
“Cih, memangnya kau siapa berani-beraninya mengancamku seperti itu?” tanya Yanto dengan sikap yang sangat congkak.
“Hehe, aku hanya seorang satpam kok, kemarin memang aku sempat bekerja di perusahaan Gloria sebagai karyawan di divisi pemasaran, tapi karena tidak cocok untukku, jadinya aku melamar sebagai seorang satpam deh, dan mobil yang aku kendarai juga bukan mobilku, itu milik majikanku kok” jawab Desta yang kebohongannya sangat jelas terlihat.
“Cih, kau dengar itu Deb? Dia hanya seorang satpam dan berani mengajakmu makan di restoran seperti tadi? Apa kau punya uang untuk membayarnya? Jangan-jangan kau hanya ingin memanfaatkan dan menghabiskan uang Debby?” ucap Yanto yang melihat ke arah Debby lalu kembali melihat ke arah Desta.
“Haduh..! Dia ternyata orang bodoh” gumam Debby sambil memutar kedua bola matanya karena tidak habis pikir dengan Yanto yang bisa termakan kebohongan Desta yang seperti itu.
“Ya tapi karena Debby lebih memilih seorang satpam sepertiku daripada orang sepertimu, itu saja sudah menunjukkan bahwa kau lebih rendah dariku di mata Debby, haha” Desta sengaja memancing amarah Yanto agar dia punya alasan untuk menyingkirkannya dari perusahaan Gloria.
Desta tidak akan mempekerjakan orang seperti Yanto ini di perusahaannya.
“Cih, tapi kau tidak sekaya diriku, kau hanya akan membuat Debby menderita dengan statusmu yang hanya sebagai satpam itu..! Sedangkan aku? aku adalah anak dari pengusaha kaya raya di Jakarta ini dan aku pun sudah memiliki usahaku sendiri walaupun masih baru dimulai” ucap Yanto yang bermaksud pamer.
“Hoo, jadi kalau kau adalah orang yang kaya raya, kenapa kau masih bekerja sebagai karyawan normal di perusahaan Gloria?” tanya Desta, dan membuat Yanto terdiam tak bisa menjawabnya.
“Haha, berarti sudah jelas yang kaya raya itu bukan kau, tapi orangtuamu..! Jadi kau tidak pantas menyombongkan kekayaan seperti itu..! Dan berarti kau sama saja denganku, sama-sama orang rendahan, yang artinya kau pun tidak pantas untuk Debby, hanya saja Debby sudah memilihku dan bukan kau, haha..!” ejek Desta dan tentu saja membuat Yanto semakin geram dengan ucapannya.
“Kau...” Yanto sudah tidak bisa menahan emosinya lagi, lalu dia berjalan ke arah Desta dan menarik kerah bajunya lagi.
“Yanto..!” Debby ingin menghentikannya tapi Desta melambaikan tangannya yang menandakan bahwa dia bisa mengatasi ini, jadi Debby tidak perlu membantunya.
“Hmm, kau ingin memukulku lagi? Di sini banyak orang yang melihat, dan dari tadi hanya kau yang mengancamku bahkan memukulku sampai terjatuh, jika ada yang melaporkan ke polisi, jelas sekali kau yang akan ditahan walaupun aku akan dibawa juga untuk dimintai keterangan” ucap Desta, dia tidak ingin menggunakan kekerasan yang tidak berguna hanya untuk meladeni semut seperti ini.
“Dengan saksi sebanyak ini, kau jelas akan kalah” ucap Desta, dan Debby yang mendengarnya pun menjadi tenang karena dia tahu apa yang sedang dilakukan Desta.
Yanto mendekat ke arah telinga Desta dan berbisik, “Aku tidak peduli..! Dengan uang yang keluargaku miliki, aku tidak takut dengan hukum..!” lalu mengambil ancang-ancang untuk memukul Desta.
“Kau yakin dengan...” Desta tidak sempat menyelesaikan ucapannya dan sebuah tinju pun mendarat di wajahnya, namun jika dibandingkan dengan tinju dari Kamandanu, tinju dari Yanto terasa seperti diusap-usap oleh anak bayi saja bagi Desta, namun untuk mendramatisirnya, Desta melompat ke belakang dan menjatuhkan dirinya ke tanah, dan semua orang pun terlihat tercengang dengan pukulan Yanto.
__ADS_1
“A-aku, memangnya pukulanku sekuat ini?” gumam Yanto yang tidak percaya dengan yang barusan terjadi.
“Hah? Bagaimana bisa Desta dipukul seperti itu? Apakah memang Yanto sekuat itu?” gumam Debby yang ikut tercengang dengan terhempasnya Desta setelah dipukul oleh Yanto.
