
Mereka bertiga mengobrol hingga 1 jam lamanya, mulai dari topik pembangunan perumahan elite yang direncanakan oleh Sebastian, hingga acara pernikahan Desta dengan Debby.
“Jadi, kau sudah siap menjadi seorang suami?” tanya Darius sambil tersenyum menggoda anaknya.
“Mmm, seharusnya aku sudah siap” jawab Desta santai.
Tidak ada yang mengalahkan suasana santai dan bersahabat seperti ini, bagi Sebastian ini adalah hal yang paling berharga meskipun Darius dan Desta bukanlah keluarga kandungnya, tapi dia sudah menganggap mereka seperti keluarga sendiri.
“Ta, bisakah aku bertemu langsung dengan calon menantuku? Aku ingin melihat secara langsung sosok wanita yang akhirnya berhasil membuatmu jatuh hati” tanya Darius.
“Mmm, jika ayah tidak sibuk, datanglah ke sini besok pagi jam 8, aku akan membawamu bertemu dengan Debby. Karena besok adalah hari libur, seharusnya Debby tidak akan terlalu sibuk” jawab Desta.
“Oke, kalau begitu ini adalah sebuah janji, ya..!” ucap Darius sambil mengacungkan jempolnya.
Setelah selesai mengobrol, Darius berpamitan kepada Desta untuk segera pergi ke lokasi pembangunan perumahan elite yang telah dibeli oleh Sebastian atas persetujuannya.
“Karena kau menyukai tinggal di sini, sebentar lagi apartemen ini akan menjadi milikmu..!” bisik Darius pelan di telinga Desta.
“Tidak usah, ayah..! Aku sedang tidak ingin memperbanyak aset yang belum bisa aku kendalikan” jawab Desta menolak pemberian ayahnya.
__ADS_1
“Hoo, dulu, kau pasti akan selalu menerima pemberian dariku tanpa berani menolaknya sekalipun..! Sekarang kau benar-benar sudah bisa menentukan apa yang kau mau dan kau tidak mau” ucap Darius.
“Mmm, aku bukan anak kecil lagi, jadi, tidak perlu lagi memberikan apa yang tidak aku inginkan” ucap Desta dengan tegas.
“Haha, baiklah..! Aku semakin menyetujui pernikahanmu dengan si Debby itu, aku yakin perubahan ini juga berkat dirinya” ucap Darius sambil menepuk pundak Desta.
“Ya sudah, kalau begitu aku tidak jadi bertemu dengan Debby besok, aku sudah sangat yakin..!” sambung Darius.
“Mmm, percayalah pada wanita pilihanku, ayah..!” ucap Desta.
Darius menganggukkan kepalanya dan menyuruh Sebastian untuk segera menyalakan mesin mobil, lalu mereka berdua berangkat meninggalkan area apartemen menuju lokasi pembangunan perumahan elite.
Desta sudah bersiap untuk bertemu dengan Debby setelah tadi malam mengiyakan bahwa dia sedang tidak sibuk.
Dia pun berangkat dengan menggunakan taksi karena mobil pribadinya sedang berada di Heir Group.
“Deb, aku ke sana sekarang” ucap Desta dalam pesan singkatnya.
Desta berencana untuk mengajak Debby ke sebuah area perumahan elite di daerah Jakarta Timur yang akan dibelinya untuk menjadi tempat tinggal mereka nanti setelah menikah.
__ADS_1
1 jam kemudian, Desta tiba di depan area perumahan kontrakan Debby.
“Hehe, kau terlihat lebih cantik dari biasanya” ucap Desta.
“Hmmp..” jawab Debby ketus sambil menggembungkan pipinya.
“Eh? Memangnya aku salah bicara ya?” gumam Desta kebingungan.
“Sudahlah, ayo pergi..!” ucap Debby.
Sebenarnya dia sangat senang saat bertemu dengan Desta, tapi dia sangat malu untuk mengatakannya.
Mereka berdua pun kembali masuk ke dalam taksi dan langsung menuju area perumahan yang berjarak 45 menit dari perusahaan Gloria dan perumahan itu baru saja diresmikan minggu lalu.
Sesampainya di sana, Desta dan Debby langsung menuju kantor pemasaran untuk menanyakan detail mengenai perumahan tersebut.
“Grace, itu ada calon penghuni, kau saja yang melayaninya” ucap salah satu sales yang bertugas saat itu saat melihat Desta dan Debby yang sudah berada di depan pintu masuk yang terbuat dari kaca.
“Kenapa aku? Bukankah seharusnya sekarang giliranmu?” jawab seorang wanita muda yang bernama Grace itu.
__ADS_1
“Huh, aku sudah malas melayani orang yang penampilannya seperti itu..! Paling-paling mereka hanya ingin bertanya-tanya, berfoto di depan rumah mewah untuk pamer saja dan tidak akan membeli, itu sangat mengesalkan..!” jawab wanita yang menyuruh Grace untuk melayani Desta dan Debby dengan nada ketus.