
Dia menunggu sambil melihat-lihat sekitarnya, “Benar juga, besok ada acara peresmian Heir Group, apa aku ajak saja Debby untuk ikut denganku?” Desta berpikir untuk mengajak Debby ke acara itu dan sekalian ditraktir Debby untuk merayakan kenaikan jabatannya.
Desta mengambil ponselnya dan mencari nomor Debby, namun sebelum dia menghubunginya, Desta tidak sengaja mendengarkan obrolan di telepon seorang pria paruh baya yang duduk di sebelahnya.
“Erlin, kau tenang saja, besok adalah acara peresmian gedung Heir group, aku pasti akan membuat orang-orang di Heir Group kagum dengan keahlianku saat wawancara besok..!” ucap pria paruh baya itu dengan penuh percaya diri.
“Hoo, menarik sekali, memangnya dia akan mendaftar di bagian apa?” gumam Desta yang terus mendengarkan obrolannya sambil memainkan ponsel miliknya agar tidak terlalu terlihat sedang menguping.
“Aku Denis, akan melamar sebagai seorang manager di sana, dan aku akan memiliki penghasilan yang cukup untuk menjadi pacarmu” ucapnya sambil menepuk dadanya dengan penuh percaya diri.
“Hmm, manager ya? Aku dengar ujian masuk untuk menjadi pegawainya saja sudah sangat sulit, apa kau sangat yakin dengan kemampuanmu untuk melamar menjadi manager di sana?” Desta akhirnya berbicara pada Denis yang sedari tadi terlihat sangat percaya diri.
“Hei, apakah kau tidak tahu sopan santun menguping pembicaraan orang lain seperti itu?” ucap Denis yang kemudian menyudahi panggilan teleponnya.
__ADS_1
“Aku hanya tidak sengaja mendengar pembicaraanmu, aku tidak menguping” jawab Desta santai.
“Terserah kau saja” Denis pun berdiri dan pergi meninggalkan Desta dengan menunjukkan wajah muram.
“Memangnya aku salah bicara?” ucap Desta kepada dirinya sendiri dan mengangkat bahunya.
Tak lama kemudian dia melihat Febrianto keluar dari ruang pengambilan barang, dia pun berdiri dan segera berbaris di antrian taksi.
“Tidak usah bos, biar aku saja yang membawakan barang-barangmu” Febrianto menolak ketika Desta mengulurkan tangannya untuk membawa barang-barangnya sendiri.
Setelah mengantri selama 20 menit, akhirnya tiba giliran mereka untuk menaiki taksi.
Tapi tiba-tiba ada suara dari seseorang yang berteriak dari belakang Desta, “Tunggu, biarkan aku masuk terlebih dahulu” seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas dan celana bahan warna hitam menyerobot antrian Desta dan langsung masuk ke dalam taksi.
__ADS_1
“Bos?” Febrianto melihat ke arah Desta yang sudah terlihat kesal karena orang itu ternyata Denis, orang yang akan melamar sebagai seorang manager divisi teknis di perusahaannya.
“Sudah biarkan saja, aku sedang tidak ingin membuat keributan..!” Desta melepaskan Denis karena dia tidak ingin membuat musuh yang lainnya.
“Mmm...” Febrianto mengangguk.
Akhirnya taksi yang seharusnya giliran Desta pun pergi membawa Denis, tapi tidak lama setelah itu taksi berikutnya pun datang.
“Benar kan? Tidak harus ada kekerasan yang terjadi, jika sabar pasti ada hasil baiknya” ucap Desta yang mendadak menjadi bijaksana.
“Eh heh iya bos” Febrianto hanya tersenyum kecut karena dia tahu apa yang telah dilakukan Desta sebelumnya dan dia masih bisa berbicara tentang kesabaran.
Mereka pun masuk dan segera berangkat pergi meninggalkan bandara menuju apartemen Desta.
__ADS_1
“Untuk hari ini kau tinggal di apartemenku saja, kau akan tidur di kamar yang satunya lagi” ucap Desta yang bermaksud meminjamkan kamar Andre untuk disinggahi Febrianto sementara karena semenjak dia datang ke Jakarta, Febrianto hanya menginap di hotel.