
"Hehe, bagaimana keadaanmu kak? Oleh-olehnya mana?" tetap saja Mita menagih oleh-oleh dari Andre.
"Haduh, ya sudah ini ada oleh-oleh untukmu" Andre mengeluarkan sebuah bungkusan berwarna biru dan memberikannya kepada Mita.
"Wah, ini apa kak?" tanya Mita.
"Buka saja" jawab Andre sambil memberikan bungkusan biru lainnya kepada Joni dan Dina.
Mereka bertiga pun membuka bungkusan biru itu dan semuanya terkejut.
"Andre, berapa banyak tabunganmu yang kau habiskan?" Dina memasang wajah heran, Andre yang sudah tidak bekerja kenapa bisa membelikannya barang semahal ini.
Itu adalah tas Hermes dan baju Burberry, serta sepatu kulit Louis Vuitton, masing-masing barang itu tidak ada yang di bawah 20 juta rupiah.
"Tenang saja, barang-barang ini dari temanku" jawab Andre.
"Apakah temanmu yang kemarin datang membawakan teh mahal untuk ayah?" tanya Mita penasaran.
__ADS_1
Andre bingung, temannya di Jakarta hanya Desta yang mampu membeli barang mahal, tapi buat apa dia membawakan itu dan beresiko mengungkap identitasnya.
"Ah mungkin dia bilang ke Mita bahwa teh mahal itu titipan temannya" Andre bergumam dalam hati dan menganggukkan kepalanya.
"Jadi benar itu dari temanmu yang kemarin?" tanya Mita.
"E-eh bukan, maksudku itu dari temanku yang di Jambi, temanku di Jakarta mana ada yang bisa membeli teh mahal" jawab Andre mengelak menyembunyikan identitas Desta.
"Yah, aku kira temanmu yang itu, kalau begitu kenalkan aku dong dengan temanmu yang di Jambi" Mita tersenyum kecil yang membuat Andre merinding.
"Haha, Boleh saja, tapi.. apa kau yakin?" jawab Andre dengan senyum liciknya.
"Oke, jika kau tidak keberatan berkenalan dengan om-om genit kaya yang berumur 45 tahun dan sudah punya anak 2" jawab Andre dan dia pun melihat ekspresi Mita berubah, dia menjadi terlihat jijik dengan detail yang dikatakan oleh Andre.
"Ah sudahlah, aku jadi jijik mendengarnya" Mita memalingkan wajahnya lalu berjalan ke kamarnya dengan tas Hermes yang dibawanya.
"Haha, dasar bocah, dibodohi percaya saja" Andre bergumam dalam hati, dia tidak akan memberitahu keluarganya bahwa dia memiliki ATM yang berisi 100 miliar agar tidak ada keributan tentang dari mana dia mendapatkannya.
__ADS_1
Membayangkannya saja sudah membuatnya pusing, terkadang dia sangat kesal karena ibu dan adik tirinya itu terlalu tergila-gila dengan harta.
"Ya wajar sih, jaman sekarang siapa sih yang tidak suka uang" gumam Andre sambil mengangkat bahunya.
Dia pun bersiap untuk mandi dan menyegarkan tubuhnya dengan air hangat.
"Huh, aku tidak akan pernah tahu akan jadi apa aku kalo tidak bertemu Desta" Andre merasa Desta telah merubah kehidupan keluarganya sekarang menjadi lebih tenang tanpa dikejar-kejar masalah seperti hutang dan lain sebagainya yang berhubungan dengan uang.
Baru saja akan mandi, ponsel Andre berbunyi, "Hmm, nomor tidak dikenal, apa harus aku angkat?" Andre memang tidak pernah mengangkat panggilan dari nomor tidak dikenal, tapi entah kenapa kali ini dia merasa harus mengangkatnya.
"Halo, apa benar ini tuan Andre?" ucap seorang pria di ujung telepon.
"Tuan Andre? Sejak kapan aku menjadi orang penting?" gumam Andre dan mencoba menebak siapa yang menghubunginya ini.
"Ya benar, aku sedang berbicara dengan siapa ya?" tanya Andre penasaran.
"Oh maafkan aku..! Perkenalkan, namaku Sebastian dari Heir Group, dan aku menghubungi Anda secara langsung untuk membicarakan sesuatu" Sebastian menghubungi Andre setelah diberitahukan oleh Desta bahwa dia sudah kembali ke Jakarta.
__ADS_1
Andre syok karena orang sepenting dan sehebat Sebastian menghubunginya secara langsung dan memanggilnya dengan sebutan tuan.