Si Miliarder Muda

Si Miliarder Muda
Aku Sudah Punya


__ADS_3

"Tapi kak Deb, kak Herman sekarang sudah menjadi seorang bos besar di Malang, aku yakin jika kau menerimanya, kehidupanmu akan terjamin, terlebih dia sangat menyukaimu, kak" Lia menyambung omongan ibunya untuk meyakinkan Debby sekali lagi.


"Hei, anak kecil tidak perlu ikut obrolan orang dewasa" Debby berkata seperti itu agar Lia yang masih berumur 16 tahun tidak ikut-ikutan menjodohkannya dengan Herman.


"Huh, kan kalian mengobrolnya di dekatku, jadi aku ikut mendengarkan dong..!" ucap Lia sambil cemberut.


Retno dan Anna hanya tersenyum melihat tingkah kakak beradik itu, lalu Debby kembali melihat Retno dan Anna.


"Ayah, Ibu, aku sudah punya calon..! Jadi tolong jangan bicarakan tentang Herman lagi..!" Debby menegaskan agar dia terbebas dari bahan obrolan seperti ini lagi.


Debby pun segera pamit pergi ke kamarnya untuk tidur dan meninggalkan keluarganya yang masih menonton televisi untuk menghindari pertengkaran karena masalah sepele.


Keesokan harinya..


"Deb, hari ini aku ingin bertemu denganmu apakah bisa?" Desta mengirim pesan singkat kepada Debby dan hanya mendapatkan jawaban yang sama seperti kemarin.


Akhirnya dia memutuskan untuk pergi menemui Sebastian sepulang kantor, dan dia pun menghubungi Sebastian.


"Paman, ada yang ingin aku bicarakan, bisakah kita bertemu di Central Garden jam 7 malam ini?" Desta ingin membicarakan banyak hal dengan Sebastian, mulai dari masalah kecupan Debby hingga cara mengelola sebuah perusahaan agar dia bisa mandiri nantinya.

__ADS_1


"Aku akan selalu bisa jika tuan muda yang memintanya" Sebastian langsung mengiyakan permintaan Desta.


"Baiklah, terima kasih paman, kau memang sangat bisa diandalkan..!" Desta menutup panggilannya dan segera berangkat menuju perusahaan Dahlia.


Tak terasa waktu pun sudah menunjukkan jam 6 sore, saatnya Desta pulang, dia pun segera memesan taksi menuju Central Garden.


"Paman, aku dalam perjalanan menuju Central Garden" Desta menghubungi Sebastian.


"Aku akan menunggumu di lantai 3, tuan muda" Ternyata Sebastian telah tiba sejak jam 5 sore dan dia sedang menikmati secangkir kopi sembari menunggu tuan mudanya.


"Mmm.." Desta mengangguk dan menutup panggilannya.


Mereka pun akhirnya memulai obrolan, "Paman, sudah 2 kali aku mendapatkan kecupan dari Debby dan aku masih tidak tahu harus bagaimana, bisakah kau memberikan saran?".


"Haha, tuan muda, aku hanya akan memberi saran, tetaplah seperti itu, ikuti saja karakter dirimu dan jangan memaksakan harus bagaimana menyikapinya" Sebastian menjawab sambil meminum teh hijau yang masih hangat.


"Itu tidak membantuku sama sekali, paman" Desta menghela nafas dan melihat Sebastian yang hanya tertawa kecil.


"Kalau begitu aku ingin bertanya, sudah berapa perusahaan yang kontrak kerjasamanya paman terima?" tanya Desta.

__ADS_1


"Sudah tuan, hingga hari ini ada sekitar 35 perusahaan yang sudah tahap tanda tangan kontrak kerjasama" jawab Sebastian.


"Apakah perusahaan Dahlia salah satunya?" Desta penasaran setelah tidak sengaja mendengar perkataan dari Dendi sang direktur dari perusahaan Dahlia saat dia sedang beradu argumen dengan Jenny.


"Hmm, untuk yang satu itu, aku masih memikirkannya tuan, karena aku sedikit tidak suka dengan caranya bernegosiasi" Sebastian mengangkat bahunya.


"Baiklah, itu akan menjadi tugasmu untuk memilah paman, aku percayakan padamu" Desta tidak menanyakan tentang kerjasama dengan perusahaan Gloria karena secara otomatis berada di bawah naungan Heir Group.


Desta melanjutkan obrolannya dengan sebastian hingga jam 9 malam, dan dia merasa sudah terlalu malam, akhirnya dia berpamitan untuk kembali ke apartemen kepada Sebastian.


Setibanya di apartemen, Desta berjalan ke lobby dan menemukan Albert yang berdiri di dekat pintu masuk, dia sedang menunggu kedatangan Desta.


"Desta, tipuan macam apa yang sedang kau lakukan saat ini?" Albert berteriak sambil mendekatinya, namun Desta hanya mengernyitkan alisnya dan mengabaikan Albert.


"Hei, tunggu dulu..!" Albert menarik bahu Desta dari belakang lalu terdiam saat Desta melihatnya dengan tatapan tajam.


"Bagaimana keadaan gigimu?" Pertanyaan itu membuat Albert bergidik merinding dan teringat kejadian sebelumnya, akhirnya dia melepaskan tangannya dari pundak Desta dan tertunduk meminta maaf.


"Sudah kuduga, semoga cepat sembuh ya..!" Desta berjalan membelakangi Albert dan melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Terima kasih, tuan Desta" Albert merunduk dengan rasa takut yang luar biasa hingga badannya gemetaran, kini dia tidak berani membuat masalah dengannya.


__ADS_2