
"Hah, paling-paling dia berkata seperti itu hanya ingin menakut-nakuti kita saja, dan lagi dia pasti berani memukulku karena dia berpikir bisa melakukannya hanya ketika Sebastian di dekatnya" ucap Denis sambil mengeluarkan sekotak rokok dan membaginya dengan Firman.
"Ya benar itu, menurutku, Sebastianlah yang sangat menakutkan, dia hanya tunduk pada tuan muda sialan itu karena takut akan kehilangan pekerjaannya" jawab Firman yang setuju dengan Denis.
"Huh, dasar rendahan..!" hina Denis yang berpikiran bahwa Sebastian adalah seorang pengecut karena dia rela berlutut dan kehilangan harga dirinya hanya karena takut dipecat oleh Desta.
Mereka berdua pun segera pergi untuk merencanakan lebih matang lagi karena tidak ingin kelalaian sekecil apapun merusaknya dan menyebabkan bencana bagi mereka.
Atau setidaknya begitulah yang mereka pikirkan.
Di sisi Desta..
Sebastian menyusul Desta ke ruangannya untuk mengabarkan bahwa pemecatan Denis dan Firman sudah dilakukan.
"Paman, apakah mobil yang kupesan sudah ada?" Desta bertanya pada Sebastian karena sebelum berangkat ke Jogjakarta, Desta sempat meminta tolong padanya untuk membelikan mobil yang disarankan oleh Febrianto.
"Sudah tuan muda, sekarang aku akan menyuruh seseorang untuk membawakannya untuk Anda" ucap Sebastian sambil mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Ya, tolong parkirkan di pintu depan depan gedung saja, terima kasih" lalu Sebastian menutup panggilannya.
"Terima kasih paman, kau sudah sangat banyak membantuku hingga saat ini" ucap Desta yang menepuk pundak Sebastian.
10 menit kemudian..
__ADS_1
"Tok.. Tok.." suara pintu diketuk.
"Masuk..!" ucap Sebastian dengan sedikit mengeraskan suaranya.
"Tuan Sebastian, ini kunci mobilnya berikut surat-surat kendaraan yang sudah sah" seorang pemuda membawakan kunci mobil yang akan digunakan Desta, namun pemuda itu terkejut saat melihat Desta.
"Tu-tuan muda Desta, bagaimana kabar Anda?" ucap pemuda itu.
"Ah ternyata Alvin, aku baik-baik saja, sudah lama tidak berjumpa" sapa Desta pada pemuda itu.
Dia adalah bawahan Sebastian di rumah keluarga Desta, dia baru saja mengabdi selama 2 tahun, dan dia ditugaskan untuk ikut bersama Sebastian.
"Hehe, kau terlihat sangat baik, terima kasih sudah mengantarkan mobilku" ucap Desta dan mengambil kunci serta dokumen-dokumen kepemilikannya kendaraannya.
"Mmm, kalau begitu aku permisi dulu..! Aku ada janji dengan seseorang dan dia sudah menungguku" ucap Desta sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut.
"Baiklah, hati-hati di jalan tuan muda" ucap Sebastian dan Alvin.
"Mmm.." Desta menganggukkan kepalanya.
Sebenarnya Desta tidak sedang ada janji dengan siapa pun, dia hanya tidak ingin berlama-lama di sana.
"Ah akhirnya mobilku sendiri, tidak perlu pesan-pesan taksi online dan menunggu lama lagi" ucap Desta yang senang dengan mobil barunya, walaupun bukan mobil mewah, tapi itu memang maunya.
__ADS_1
Desta masuk ke dalam mobilnya dan melihat seluruh desain di dalamnya, "Lumayan juga, aku sangat terkesan dengan harga segini bisa dapat mobil yang lumayan bagus" ucap Desta.
Tak lama kemudian ponselnya berdering, ada sebuah panggilan dari nomor tak dikenal.
"Nomor siapa ini? Ah paling-paling orang yang ingin menawarkan untuk daftar kartu kredit" Desta mengira seperti itu karena beberapa hari belakangan dia sering dihubungi oleh orang dari bank untuk daftar kartu kredit.
"Halo.." Desta akhirnya mengangkat panggilan itu.
"Hai, tuan muda sialan..!" suara yang sepertinya tidak asing bagi Desta membuatnya mengernyitkan alisnya.
"Siapa ini?" tanya Desta dengan suara yang berat.
"Aku adalah korban dari tingkah aroganmu, dan kau pasti mengenal Andre bukan?" ucap suara di ujung telepon.
"Ada apa dengan Andre? Kau siapa?" Tanya Desta kembali.
"Tengah malam ini kau datanglah ke alamat yang akan aku kirimkan sebentar lagi, datanglah sendirian, atau kau hanya akan melihat mayat Andre saat kau tiba" ancamnya dan kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Sialan..! Hei, hei..! Siapa kalian? Jika terjadi sesuatu padanya, jangan harap kalian akan.."
"Tuut.. Tuut.. Tuut.." panggilan telepon telah terputus.
"Huh, kenapa setiap selesai satu masalah, ada aja masalah lainnya bermunculan" keluh Desta dan menepuk dahinya.
__ADS_1