Si Miliarder Muda

Si Miliarder Muda
Kau Itu Jelek


__ADS_3

Di saat mereka semua lengah, Desta pun sudah berada sangat dekat dengan salah satu dari mereka dan “Hei, kalian tidak seharusnya berpaling dari musuh..!” ucap Desta mengejutkan mereka semua.


Karena pencahayaan yang kurang terang, mereka kesulitan untuk menemukan keberadaan Desta, dan karena prinsip kerja langkah sunyi adalah bersembunyi di titik buta lawannya, mereka semua seperti mendengar suara hantu.


“Buk.. Buk..” suara pukulan terdengar dengan sangat jelas tapi tidak ada yang tahu dari mana arahnya.


“Buk.. Buk..” 3 orang pun sudah dilumpuhkan oleh Desta.


“Sialan..! Tembak apapun yang bergerak selain kalian..!” teriak ketua dari kelompok tersebut dan Febrianto yang mendengar ucapannya, langsung kembali bersembunyi agar tidak terkena peluru nyasar.


“Bos, kau benar-benar sudah gila..! Melawan mereka semua yang jumlahnya lebih dari 10 orang dan semuanya bersenjata sedangkan kau sendiri hanya menggunakan tangan kosong” Febrianto benar-benar salut dengan keberanian yang dimiliki oleh Desta.


Karena, jika dipikirkan dengan logika manusia normal, siapapun tidak akan ada yang mau melawan orang yang bersenjata dengan tangan kosong dalam jumlah banyak sekaligus.


“Arrrrghhhh..!” suara teriakan Widodo yang sudah mulai tersadar dari pingsannya mengagetkan Febrianto saat itu.

__ADS_1


“Kambing..! Kalau ingin bangun, jangan teriak begitu dong..!” Febrianto memarahi Widodo karena terkejut dengan teriakan Widodo.


“Kau..! Kenapa aku berdarah? Kau apakan aku?” Widodo terus menerus menanyakan hal yang sama dalam keadaan panik.


“Ssshhh... diamlah..!” Febrianto meletakkan jari telunjuknya di bibir dan menyuruh Widodo untuk diam.


“Pertama, luka yang kau alami itu bukan karena aku, anak buahmu yang sudah menembakmu..! Yang kedua, kau itu jelek..! Ya, pokoknya kau jelek..!” ucap Febrianto dengan wajah cemberut.


“Cing.. cing..” suara peluru nyasar yang mengenai tembok mengagetkan Febrianto dan akhirnya dia memutuskan untuk membuat Widodo kembali tertidur.


Febrianto melingkarkan tangannya di area leher Widodo dan menguncinya, dengan begitu, Widodo akan segera kehilangan kesadarannya lagi karena kekurangan aliran darah yang mengalir ke otaknya.


“Huh, kalau kau bangun bisa sangat menyusahkan nantinya” Febrianto kembali memfokuskan pengamatannya kepada kelompok yang menyerangnya tadi.


Namun, saat dia melihat ke arah kelompok tadi, sudah tak ada satupun yang berdiri.

__ADS_1


Semuanya sudah terbaring di lantai dalam keadaan pingsan.


“Hmm, karena aku sudah pernah terluka oleh tembakan sebelumnya, jadi, aku tidak ingin tertembak lagi” dengan pengalaman saat melawan Herman sebelumnya, Desta sudah mengalahkan mereka semua tanpa luka sedikitpun.


“Feb, ada peluru yang mengenaimu?” Desta berbalik dan berjalan ke arah Febrianto.


“Tidak bos, aku dan si Widodol ini aman..! Tapi ada yang aneh, bos” Febrianto menggendong Widodo lalu berdiri.


“Mmm, dengan suara tembakan seperti tadi, sangat aneh jika para penjaga di depan tidak mendengarnya. Tapi, dari tadi aku tidak melihat satupun penjaga yang masuk dari balik pintu itu, ini memang aneh” Desta mengerti maksud Febrianto, dia pun berjalan mendekati jendela dan melihat ke sekelilingnya.


“Sepi? Apa di sini memang sepi jika sudah larut seperti ini, Feb?” tanya Desta, karena ini adalah kampung halamannya, seharusnya Febrianto lebih paham dengan kondisi di kota ini.


“Entahlah bos, aku sudah merantau sejak umurku 16 tahun, dan sekarang aku sudah berumur 34 tahun, aku tidak tahu kebijakan apa yang ada di kota ini sekarang” Febrianto menggelengkan kepalanya karena tidak mengetahui apapun soal itu.


Desta kembali melihat ke depan dan sekilas dia melihat sebuah pergerakan dari balik pohon.

__ADS_1


“Oh, jadi begitu?” Desta menganggukkan kepalanya dan mundur perlahan dari jendela.


“Feb, kita cari jalan lain” Desta berjalan ke arah Febrianto dan mengatakan alasannya adalah mereka sudah dikepung.


__ADS_2