Si Miliarder Muda

Si Miliarder Muda
Dia Memang Pacarku


__ADS_3

Malam pun tiba dan Desta sudah berada di apartemennya, dia berbaring sejenak di kasur yang sangat nyaman itu.


Dia berpikir tentang banyak hal saat ini.


Mulai hari ini dia memutuskan untuk berhenti berbohong kepada Debby, tapi, setiap kali dia berkata jujur, Debby selalu tidak mempercayainya.


"Rasanya sama saja seperti mengajarkan seorang atheis tentang konsep ketuhanan, tidak akan pernah percaya jika tidak melihatnya sendiri" Desta menghela nafas panjang dan dia pun tertidur.


Keesokan harinya..


Desta akan memberitahukan Hendra bahwa dia hari ini tidak akan masuk kantor karena urusan lain, dan Hendra dimintai untuk segera mengurus perpindahan jabatan kepada Debby.


"Baiklah tuan, akan segera kulaksanakan..!" Hendra segera menutup panggilan telepon.


"Hmm, tuan Desta, sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan?" gumam Hendra dalam hatinya.


Hari pun sudah jam 11 siang, Desta segera menyalakan mesin motornya dan memacu dengan kecepatan penuh untuk menjemput Debby.


Tidak sampai 1 jam dia pun telah tiba di depan kontrakan Debby.


"Aku akan menunggu di warung kecil di depan kontrakanmu" Desta mengirimkan pesan singkat pada Debby.


"Aku siap-siap sebentar ya" jawab Debby.


"Oke" balas Desta.


1 jam kemudian, Debby pun keluar dari kontrakannya dengan penampilan yang luar biasa cantik seolah mereka ingin pergi ke sebuah pesta.

__ADS_1


Melihat Debby seperti itu, rasanya 1 jam yang hilang tidak begitu berarti bagi Desta.


"Deb, kau sangat cantik, tapi ada satu hal, kita kan naik motor, apakah tidak apa-apa? Dandananmu nanti bisa rusak" Desta mengingatkan Debby.


"Hmm, benar juga, aku pikir kita akan pergi menggunakan taksi" Wajah Debby menjadi sedikit murung.


Melihat itu, Desta berinisiatif untuk menitipkan motornya di kontrakan Debby dan segera memesan taksi online.


Wajah Debby pun kembali berseri dan membuat hati Desta merasa sejuk, dia merasa beruntung karena ternyata Debby sangat menyukai kesederhanaan.


Tak lama kemudian taksi pun tiba dan mereka segera menuju d'Coins.


Tepat jam 2 siang mereka pun tiba, dan seperti biasa, Desta melihat ke arah parkiran yang terisi penuh dengan mobil-mobil mewah, namun karena Debby baru pertama kali ke tempat itu, dia merasa cemas jika harga makanannya akan semahal yang dia pikirkan pasti Desta akan menghamburkan uangnya lagi.


"Kenapa? Tenang saja, makanan di sini sangat enak" ucap Desta sambil tersenyum lalu menarik Debby agar berjalan lebih cepat.


Debby melihat ada seorang laki-laki duduk di meja yang sama dengan ibunya, dia tidak bisa melihat wajahnya karena duduk membelakanginya.


Saat berdiri di depan Anna, Debby sangat terkejut karena laki-laki itu adalah Herman.


"Herman, sedang apa kau di sini?" Debby menatap bingung padanya, lalu dia tidak sengaja melihat harga yang tertera pada menu, dia benar-benar tidak percaya dengan harga setinggi itu hanya untuk sebuah makanan.


"Hei Debby, sudah lama tidak berjumpa, kau terlihat semakin cantik saja" Herman kemudian melihat ke arah Desta, dia melihatnya dari ujung kaki hingga ke ujung kepala, dia tidak bisa menemukan sesuatu yang istimewa dengannya.


"Ah salam kenal, namaku Des.." belum sempat menyelesaikan perkenalannya, Herman mengacuhkan dan langsung berbicara kepada Debby.


"Sekarang kau bekerja di mana Deb?" lanjut Herman dan mempersilakan Debby duduk di sebelahnya.

__ADS_1


Desta hanya tersenyum menerima perlakuan seperti itu, karena selama tinggal di Jakarta, dia sudah mulai terbiasa dengan hal itu.


"Tidak sopan..! Desta ingin memperkenalkan dirinya, tapi kau mengabaikannya, Hmm..!" Debby memalingkan wajahnya dan segera duduk di sebelah ibunya.


"Ah maksudmu gelandangan ini?" ucapan Herman begitu kasar hingga membuat Debby semakin membencinya.


Herman pun menoleh ke arah Desta dengan tatapan penasaran, apa yang membuatnya begitu menarik bagi Debby.


"Haha, tidak apa-apa, lagipula tidak begitu penting siapa namaku, kita di sini akan makan-makan jadi tidak usah dipikirkan" Desta berjalan ke sebelah Herman dan menarik kursi untuk duduk.


"Hei, siapa yang bilang kau bisa ikut makan dengan kami? Cari meja lain..!" Herman mendorong kursi di sebelahnya kembali.


"Hehe, oke kalau begitu aku akan duduk di seberang saja" Desta mengalah, dia mencoba menahan emosinya yang sudah hampir meletus karena di sana ada calon ibu mertuanya, dia tidak bisa memberikan kesan buruk.


"Herman..! Kau benar-benar keterlaluan, kalau begitu aku juga akan duduk di seberang saja..!" Debby marah karena pacarnya diperlakukan seperti itu.


"Debby..!" Desta menggelengkan kepalanya mengisyaratkan bahwa dia tidak keberatan, dia hanya tidak ingin membuat kekacauan di depan orang tuanya.


"Nah, begitu lebih baik..!" Anna akhirnya berbicara, lalu dia berdiri dan untuk pergi ke toilet.


"Lagipula siapa yang mengajaknya ke sini?" Herman penasaran.


"Aku yang mengajaknya, aku ingin dia menemaniku" Debby menjawab dengan nada ketus.


"Haha, kau mengajaknya? Memangnya dia siapamu? Pacar?" Gurau Herman.


"Ya, dia memang pacarku..!" jawab Debby.

__ADS_1


__ADS_2