
“Arrrrrgghh..!” teriak pria berotot yang terkena tembakan dari Desta dan langsung terbaring di tanah meraung kesakitan.
“Wow, sudah dimulai ternyata” Jefrey mengunyah popcorn seolah sedang menonton film aksi di bioskop.
“Bajingan..! Jangan harap kau akan lolos dari ini semua..!” Cindy berteriak sambil mengambil ponselnya, dia bermaksud untuk menghubungi polisi dan melaporkan kejadian yang dilihatnya saat ini.
“Dorr..” suara tembakan terdengar kembali dan tanpa disadari, ponsel milik Cindy pun sudah hancur berkeping-keping.
“Kau pikir aku akan membiarkanmu? Lagipula ini semua terjadi karena ulah kalian sendiri, bukan? Jadi, kalian pasti sudah siap menerima akibatnya” ucap Desta yang terlihat menodongkan pistol ke arah Cindy setelah menghancurkan ponsel miliknya.
“Orang ini benar-benar sudah gila..!” gumam Cindy, dia masih berdiri kaku tidak bergeming sedikitpun.
Salah satu dari pria berotot tersebut mencoba untuk memukul Desta dari belakang secara diam-diam, dia pun berjalan dengan sangat hati-hati tanpa membuat suara sedikitpun.
“Dorr.. Dorr..” Desta kembali menembakkan pistol di tangannya ke arah belakang tanpa menoleh sedikitpun.
“Hehe, kau mau apa tikus kecil?” tembakan tersebut memang tidak mengenai tubuh pria berotot yang mencoba untuk memukulnya, tapi itu cukup untuk membuatnya kencing di celana karena memang peluru yang meluncur menghantam tanah yang hanya berjarak 2 ruas jari telunjuk saja dari ***********.
“Baiklah, sekarang enaknya aku apakan kalian?” ucap Desta dan dia melihat ke arah Brandon yang sudah mulai bisa bernafas normal.
“Bajingan, kau tidak akan lolos dari ini..! Aku akan memerintahkan seluruh bawahanku untuk membunuhmu dan keluargamu..!” teriak Brandon sambil berdiri terengah-engah di sebelah Cindy.
“Ya..! Ayahku tidak akan pernah melepaskanmu jika kau berani melukaiku..!” ucap Cindy dengan nada yang mengancam.
“Hoo, aku jadi penasaran..! Brandon, apa kau yakin mereka masih akan mendengarkan perintahmu? Dengan apa kau akan membayar bawahanmu?” Desta tersenyum licik kepada Brandon.
Dengan rasa curiga, Brandon langsung mengecek semua rekening tabungan miliknya dan dia betapa terkejutnya dia ketika melihat saldo disemua rekeningnya menjadi nol.
“Kau, apa yang kau lakukan?” Brandon berteriak dengan suara yang bergetar.
“Brandon, memangnya ada apa?” tanya Cindy penasaran karena melihat wajah Brandon yang menjadi pucat, namun Brandon tidak menjawab pertanyaan Cindy karena terlalu fokus dengan saldo nol di rekeningnya.
__ADS_1
“Aku melakukan apa? Hehe, tidak bukan aku yang melakukannya..!” ucap Desta sambil tertawa kecil.
“Omong kosong..! Bagaimana kau bisa berbicara seperti tadi, jika bukan kau yang melakukannya?” bantah Brandon dan dia mulai terlihat sangat kesal dengan setiap jawaban Desta.
“Brandon, apa yang terjadi?” Cindy bertanya kembali karena melihat kepanikan Brandon yang semakin menjadi.
“Diam kau..!” Brandon membentak Cindy yang mana ini adalah pertama kalinya.
Cindy membalas kembali bentakan Brandon karena dia tidak terima, “Brandon, apa-apaan kau ini? Aku hanya menanyakan apa yang terjadi dan kau malah membentakku? Jika kau tidak menjelaskan apapun padaku, maka hubungan kita cukup sampai di sini saja..!” balas Cindy dengan penuh kegeraman.
“Lebih baik begitu dari awal..! Jika aku tidak menurutimu untuk membalas si brengsek itu, ini tidak akan terjadi..!” teriak Brandon, dan mereka pun malah bertengkar ditengah rencana mereka sendiri.
“Apanya yang terjadi? Aku sudah menanyakannya berulang kali padamu tapi kau tetap tidak menjelaskannya..!” balas Cindy yang semakin naik pitam.
“Bajingan itu sudah mencuri semua uangku..! Tak ada sisa sedikitpun uang di rekeningku, bahkan di rekening rahasia milikku pun juga lenyap..! Ini semua salahmu..!” Brandon memaki Cindy sambil menunjuk ke arah wajahnya.
“Bagaimana bisa dia melakukan itu? Memangnya dia peretas?” balas Cindy.
“Oh bukan aku yang meretas, tapi orang-orang yang juga benci pada kalian dan aku tidak perlu memberitahukannya pada kalian siapa mereka, haha” Desta sangat menikmati pertengkaran mereka berdua.
