Si Miliarder Muda

Si Miliarder Muda
Keluarga Febrianto Dalam Masalah


__ADS_3

Malam hari pun tiba.


“Feb, sudah lama tidak mendengar kabarmu..!” ucap Desta saat menjawab panggilan telepon dari Febrianto.


“Maaf bos, aku memang sudah terlalu lama tidak menjalankan tugasku” Febrianto terdengar sangat tidak bersemangat saat berbicara.


“Ada apa?” Desta langsung menanyakan hal yang menjadi pikiran Febrianto.


“Begini bos, sebenarnya aku sudah ingin pulang ke Jakarta 2 hari yang lalu, tapi orang tuaku mendapatkan masalah dan sekarang sedang mendekam di penjara” ucapan Febrianto sangat mengejutkan Desta.


Bagaimana tidak, yang dia tahu adalah Febrianto berbohong kepada kedua orang tuanya bahwa anak mereka adalah seorang pekerja kantoran dan juga seorang pebisnis bukan menjadi tukang pukul di kota Jakarta.


Dengan begitu dia menyimpulkan bahwa kedua orang tua Febrianto adalah orang yang baik.

__ADS_1


Jadi, tidak mungkin mereka mampu melakukan sebuah kejahatan yang membuat diri mereka mendekam di penjara.


“Apa masalahnya?” sambil berbicara di telepon, Desta segera memesan tiket pesawat untuk pergi menemui Febrianto dan keluarganya di kota Jogjakarta.


“Ada keluarga kaya yang datang ke kampungku dan mereka ingin membeli tanah milik orang tuaku karena memang tanahnya sangat luas, tapi mereka menolak untuk menjual tanahnya dengan alasan bahwa tanah ini sudah digunakan secara turun temurun oleh keluarga mereka sebagai tempat tinggal, dan mereka sudah sangat nyaman dengan suasana di sini” ucap Febrianto yang terdengar sangat frustasi karena tidak bisa membantu kedua orang tuanya di saat dia berpikir bahwa dia mampu.


“Lalu, apa yang membuat mereka dipenjara?” tanya Desta penasaran.


“Untuk masalah itu, aku pun tidak tahu apa yang membuat mereka dipenjara, karena tiba-tiba saja ada sekelompok polisi yang datang ke rumahku dan berkata bahwa mereka datang dengan surat perintah penangkapan terhadap orang tuaku karena menggelapkan tanah, dan sekarang rumahku pun sudah disegel oleh mereka” jawab Febrianto dengan suara yang lemah.


“Aku juga berpikir begitu bos, dan aku pun tidak bisa membantu untuk membayar uang pembebasan mereka karena itu hanya akan menambah masalah karena aku pasti akan dianggap sebagai perampok” ucap Febrianto.


“Hah?” Desta kebingungan dengan maksud Febrianto.

__ADS_1


“Ya, maksudku adalah walaupun tanah yang kami miliki sangat luas, tapi dengan tampilan rumah dan juga keadaan keuangan keluargaku, memangnya siapa yang akan percaya jika kami memiliki uang yang sangat banyak untuk menebusnya? Para polisi tersebut hanya akan mendengarkan ucapan dari yang menyuap mereka saja..!” Febrianto membuat sebuah poin yang masuk akal bagi Desta.


Dengan begini, Desta tidak bisa tinggal diam karena dia juga membutuhkan penjagaan dari Febrianto, jika masalah ini tidak segera diatasi, akan sangat merepotkan nantinya.


“Oke, besok aku akan terbang ke sana, sekarang kau menginap saja di hotel..!” perintah Desta dan panggilan telepon pun ditutup.


“Haduh, sepertinya aku benar-benar tidak bisa mengharapkan masalah seperti ini untuk berhenti, yang bisa aku lakukan sekarang hanya mengikutinya saja” Desta menepuk dahinya lalu dia berbaring di kasurnya yang empuk.


Keesokan harinya.


“Paman, aku akan berkunjung ke Jogjakarta hari ini, keluarga Febrianto sedang ada masalah” ucap Desta dalam panggilan teleponnya.


“Baik tuan muda, aku akan mengabarkannya kepada semua anggota petinggi di Heir Group yang sedang berada di sana” jawab Sebastian, dia ingin memastikan keadaan tuan mudanya selalu baik-baik saja.

__ADS_1


“Mmm, terima kasih paman..!” setelah menutup panggilan telepon, Desta pun segera berangkat menuju bandara Soekarno Hatta dan menitipkan mobilnya di parkiran bandara.


__ADS_2