desta menolak untuk menjawab pertanyaan tidak penting seperti itu.
__ADS_1
"Apa kau lupa kalau aku adalah ketua tim divisi pemasaran, aku bisa dengan mudah membuatmu terlihat jelek di mata atasan dan membuangmu dari tim ini" Agung mengancam dengan hal seperti itu, apa dia bercanda, bahkan Desta tidak menganggap itu sebagai sebuah ancaman.
"Hoo, coba saja kalau memang kau mau..! Aku hanya akan peringatkan kau satu kali, aku sangat tidak suka diancam, jadi perhatikan lagi langkahmu, jangan sampai kau menyesalinya..!" Desta menatapnya rendah, baginya, Agung hanya sebutir debu yang bahkan keberadaannya tidak bisa dianggap.
"Kau..." Agung kehabisan kata-kata.
"Terima kasih sudah membuang waktuku, sekarang menyingkirlah" Desta melangkah maju dan mendekati Agung.
"Beraninya kau..!" Agung melayangkan sebuah pukulan ke arah perut Desta.
"Dasar sampah, kau membuatku kesal, jangan salahkan jika aku memukulmu..!" Agung mengira dia sudah melumpuhkan Desta dengan tinjunya.
"Sialan..! Kau berani menghina.." sebelum Agung menyelesaikan perkataannya, Desta menampar wajahnya hingga dia pun pingsan.
"Banyak omong..!" Lalu Desta meninggalkan Agung yang tergeletak di lantai toilet.
__ADS_1
"Ah sial, Debby pasti akan marah kepadaku karena membuatnya menunggu lama" Desta langsung bergegas menuju kantin.
Sesampainya di kantin, Desta melihat Debby yang sedang duduk menunggu dirinya, dia langsung menghampirinya dengan langkah cepat dan berharap Debby tidak semarah itu.
"Deb, maaf aku tadi sakit perut tidak bisa kutahan" Desta lagi-lagi merasa bersalah karena berbohong pada Debby.
"Duduk, dan jelaskan dari awal..!" wajah Debby tetap terlihat manis walaupun dia sedang marah.
"Hmm, jadi begitulah ceritanya" jawab Desta.
"Bontet..! Aku tidak sedang bercanda..!" Desta tertegun dan langsung menjelaskan semuanya dari awal.
"Aku hanya ingin tahu satu hal lagi, bagaimana kau sekarang bisa masuk menjadi karyawan di sini dengan cepat sedangkan kemarin kau masih seorang satpam?" Debby bertanya dengan tatapan menyelidik.
"Itu karena aku adalah pemegang saham terbesar di perusahaan ini, aku bisa melakukan semua yang kumau untuk memastikan karyawanku adalah yang terbaik." Desta menjawab semua pertanyaan Debby dengan tegas dan jujur.
__ADS_1
"Huh, kau masih saja dengan candaan pemilik saham atau apalah itu, aku merasa sedikit kecewa karena kau tidak bisa jujur padaku..!" Debby langsung berdiri dan meninggalkan Desta dalam diam.
"Haduh, kenapa selalu saja tidak percaya dengan kejujuranku" Desta tertunduk dan menghela nafas panjang.