Si Miliarder Muda

Si Miliarder Muda
Kalau Saja Dia Bukan Atasan


__ADS_3

"Baik tuan, khusus hari ini aku akan mengosongkan restoran untukmu" jawab Robert dalam pesan singkatnya.


Setelah membaca itu, Desta menginjak gas dalam-dalam agar tiba di Heir Group lebih cepat.


Namun Desta harus kembali memelankan laju kendaraannya hingga dia pun menepi di bahu jalan, ada sebuah panggilan masuk di ponselnya, itu adalah telepon dari Febrianto.


"Ada apa Feb?" jawab Desta.


"Bos, aku ingin meminta ijinmu untuk menggunakan uang yang kau berikan padaku agar aku bisa membantu masalah kedua orang tuaku" ucap Febrianto.


"Kau ini kenapa? Uang itu kan memang punyamu, kenapa harus minta ijin padaku?" tanya Desta keheranan, kenapa Febrianto harus meminta ijin padanya.

__ADS_1


"Soalnya aku selalu diajarkan oleh orang tuaku untuk minta ijin jika ingin menggunakan uang pemberian dari siapapun" jawab Febrianto dengan tertawa kecil, dia tahu bahwa ini memang terdengar aneh, tapi itu adalah ajaran kedua orang tuanya dan dia tidak ingin mengecewakan mereka.


"Konyol sekali, tapi ya sudah aku mengijinkanmu untuk menggunakan uang pemberianku sesukamu" ucap Desta sambil menepuk dahinya.


"Hehe, terima kasih bos..! Ngomong-ngomong, aku akan kembali ke Jakarta segera setelah masalah yang menimpa orang tuaku selesai, bos" ujar Febrianto yang merasa tidak enak pada Desta karena memang sudah terlalu lama dia tidak menjalankan tugasnya sebagai pengawal.


"Mmm, bantu dulu orang tuamu sampai tuntas, aku tidak tahu masalahnya tapi aku tahu kau bisa menyelesaikannya" jawab Desta kemudian dia matikan panggilan telepon tersebut dan kembali menginjak pedal gas dalam-dalam.


Setelah sampai, dia langsung disambut oleh kerumunan orang yang sedang menonton sebuah perkelahian antar karyawan.


Desta berjalan mendekati kerumunan tersebut dan melihat keributan tersebut ternyata disebabkan oleh seorang karyawan yang berkelahi dengan atasannya.

__ADS_1


"Kau tidak berhak mengatakan hal seperti itu tentang ayahku..!" teriak pemuda paruh baya yang sepertinya adalah karyawannya, dan dia sedang menduduki tubuh seorang yang seharusnya itu adalah atasannya sambil menggenggam kerah bajunya dan mengepalkan tangannya yang bersiap untuk memukul wajah si atasan.


"Cih, apa yang aku ucapkan memang benar kan? Ayahmu hanyalah seorang tukang cuci piring di sebuah restoran murahan, jadi, kau tidak berhak untuk berdiri sejajar dengan para petinggi di sini..!" teriak pria yang kelihatannya sedang tertahan oleh berat tubuh pemuda yang mendudukinya.


"Ada apa ini bro?" tanya Desta kepada salah satu orang yang ikut menonton keributan itu.


"Ah entahlah awalnya bagaimana, tapi aku sempat mendengar kalau orang yang sedang dipukuli itu tidak terima kalau pemuda yang ada di atasnya itu naik jabatan sebagai salah satu petinggi di Heir Group, karena dia bilang orang yang pantas menjadi petinggi di sini hanya orang yang berasal dari keluarga terpandang saja..! Aku yang mendengarnya saja ingin rasanya memukul wajah orang itu" jawab orang tersebut yang juga merasa kesal.


"Oh oke terima kasih" Desta sudah cukup bosan dengan hal meremehkan seperti ini, apalagi saat dia melihat pria yang sedang dipukuli itu adalah pria yang sama saat dia keluar dari ruang utama gedung para dewan.


"Ah ternyata dia lagi..! Seperti tidak ada habisnya orang-orang dengan watak seperti ini dimana pun aku berada" gumam Desta sambil menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Bro, yang sedang memukuli itu siapa namanya?" tanya Desta kepada orang lain lagi yang juga sedang menonton keributan itu.


"Oh dia namanya Rezky, aku tahu memang ayahnya seorang tukang cuci piring di sebuah restoran, karena aku sering makan di restoran tersebut, tapi bukan berarti dia bisa menghina seperti itu..! Kalau saja dia bukan atasan, aku pasti sudah ikut memukulinya..!" jawab orang itu dengan nada yang sangat kesal.


__ADS_2