Si Miliarder Muda

Si Miliarder Muda
Rumah Keluarga Debby


__ADS_3

Sebelum Desta tidur, dia sempat mengirim pesan singkat kepada Sebastian.


"Bagaimanapun caranya, tolong buat Golden Sky bangkrut" tulisnya.


Desta benar-benar tidak akan memberi ampun kepada Herman, dia akan membuatnya menjadi bagian dari rakyat jelata yang selalu dihinanya.


Setelah perjalanan semalaman, mereka pun tiba di stasiun Malang jam 1 malam.


Debby segera menghubungi ayahnya karena tidak akan ada angkutan umum ataupun taksi jam segini.


"Ayah, aku dan Desta sudah sampai di stasiun, bisakah kau menjemput kami?" Debby meminta ayahnya untuk menjemputnya karena jarak dari stasiun ke rumahnya sangat jauh jika harus berjalan kaki.


"Oke, aku pergi sekarang" jawab Retno.


"Mmm.. Hati-hati di jalan ayah..!" lalu Debby mematikan panggilannya.


Sangat berbeda dengan Jakarta, keadaan malam di kota Malang sangat sepi.

__ADS_1


Setengah jam kemudian Retno pun tiba dengan sebuah mobil sedan.


"Terima kasih sudah menjemput kami, paman" ucap Desta.


"Mmm.." Retno hanya menganggukkan kepalanya.


Dia masih memikirkan ancaman yang dilontarkan Herman pada keluarganya, saat ini dia hanya fokus pada hal itu.


"Paman, aku akan membantu kalian untuk menyelesaikan masalah dengan Herman..! Bagaimanapun, penyebab dia marah seperti itu mungkin karena pertengkaran waktu itu denganku." ucap Desta menjelaskan.


Ekspresi Retno berubah menjadi masam dan melihat ke arah Desta dengan tajam


"Entahlah, mungkin saja paman, karena aku tidak merasa memulai perkelahian" ucap Desta."Aku hanya menasehatinya dan berkata bahwa dia tidak pantas untuk Debby..! Dengan sifatnya yang seperti itu, aku tidak yakin Debby akan bahagia bahkan untuk 1 minggu saja bersamanya" lanjut Desta dengan menjelaskan keadaannya.


"Hmm, sebenarnya aku pun setuju denganmu, aku memang kurang suka dengan anak itu, tapi karena perusahaannya yang memegang jalur ekspor impor perusahaanku, jadi dia bisa mengancam aku dan keluargaku dengan mudah, dia bahkan mengancam untuk membuat Debby terpaksa menikah dengannya" Retno berkata dengan suara yang lirih.


Desta dan Debby tersentak mendengarnya.

__ADS_1


Ayah, tenang saja, aku yakin Desta pasti akan membantu kita menyelesaikannya" Debby berusaha membuat ayahnya tenang.


"Kita mungkin belum menjadi keluarga, tapi aku sudah menganggap Debby adalah orang yang paling penting bagiku, dan keluarganya berarti keluargaku juga" Desta menyandarkan dirinya di bangku belakang dan menggenggam tangan Debby.


"Aku paling tidak suka jika ada yang berani mengancamku ataupun keluargaku..!" tatapan Desta menjadi sangat tajam dan Retno yang melihatnya entah kenapa seolah mendapatkan secercah harapan.


"Ya kalau begitu aku akan bergantung padamu, Desta" ucap Retno dengan senyuman tipisnya lalu mempercepat laju kendaraannya agar cepat tiba di rumah untuk beristirahat.


20 menit kemudian, mereka pun tiba di kediaman keluarga Debby.


Rumah itu tidak terlalu besar namun cukup besar untuk dikatakan sebagai rumah mewah di daerahnya.


Karena sudah jam 2 malam semua orang sudah tertidur, dan Debby pun segera pergi ke kamar mandi untuk mandi dengan air hangat.


"Aku nanti akan tidur di sofa saja" ucap Desta yang tidak ingin merepotkan.


"Kenapa? Padahal aku sudah menyiapkan kamar untukmu..!" Retno menjawab dengan nada memaksa.

__ADS_1


"Ah begitu, ya sudah kalau begitu aku akan tidur di kamar itu saja, maaf merepotkanmu, paman" jawab Desta dan dia pun segera menuju kamar yang telah disiapkan untuknya.


Ketika masuk, dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Sebastian.


__ADS_2