
“Oke bos..!” Febrianto mengikuti Desta berlari dari belakang.
Mereka terus menelusuri seisi gedung tersebut, hingga akhirnya mereka menemukan pintu belakang yang jarang sekali digunakan.
“Sepertinya kita bisa keluar lewat sini, ayo cepat..!” Desta memerintahkan Febrianto untuk mempercepat larinya.
Sebenarnya Desta bisa saja melawan dengan pistol yang diambilnya dari salah satu bawahan Widodo tadi, tapi dia pikir sebisa mungkin untuk menghindari baku tembak untuk meminimalisir luka yang akan didapat karena tidak mungkin semua peluru bisa dia hindari.
“Feb, kita akan berjalan 1 kilometer dari sini, lalu aku akan memesan taksi online agar tidak terdeteksi oleh bawahan Widodol ini..!” lalu mereka berdua berjalan dengan sangat hati-hati sambil melihat ke sekelilingnya untuk memastikan tidak ada yang mengikuti mereka.
10 menit kemudian, mereka pun sudah berada 1 kilometer dari gedung tersebut dan Desta segera memesan taksi online di tempat yang jarang dikunjungi orang agar tidak terlalu menarik perhatian orang lain.
“Ah kepalaku sakit, aku ada di mana?” Widodo sudah mulai tersadar kembali dari pingsannya dan langsung berteriak meminta tolong ketika melihat wajah Febrianto yang tersenyum jahat kepadanya.
“Kau ini benar-benar berisik ya” tanpa diperintahkan oleh Desta, Febrianto langsung melingkarkan tangannya lagi ke leher Widodo untuk membuatnya pingsan.
__ADS_1
“Nah, begini labih baik..!” ucap Febrianto setelah membuat Widodo pingsan.
5 menit kemudian, taksi online yang dipesan oleh Desta pun tiba dan mereka segera masuk ke dalam.
“Sesuai tujuan yang tertera ya mas?” tanya sopir taksi online tersebut.
“Mmm, sesuai dengan alamat yang kuberikan” Desta menjawab sambil melihat ke belakang dimana Febrianto dan Widodo duduk.
“Temannya mabuk mas?” tanya sopir taksi ketika melihat Widodo yang pingsan dari kaca.
“Hehe iya, kita bertiga habis pesta besar, jadinya terlalu banyak minum” jawab Desta.
“Ya begitulah, tolong antarkan sampai tujuan ya, aku ingin beristirahat sebentar” Desta tidak ingin berbicara banyak kepada sopir taksi tersebut untuk menghindari kebocoran informasi yang tidak perlu, jadi, dia akan berpura-pura tidur hingga tiba sampai tujuan.
“Oke mas, saya pastikan sampai dengan aman dan nyaman, hehe” ucap si sopir taksi.
__ADS_1
Perjalanan mereka sangat aman dan tidak ada gangguan atau pengejaran dari bawahan Widodo berkat taksi online.
60 menit kemudian mereka pun tiba di rumah keluarga Febrianto.
“Oke, sudah sampai mas” ucap Sopir tersebut kepada Desta yang akhirnya tertidur dalam perjalanan.
“Oh, terima kasih, paman..!” mereka bertiga pun turun dari taksi tersebut dan segera masuk ke dalam rumah.
“Bos, jika ingin pergi ke tempat aman, bukankah datang ke rumahku adalah tempat yang paling tidak aman?” Febrianto berkata demikian bukan tanpa alasan, dia berpikir bahwa Widodo pernah pergi ke rumahnya untuk berdebat dengan kedua orang tuanya.
Kemungkinan bawahan Widodo akan mencari ke sini sangat besar, jadi, kenapa Desta malah memilih untuk datang ke sini?
“Hmm, kau benar soal itu, tapi..” Desta berbalik lalu tersenyum lebar ke arah Febrianto.
“Di sini hanya ada penerangan dari rumah ini saja, dan pencahayaan sangat minimal, belum lagi para tetangga yang sudah pindah karena tanah dan rumahnya sudah dibeli oleh orang ini..! Jadi, ini adalah tempat terbaik untuk kita menyerang balik dan baku tembak jika memang itu yang akan terjadi nanti..!” ucap Desta dengan penuh semangat.
__ADS_1
“Bos, aku tahu kau ini tidak takut apapun, tapi aku tidak tahu bahwa kau sangat suka keributan..!” Febrianto hanya bisa tersenyum kecut setelah mendengar ucapan Desta.
”Setidaknya kau pasti tahu apa yang kau lakukan karena aku tahu kau tidak akan bertindak tanpa memikirkan resikonya, jadi, jika ingin melakukan ini pasti kau sangat yakin bisa mengatasi mereka semua, ‘kan?” tanya Febrianto yang merasa agak lega setelah dia mengingat kembali setiap tindakan yang diambil oleh Desta sebelumnya tidak pernah salah.