
Desta tiba di rumah sakit dan langsung mempercepat langkahnya untuk menunggu di depan ruang ICU.
Dia pun duduk di kursi tunggu pasien untuk menantikan kabar selanjutnya dari dokter yang menangani Debby.
"Hmm, kejadian seperti ini semakin sering bermunculan saja, apa perlu aku menyewa pengawal lagi?" gumam Desta sambil melihat arloji yang sudah menunjukkan jam 3 pagi dan belum ada kabar apapun dari dalam ruang ICU.
Desta sudah mulai mengantuk tapi tidak bisa tidur sampai Debby dipindahkan ke ruang super VIP yang dibicarakan oleh pihak rumah sakit di telepon tadi.
"Apa aku tanyakan saja ya?" karena tidak bisa ikut masuk ke dalam ruang ICU, Desta memutuskan untuk menanyakan perkembangan kondisi Debby pada suster yang berjaga di meja administrasi.
"Suster, apakah sudah ada informasi terbaru tentang kondisi pasien bernama Debby?" tanya Desta dan suster itu pun langsung mencari informasi dengan komputernya.
"Maaf pak, pasien bernama Debby ada 3 orang, yang Anda maksud Debby yang mana ya?" tanya suster itu.
"Oh, yang aku maksud adalah Debby yang tadi malam masuk ke ruang ICU karena luka tusukan di perut bagian kanan" Desta langsung menyebutkan detail dengan sangat jelas agar tidak ditanyakan lagi karena dia sudah sangat lelah untuk mengulangi detailnya lagi.
"Baik, mohon tunggu sebentar pak" jawab suster tersebut sambil mencari data pasien seperti yang disebutkan Desta.
"Debby yang Anda maksudkan sudah dipindah ruangan sejak 1 jam yang lalu, mari aku antarkan ke ruangannya" ajak suster itu yang langsung berdiri dan berjalan ke arah lorong yang memang khusus ruangan rawat pasien dari kelas ekonomis hingga super VIP.
"Ah, baiklah, jadi, dari tadi aku menunggu hanya sia-sia saja" Desta menepuk dahinya dan menahan emosi karena jika saja dia tidak bertanya, pasti akan sampai pagi dia menunggu seperti orang bodoh di situ.
mereka pun masuk ke dalam lift dan naik ke lantai 3.
"Ting.." pintu lift terbuka, suster itu berjalan duluan untuk menunjukkan ruangan tempat Debby dirawat.
Saat melewati tiap-tiap ruangan di lantai itu, Desta melihat fasilitas yang disediakan di setiap kamarnya, benar-benar layak disebut sebagai super VIP.
Tak lama kemudian akhirnya mereka tiba di ruangan Debby.
"Jika Anda membutuhkan bantuan dari petugas medis, silakan tekan tombol yang ada di meja itu" suster itu menunjuk ke arah meja yang besar yang di atasnya terdapat tombol dengan gambar lonceng berwarna merah.
"Baiklah, terima kasih banyak suster" Desta segera masuk setelah suster itu berbalik badan untuk kembali ke meja administrasi.
"Wah, pantas saja harga kamarnya 20 juta per hari" Desta terperangah setelah melihat isi kamar super VIP tersebut lebih jelas.
__ADS_1
di dalamnya terdapat dapur, kulkas, televisi 80 inci, dan sofa yang cukup lebar untuk 2 orang dewasa tidur di atasnya, kasur tersendiri untuk keluarga pasien, belum lagi dengan menu sarapan yang sangat enak untuk pasien dan keluarga pasien, tidak seperti menu makanan pada kamar kelas ekonomis yang selalu ada bubur rumah sakit yang rasanya khas.
Terlepas dari itu, Desta terlihat sangat bahagia setelah melihat tunangannya tercinta sudah melewati masa kritisnya dan sekarang dalam tahap pemulihan walaupun masih belum sadarkan diri.
"Aku sangat lelah, apa aku tidur dulu saja ya?" Desta melihat kasur seperti surga dunia, akhirnya dia merebahkan tubuhnya yang lelah dan langsung tertidur pulas seperti bayi.
Pagi harinya..
"Bontet, Bontet, Bontet..!" panggil Debby, dan Desta pun terbangun setelah sadar bahwa itu adalah suara Debby, dia segera menghampiri Debby yang masih terpejam saat memanggil namanya.
"Deb, aku di sini" ucap Desta mencoba memanggilnya agar terbangun.
Lalu Debby pun akhirnya terbangun, tapi masih belum sepenuhnya sadar, dia melihat sekitarnya dan melihat wajah Desta yang mencemaskannya.
"Aku tahu..! Kau memang selalu ada di sini, di sampingku" ucap Debby yang meraih tangan Desta dan menggenggamnya.
"Mmm.." jawab Desta sambil menganggukkan kepalanya.
Desta berbalik dan berniat untuk menekan tombol lonceng untuk memanggil petugas medis agar memeriksa keadaan Debby sekarang.
