
“Oke, kau tunggulah sebentar” ujar Widodo, lalu dia mengambil ponsel miliknya untuk mengecek semua akun tabungan daruratnya.
“Mmm, aku akan menunggu” jawab Desta dengan santai.
“Bos?” tanya Febrianto.
Dia bingung dengan ucapan Desta barusan, apa benar jika Widodo bisa membayar seperti yang dikatakannya, Desta benar-benar akan melepaskannya.
“Tenang saja, tidak mungkin aku melakukan ini kalau tidak yakin dengan kinerja timku..!” bisik Desta kepada Febrianto, dan akhirnya Febrianto pun merasa tenang.
“Karena ini adalah salah satu rencanamu, aku percaya kau tahu apa yang sedang kau lakukan, bos..!” Febrianto menganggukkan kepalanya dan kembali melihat ke arah Widodo yang sedang panik saat melihat rekening tabungan daruratnya.
“Hilang..! Hilang..! Semuanya hilang..!” ucap Widodo yang semakin putus asa ketika mengetahui usahanya untuk mengumpulkan uang selama ini sia-sia.
“Bagaimana?” tanya Desta sambil menaikkan alisnya.
“K-kau benar-benar iblis..! Bagaimana kau tega melakukan ini kepadaku? Aku tidak mengenalmu dan kau pun tidak mengenalku, hanya karena bocah sampah ini adalah temanmu kau sampai mau melakukan ini untuknya?” Widodo berteriak sekeras mungkin saat memarahi Desta, saat ini hanya rasa kesal, putus asa, dan kebencian terhadap Desta yang ada dihatinya.
__ADS_1
“Oh, omong-omong soal iblis, bukankah yang iblis sebenarnya adalah kau? Demi mendapatkan apa yang kau mau, kau menyuap para polisi kotor itu untuk menangkap keluarganya dengan tuduhan palsu..!” ucap Desta.
“Tapi, untung saja para polisi korup itu sudah aku bereskan dan sekarang mereka sudah mendekam di penjara, terima kasih kepada jenderal Winoto..!” sambung Desta, dia menjelaskan alasan kenapa Patrick tidak menjawab panggilan Widodo sebelumnya.
“Je-jenderal Winoto kau bilang? Apa hubunganmu dengan orang besar seperti itu?” Widodo sedikit terkejut mendengar ucapan Desta yang mengatakan seolah-olah dia sangat dekat dengan jenderal nomor 1 di Indonesia itu.
“Oh tidak ada, aku hanya benar-benar berteman baik dengan pak jenderal saja..!” jawab Desta dengan santainya.
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu mobil yang ditutup dari arah luar rumah Febrianto.
Saat Febrianto ingin membuka gorden penutup jendela, sebuah peluru masuk menembus melalui kaca jendela dan menancap di bahu Febrianto.
“Dor.. Dor.. Dorr”
Tembakan bertubi-tubi menghujani rumah Febrianto yang menembus jendela dan pintu masuk karena terbuat dari kaca dan kayu tipis, sedangkan peluru yang mengarah ke tembok tidak menembus sampai ke dalam karena berbahan beton padat.
Semua orang termasuk Widodo merunduk di lantai.
__ADS_1
“Bajingan, kau mencoba untuk membunuhku, ya?” teriak Widodo kesal kepada Desta karena mengira orang-orang yang menembak itu adalah orangnya Desta.
“Tunggu, kau berpikir aku yang menyewa orang-orang itu?” ucap desta.
“Memangnya apa lagi? Kau sengaja membuatku duduk didekat jendela agar tertembak lebih dulu, ‘kan?” tuduh Widodo.
“Begini, jika memang aku ingin membunuhmu, aku tidak perlu menyewa orang sebanyak itu, aku bisa melakukannya sendiri..!” jawab Desta.
“Kalian yang di dalam, lepaskan bos Widodo atau aku akan meledakkan seluruh rumah ini..!” teriak salah satu orang yang menembaki mereka.
“Hei pintar, kalau kau meledakkan rumah ini, untuk apa kau repot-repot datang ke sini? Bos kesayanganmu juga akan ikut meledak kalau kau lakukan itu..!” jawab Desta yang berbalik memarahi pria tersebut.
“Benar juga..! Hmm, kalau begitu, cukup lepaskan bos Widodo saja dan kami akan segera pergi dari sini..!” balas pria tersebut.
Widodo yang mendengarkan percakapan Desta dan yang ternyata bawahannya tersebut pun hanya bisa menepuk dahinya.
“Ternyata aku punya bawahan yang bodohnya keterlaluan..!” gumam Widodo menahan rasa malunya.
__ADS_1