Si Miliarder Muda

Si Miliarder Muda
Kau Memang Sangat Beruntung


__ADS_3

“Untuk sekarang, kita hanya harus menunggu hingga malam tiba..! Aku tidak tahu akan seperti apa nantinya di sana, tapi malam adalah teman terbaik jika ingin menyusup ke dalam” Desta berkata seperti itu karena menurut pengalamannya saat menghukum Herman di kota Malang.


“Oke bos..!” Febrianto menyetujui rencana Desta.


Mereka berdua menunggu didalam mobil hingga malam pun tiba.


“Oke, sekarang waktunya menghukum..!” Desta menyalakan mesin mobil van berwarna hitam yang dikendarai olehnya menuju lokasi yang sudah diberikan oleh Sebastian.


“Dengan mobil van ini, kemungkinan kita akan ketahuan akan lebih kecil..!” ucap Desta yang kemudian menginjak pedal gas dalam-dalam.


“Benar juga, jadi maksud bos membawa mobil ini bukan untuk dijadikan koleksi ya, haha” ucap Febrianto sambil tertawa.


“Tapi, baru kali ini aku tahu ada bos yang bersedia menyetir sendiri daripada menyuruh anak buahnya” gumam Febrianto yang merasa salut dengan Desta.

__ADS_1


“Hmm, mungkin itu ide yang bagus, nanti aku akan mengurus surat kepemilikan mobil ini dengan jenderal Winoto jika mobil ini pulang dengan selamat” walaupun Desta sedikit tertarik dengan mobil van ini, mengurus perpindahan kepemilikan kendaraan seperti ini pasti sangatlah rumit, jadi, dia mungkin hanya sekedar berbicara saja mengenai hal itu.


Perjalanan ditempuh oleh mereka berdua selama 1 jam penuh dan akhirnya mereka mulai memasuki kawasan perumahan elit.


Mereka masuk dengan mudah karena memang kinerja satpam di sana tidak terlalu ketat seperti harus menanyakan identitas ataupun hubungan dengan para penghuni.


“Bos, aku yakin orang-orang yang tinggal di sini pasti orang kaya semua, karena itu disebut kawasan elite” ucap Febrianto, tapi Desta tidak menjawabnya karena berfokus untuk mencari rumah yang dimaksud.


“Ketemu..!” Desta menghentikan kendaraannya di depan sebuah rumah yang paling besar di sana.


“Ting.. tung..” suara bel terdengar dari luar.


“Ya? Cari siapa ya?” terdengar suara seorang wanita dari sebuah kotak kecil yang berada di bawah tombol bel.

__ADS_1


“Apakah bos Widodo ada di rumah?” jawab Desta mendekatkan wajahnya di depan kotak kecil tersebut.


Karena terdapat sebuah lingkaran yang berbentuk seperti kamera di kotak tersebut, Desta berasumsi bahwa orang yang menjawab bel tadi, sudah melihat wajahnya.


Dengan penampilan seperti sekarang ini, sangat tidak mencurigakan jika Desta memanggilnya dengan bos Widodo.


“Ayah sedang ke tempat biasa, sepertinya kau orang baru ya? Kenapa malah mencari ayah ke sini?” tanya wanita tersebut.


“Eh hehe iya nona, aku dan temanku ini baru saja masuk bekerja sebagai orang suruhan bos Widodo, dan karena aku tidak tahu harus ke mana, jadi, bos Widodo berkata aku harus mendatangi rumahnya” Desta berpura-pura untuk menggali informasi.


“Bos, kau sangat berani, jika sandiwara ini terbongkar, si Widodo ini pasti akan segera meningkatkan kewaspadaannya” gumam Febrianto, dia berkeringat dingin karena situasi yang sangat berisiko ini.


“Oh, ayah memang mengatakan bahwa jika ada orang baru pasti mereka akan datang ke sini untuk mencari informasi..! Oke, aku akan membantumu bertemu dengan ayah, masuklah ke dalam..!” ucap wanita tersebut.

__ADS_1


“Bos..! Kau memang sangat beruntung..!” gumam Febrianto, dan Desta hanya mengedipkan matanya karena dia sudah tahu situasi ini tidak akan menjadi masalah.


Desta sudah berhasil menebak dengan pasti, jika Widodo dianggap sebagai seorang bos besar, pasti dia tidak akan sembarangan menerima orang dan langsung bertemu dengannya.


__ADS_2