"Baiklah, seharusnya sebentar lagi ada yang datang" gumam Desta dan dia kembali lagi duduk di sebelah Debby.
"Tidak, aku belum memberitahu mereka, rencananya memang setelah kau tersadar baru aku beritahu" jawab Desta.
"Jangan, lebih baik jangan beritahukan mereka, aku tidak ingin membuat orangtuaku khawatir karena Lia saja sampai sekarang belum sadarkan diri" ucap Debby yang melarang Desta.
"Oke, aku akan ikuti maumu" jawab Desta yang menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Debby.
"Ngomong-ngomong, jadinya kau apakan Yanto?" tanya Debby karena dia tahu pasti sifat Desta yang tidak akan tinggal diam jika sesuatu terjadi pada seseorang yang sudah dianggapnya keluarga, apa lagi orang itu adalah Debby tunangannya sendiri.
"Hmm, tidak ada, aku hanya memberinya sedikit hukuman, namun kalau saja saat itu tidak ada telepon dari rumah sakit, dia pasti sudah jadi gelandangan saat ini" jawab Desta santai.
"Sudahlah, kau tidak perlu cemas, mulai sekarang aku berjanji tidak akan membuat orang lain menjadi cacat jika dia tidak keterlaluan..!" sambung Desta untuk meyakinkan Debby.
"Bagus, aku suka Bontet yang sekarang" ucap Debby sambil menyentuh ujung hidung Desta dengan telunjuknya.
__ADS_1
"Tok..Tok.." suara pintu diketuk dan seseorang dengan pakaian serba putih pun masuk.
Dia adalah dokter Ali yang menangani pencabutan pisau yang menancap pada perut Debby sebelumnya.
"Ah dokter, terima kasih banyak..! Kau telah menyelamatkan harta karunku" ucap Desta yang langsung menyambut dokter Ali dengan terima kasih sambil mengacak-acak rambut Debby.
Debby tersipu malu mendengar ucapan Desta barusan, secara spontan dia pun mencubit perut Desta dan membuatnya terkejut.
"Hehe, aku pun merasa senang kalau begitu..! Oh iya, jika kondisinya semakin membaik, seharusnya 3 hari lagi sudah boleh pulang" ucap dokter Ali.
"Mmm, terima kasih dokter" jawab Debby yang menganggukkan kepalanya.
"Padahal memang aku mau menanyakan berapa lama lagi Debby harus dirawat, ternyata dokter bisa membaca pikiranku" ucap Desta sambil tertawa.
"Haha, ya sudah kalau begitu aku pamit dulu karena masih ada jadwal kunjungan pasien di ruang sebelah" dokter Ali pamit dan keluar dari ruangan.
"Deb, aku berencana untuk menyewa pengawal untukmu, menurutmu apakah itu tidak apa-apa?" Desta berniat untuk membuat Debby lebih aman lagi ketika dia sedang tidak berada di dekatnya.
"Haha, kau terlalu berlebihan, Bontet..! Justru kalau kau melakukan itu, aku akan menjadi incaran penjahat karena mereka akan berpikir aku adalah orang penting yang banyak uangnya" jawab Debby menolak ide Desta tersebut.
"Hmm, kurasa kau benar juga, tapi bagaimanapun aku mau kau tetap aman, Deb" keluh Desta yang masih menginginkan pengawalan kepada Debby.
"Aku aman kok kalau bersamamu..!" jawab Debby.
"Tapi kalau aku sedang tidak berada di sisimu bagaimana? Siapa yang akan menjagamu?" Desta benar-benar seperti trauma atas kejadian tadi malam yang membuatnya hampir menjadi gila.
Debby menutup mulut Desta dengan jari telunjuknya agar tidak berbicara banyak lagi, dia benar-benar tidak ingin Desta panik seperti itu karena dia sudah terbiasa menjaga dirinya sendiri.
"Kau itu terlalu takut, tenang saja, aku tidak akan kenapa-kenapa" ucap Debby untuk membuat Desta tenang.
"Oke aku percaya kalau begitu" jawab Desta lalu mengacak-acak rambut Debby dan membaringkannya agar dia beristirahat.
"Aku akan menemui paman Sebastian, kau istirahat saja dulu" ucap Desta dan Debby menganggukkan kepalanya sebelum Desta menutup pintu dan pergi menemui Sebastian.
"Aku masih harus menepati janjiku pada mereka" Desta bergegas menuju Heir Group untuk menemui para gangster tadi malam.
__ADS_1
Para gangster itu tinggal di dalam area perusahaan Heir Group sebagai penjaga keamanan di sana, mereka disewa oleh Sebastian sejak awal pembangunan gedung Heir Group.
"Tapi aku sebaiknya menghubungi manager Robert terlebih dahulu jika ingin membawa mereka semua makan di sana agar dia bisa menyediakan tempat untuk kami semua" ujar Desta yang kemudian mengirimkan pesan singkat pada Robert.