Si Miliarder Muda

Si Miliarder Muda
Rasanya Seperti Tersengat Listrik


__ADS_3

“Ada satu wanita yang tidak akan menginginkan hal itu..!” gumam Desta, yang dimaksudkan olehnya adalah Debby, wanita terbaik baginya.


“Ehem.. Jadi, bagaimana caranya kami bisa bertemu dengan bos Widodo untuk tugas pertama kami?” ucap Desta berusaha untuk kembali ke topik utama tujuan mereka.


“Oh, maafkan aku yang terlalu terbawa suasana..! Baiklah, jika kalian ingin bertemu dengan ayah, datanglah ke tempat ini, di sana kau akan melihat banyak sekali bawahannya yang sedang berjaga dan di sana juga merupakan tempat untuk perjudian dalam bentuk pertarungan” ucap Lisna sambil memberikan alamat kepada Desta dan Febrianto.


“Ayah selalu datang ke tempat itu untuk berjudi dan mengobrol dengan saudara kandungnya” sambung Lisna seraya menyilangkan kakinya.


“Jadi, kami akan bisa langsung bertemu dengan bos Widodo di sini ya?” tanya Febrianto kembali.


“Kau sudah dengar yang aku katakan tadi bukan?” jawab Lisna yang mempertegas bahwa dia sudah mengatakannya tadi, jadi, tidak perlu diulangi lagi.


“Apakah ada jam tertentu bos Widodo datang ke sini? Maksudku, tadi Anda bilang bahwa bos Widodo selalu datang ke tempat itu untuk berjudi, ‘kan? Jadi, yang aku tanyakan adalah jam berapa biasanya bos Widodo datang ke tempat itu?” tanya Desta dan Lisna mulai mengerutkan dahinya karena merasa sedikit curiga.

__ADS_1


“Memangnya kenapa jika kalian harus menunggu ayah untuk datang? Bukankah kalian ini anak buahnya? Seharusnya kalian yang menunggu, bukan bos yang menunggu..!” ucap Lisna dengan nada yang sedikit membentak.


“Ah untuk itu maafkan aku karena tidak berbicara dengan jelas..! Maksudku adalah, aku hanya tidak ingin dipukuli oleh penjaga di sana karena dikira orang luar, padahal kami adalah salah satu dari mereka” Desta mencari alasan yang menurutnya masuk akal untuk menghilangkan kecurigaan Lisna terhadap mereka berdua.


“Oh, jika itu alasannya tenang saja, aku akan memberikan kalian emblem ini untuk ditunjukkan kepada mereka” Lisna mengambil sebuah kain berbentuk bulat dnegan warna merah dan hitam di garis pinggirannya.


“Ini tanda bahwa kalian adalah bagian dari bawahan ayah..!” ucap Lisna sambil menyerahkan 2 emblem tersebut kepada Desta dan Febrianto.


“Baiklah, terima kasih banyak nona Lisna” ucap Desta sambil merunduk dan mereka berdua pun berdiri untuk segera pergi dari rumah tersebut.


Lalu dia berjalan mendekati Febrianto dan mengelus pundak hingga pinggangnya.


“Eh, nona Lisna?” Febrianto kebingungan dengan perlakuan Lisna yang tiba-tiba seperti itu.

__ADS_1


“Tadi kau berkata bahwa aku membuatmu bergairah, ‘kan? Kebetulan ayah sudah lama tidak mengunjungiku, apa kau mau mencobanya? Kau terlihat sangat kekar dan kuat, aku rasa kau bisa mengimbangiku nanti” tangan Lisna menjadi semakin liar dan dia berbicara dengan nada yang sangat menggoda, sampai-sampai Febrianto seketika itu juga merasakan bahwa celananya menjadi sempit.


“E-eh anu.. itu.. aku” Febrianto sedang berusaha dengan keras melawan gejolak yang ada didalam jiwanya.


Desta yang pernah mengalami hal serupa saat di kota Malang, hanya tersenyum geli melihat reaksi yang dibuat oleh Febrianto.


“Maaf nona Lisna, kami akan segera pergi agar tidak terlewat kesempatan untuk bertemu dengan bos Widodo” Desta menarik Febrianto yang berdiri mematung sambil menutupi area vital karena malu.


“Ya, maaf nona, kami harus segera pergi, terima kasih atas semuanya..!” Febrianto tersenyum dan merunduk untuk berpamitan lalu mempercepat langkahnya pergi dari rumah tersebut.


“Huh, hampir saja..!” Febrianto mendengus lega setelah kabur dari belaian Lisna.


“Haha, bagaimana? Rasanya seperti tersengat listik, ‘kan?” ucap Desta mengejek Febrianto.

__ADS_1


“Sudahlah bos, aku tidak ingin mengingatnya, walaupun di satu sisi aku sangat tergoda” jawab Febrianto.


Mereka berdua masuk ke dalam van berwarna hitam yang dikendarai tadi, dan segera pergi dari kawasan tersebut menuju alamat yang diberikan oleh Lisna.


__ADS_2