“Tapi ini sudah termasuk dalam kasus pencurian, aku akan menuntutmu dan aku akan pastikan kau tidak akan bisa menang di persidangan..!” teriak Brandon dengan nada yang sombong.
“Hoo, bagaimana caranya kau menuntutku ketika uang tersebut hilang oleh dirimu sendiri?” ucap Desta.
“Apa maksudmu?” Brandon tidak memahami perkataan Desta, dia bertanya dengan rasa penasaran yang tinggi.
“Ya maksudku, semua uang itu aku alihkan ke tempat lain..! Dan ketika melakukannya, aku membuat seolah kaulah yang melakukannya..! Dengan kata lain, jika ditelusuri kembali, kau sendiri yang menghilangkan uang tersebut..!” ucap Desta menjelaskan yang sebenarnya kepada Brandon.
“Omong kosong..! Mana ada yang seperti itu..!” Brandon langsung mengecek daftar transaksi disetiap rekeningnya.
“I-ini.. Benar-benar aku yang melakukannya” gumam Brandon dan dia pun tidak bisa berkata apa-apa lagi.
__ADS_1
“Brandon, apakah itu benar?” tanya Cindy dengan cemas.
Cindy yang tertarik kepada Brandon karena dia adalah orang kaya dan memiliki aset yang banyak termasuk perusahaan otomotif Sky Drive miliknya, dan dia takut bahwa Brandon sudah menjadi orang miskin karena Cindy sangat tidak suka dengan orang miskin.
“Benar, semua itu benar..! Aku tidak bisa melihat ke mana semua uang tersebut dialihkan, dan sekarang aku sudah miskin” Brandon terduduk lemas di tanah dengan tatapan kosong dan menyesal, menyesal karena mengikuti perkataan Cindy untuk mencari masalah dengan Desta.
“Ah, sudah selesai bertengkarnya?” ucap Desta, lalu dia berbalik ke arah para pria berotot yang berlutut di belakangnya.
“Jadi, kalian sudah dengar sendiri, ‘kan? Apa kalian masih akan mengikuti perintahnya untuk memukulku?” tanya Desta dan melihat ekspresi mereka semua menjadi kebingungan.
Salah satu dari mereka berdiri dan melihat ke arah Brandon, “Brandon, kau bilang akan membayar kami setelah ini? Jadi, kau masih berhutang kepada kami bertiga sebesar 3 miliar karena kau menjanjikan 1 miliar per orang..!”.
“Huh, kau masih berani membual untuk membayar mereka segitu banyaknya?” Desta menggelengkan kepalanya.
“Brandon, jika ini semua benar, aku ingin hubungan ini berakhir..! Sekarang kau sudah sama sampahnya seperti orang itu, dan kau tidak ber..” tidak sempat Cindy menyelesaikan omongannya, Brandon menarik tangannya dan bersembunyi dibalik tubuh Cindy.
Tangannya yang lain terlihat sedang mengambil sesuatu dari saku celananya, dan ternyata itu adalah sebuah pisau lipat, dia pun menodongkan pisau tersebut ke leher Cindy.
“Brandon, apa yang kau lakukan?” Cindy berteriak dengan suara yang bergetar ketakutan.
“Diam kau..! Ini semua gara-gara aku yang menyuruhku untuk mencari masalah dengannya, jika saja aku tidak menurutimu, aku tidak akan menjadi miskin seperti ini..!” teriak Brandon, dia sudah terlihat sangat depresi dengan kejadian yang menimpanya.
“Apa maksudmu? Bukankah membakar kendaraan miliknya adalah idemu sendiri?” jawab Cindy berusaha untuk menyangkal semua ucapan Brandon yang dituduhkan kepadanya.
“Hei kalian berdua, sudah selesai dramanya?” ucap Desta dengan tatapan yang sangat dingin.
“Diam kau, atau wanita ini aku bunuh..!” ucap Brandon mengancam Desta.
“Silakan saja..! Lagipula yang akan dipenjara kan dirimu” ucap Desta tidak peduli dengan keadaan Cindy lalu dia menunjuk ke arah kaca depan mobil Jefrey dan mereka melihat Jefrey yang sedang memegang ponsel miliknya bersiap untuk merekam kejadian yang akan dilakukan Brandon.
“Bagaimana? Lakukan saja jika kau mau, aku tidak peduli” Desta berjalan menuju mobil milik Jefrey untuk segera meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
Tapi langkahnya terhenti setelah mendengar perkataan dari Cindy, “Tuan muda, maafkan aku karena telah berusaha menyakiti Anda, aku mohon jangan tinggalkan aku di sini dengan psikopat ini, tolong aku”.
“Dengar..! Kau yang membawa dirimu sendiri masuk ke dalam situasi tersebut, jadi, aku yakin kau bisa keluar dari situasi itu dengan sendirinya..! Aku tidak akan peduli kau mati atau tidak, karena kau sudah berani mengancam keselamatanku, saat itulah kau kehilangan kesempatan untuk mendapatkan bantuanku” ucap Desta, dia terus berjalan ke arah mobil hitam milik Jefrey tanpa melihat ke arah belakang lagi.