
“Haha, kau benar-benar sudah tidak sabar ya” jawab Kamandanu yang juga memasang kuda-kuda untuk bersiap.
“Baiklah, ini akan menjadi pertarungan sengit antara master dan muridnya” ucap Desta sambil tersenyum senang dan menyuruh Sebastian untuk menonton dari kursi penonton sambil merekam pertarungan mereka dengan kamera ponselnya.
Lalu mereka pun memulai pertarungannya.
Desta melangkah maju lebih dulu dan segera mendekat kepada Kamandanu, namun Kamandanu masih terlihat santai menanggapi kecepatan Desta.
"Desta, bagaimana kemampuanmu sekarang? Jangan sampai aku mengalahkanmu dengan mudah, ya..!" ucap Kamandanu.
Kamandanu mulai bergerak untuk menghindari pukulan tangan kanan Desta dan merunduk untuk mendekati tubuh Desta.
“Buk.. Buk..”
2 pukulan yang sangat cepat dan keras mendarat ke arah wajah Desta dan membuat Desta melangkah mundur sejauh 5 meter.
“Haha, sudah seharusnya seperti ini, kau memang master idolaku..!” ucap Desta yang merasa senang karena sudah lama sekali sejak terakhir kali wajahnya bisa dipukul oleh orang lain.
“Kau juga, kecepatanmu tidak berkurang sediikitpun” jawab Kamandanu.
Lalu mereka pun melanjutkan pertarungan mereka.
“Buk.. Buk”
“Buk.. Buk”
__ADS_1
Pukulan demi pukulan terdengar sangat keras dan tak terasa pertarungan mereka sudah berlangsung selama 1 jam, dan sekarang sudah saatnya para karyawan pulang.
Mereka berdua sangat menikmati pertarungannya sampai-sampai tidak menyadari bahwa mereka sudah di tonton oleh lebih dari 200 orang karyawan yang ingin mendaftarkan diri sebagai murid Kamandanu.
“Wah, apakah guru kita nanti ada 2 orang?”
“Mereka berdua sangat kuat, sampai sekarang aku masih tidak melihat siapa yang lebih kuat”
“Pertarungan ini membuatku tidak sempat mengambil nafas”
“Aku tidak peduli dengan hadiahnya..! Aku ingin menjadi murid di sekolah beladiri ini..!”
Semua orang yang menonton pertarungan itu bersorak-sorak dan membuat suasana gedung olahraga itu terdengar seperti sedang berlangsung sebuah kejuaraan olimpiade.
“Ah ternyata sudah banyak orang yang datang” ucap Desta yang terengah-engah.
“Tidak mungkin..! Aku masih ingin memenangkan latih tanding ini” Desta bersikeras untuk memenangkannya, karena jika dia kalah, cubitan pedas dari Debby sudah menantinya dan memikirkan itu saja sudah membuatnya merinding seketika.
“Baiklah, aku senang kau tidak mundur walaupun kau sudah terlihat kelelahan” ucap Kamandanu.
“Haha, kau sendiri sudah sangat terlihat kehilangan nafasmu kak” balas Desta.
Mereka berdua sudah terlihat sangat kelelahan karena pertarungan tanpa henti selama 1 jam.
Lalu Desta memasang kuda-kuda yang terlihat aneh dan Kamandanu mengenali kuda-kuda ini.
__ADS_1
“Ah langkah sunyi, akhirnya aku melihat gerakan ini lagi” ucap Kamandanu dengan keras.
“Hehe, tapi ini bukanlah langkah sunyi seperti yang kau ingat” jawab Desta dengan senyuman jahatnya.
“Hoo, kalau begitu mari kita lih...” Kamandanu terkejut dengan kecepatan yang dimiliki Desta saat melangkahkan kakinya.
Baru saja dia melihat Desta berdiri dengan kuda-kudanya sejauh 8 meter di depannya, dan saat dia mengedipkan matanya, tiba-tiba Desta sudah menghilang dari pandangannya dan berada tepat di samping kanannya.
Tanpa sempat bergerak dan bereaksi, wajah Kamandanu pun terkena pukulan tangan kiri Desta dan dilanjutkan dengan pukulan tangan kanan lalu begitu seterusnya hingga 10 detik kemudian.
Kanan, kiri, kanan, kiri, pukulan tanpa henti yang dilakukan oleh Desta terlihat seperti gerakan seorang petinju kelas dunia yang dinamakan “Dempsey Roll”.
Kamandanu terkena pukulan telak oleh Desta tanpa bisa menahannya, hanya karena tubuhnya yang sudah dilatih selama berada di hutan Kalimantan, dia masih bisa berdiri setelah akhirnya berlutut menahan agar tubuhnya tidak tumbang.
“Hah.. Hah.. Hah.. Kemampuanmu ternyata sudah berkembang sangat pesat” ucap Kamandanu dengan wajah yang sedikit memar.
“Kau juga sangat mengesankan kak, setelah terkena pukulanku kau tidak tumbang seperti terakhir kali” jawab Desta sambil terengah-engah karena gerakan langkah sunyi yang digabungkan dengan Dempsey Roll sangat menguras tenaga.
Akhirnya Kamandanu mengakui kekalahannya dan Desta pun terduduk karena kelelahan.
Sorak-sorai para penonton memenuhi gedung olahraga tersebut dan semuanya terlihat sangat tidak sabar untuk bergabung dengan sekolah beladiri ini.
“Ah ternyata sudah banyak orang yang datang melihat” Desta dan Kamandanu melihat ke sekelilingnya.
“Tuan muda” Sebastian datang dan memberikan ponsel yang digunakannya untuk merekam pertarungan mereka.
__ADS_1
“Terima kasih, Paman” jawab Desta sambil memaksakan dirinya untuk berdiri.