Desta pun tersenyum dengan perlakuan Yanto barusan, dia tidak menyangka ada yang berani memperlakukannya seperti ini di depan umum, jadi, sekalian saja dia dramatisir, agar hukuman untuk Yanto semakin maksimal dari pihak kepolisian.
Yanto pun berjalan mendekati Desta untuk menghajarnya sekali lagi, namun Debby yang merasa khawatir dengan Desta, dia mencoba menghentikannya.
“Yanto, sudah cukup..! Apa masalahmu dengan Desta?” teriak Debby yang mencoba menghentikan Yanto.
“Apa masalahku dengannya? Sudah jelas bukan? Dia sudah merebutmu dariku..! Kau itu hanya pantas hidup bersamaku..!” jawab Yanto yang berhenti sejenak.
“Hueek..” Desta muntah setelah Yanto mengucapkan hal itu dan semua orang pun melihat ke arah Desta.
“Oh maafkan aku, aku tidak tahan dengan omong kosongmu yang membuatku mual, jadi, aku muntahkan saja semuanya agar tubuhku tidak panas dingin karenanya” ucap Desta, tapi karena dia mengucapkan itu, semua orang yang melihat pun tertawa terbahak-bahak, mereka menertawakan Yanto yang terlihat seperti bocah yang memperebutkan permen.
Yanto mengambil sebilah pisau lipat yang disimpannya dalam saku celananya, dan semua orang pun histeris.
“Wah, dia bawa pisau..!”
“Panggil polisi..! Ini sudah termasuk perencanaan pembunuhan”
Semua orang berteriak mencoba menghentikan Yanto, tapi tidak ada satupun yang berani maju.
“Yanto..! Hentikan, sebelum kau menyesalinya” ucap Desta yang memperingatinya.
Debby berlari menuju Yanto untuk menghentikannya, “Yanto hentikan” ucap Debby yang memegang tangan Yanto dan ingin merebut pisau darinya.
“Debby jangan..!” teriak Desta yang kemudian berdiri dari jatuhnya.
__ADS_1
Terjadi adegan perebutan pisau antara Debby dan Yanto, semua orang menduga ini akan berakhir dengan Debby yang tertusuk pisau.
Namun itu sama sekali tidak seperti yang mereka pikirkan, tak lama setelah itu, Debby berhasil merebut pisaunya tanpa tergores sedikitpun bahkan dia sempat menendang daerah rawan di antara dua kaki Yanto hingga dia pun terjatuh merintih kesakitan, dan semua orang yang melihat itu seperti merasakan ngilu yang dialami Yanto setelah mendapatkan tendangan telak seperti itu.
“Uh, itu pasti sakit” ucap Desta.
Debby berjalan ke arah Desta dengan membawa pisau tersebut, namun satu hal yang membuat Desta menyesal karena tidak cepat-cepat menyelesaikan masalah ini.
Semua orang berteriak “Awas..!” kepada Debby yang masih berjalan menuju Desta.
Ternyata Yanto dengan wajah yang sangat kesal, dan jalan yang masih sedikit tergopoh-gopoh setelah ditendang oleh Debby, mendekat dan merangkul Debby yang sedang memegang pisau lipat di tangan kanannya.
Yanto meraih tangan Debby yang memegang pisau, lalu dia mengayunkan tangan Debby yang masih belum tersadar bahwa dirinya sudah berada dalam bahaya.
“Crat..” darah pun bermuncratan setelah pisau yang dipegang oleh Debby menancap tepat di perut sebelah kanannya dan mengeluarkan banyak darah.
Debby yang melihat ke arah Desta langsung terjatuh dengan pisau yang masih menancap di perutnya.
“Debby..!” Desta berteriak dan berlari mendatangi Debby yang tergeletak dengan darah yang bercucuran deras dari perutnya.
“Siapapun tolong panggilkan ambulans..!” teriak Desta dengan meneteskan air matanya dan tampak menahan perut Debby yang tertusuk pisau tersebut dengan bajunya agar tidak mengalir lebih deras, dan semua orang pun terlihat mengambil ponsel untuk menghubungi rumah sakit terdekat untuk mengirimkan ambulans dan petugas medis.
Yanto yang terlihat syok dengan yang dilakukannya, kabur dengan langkah seribu menuju mobil dan segera menancap gas dalam-dalam.
“Yanto..!” teriak Desta memanggil nama Yanto yang kabur.
Beruntung rumah sakit tidak berada jauh dari lokasi mereka saat ini, dan 5 menit kemudian ambulans pun tiba dan langsung mengangkut Debby dengan penuh hati-hati.
Desta bersumpah akan membalaskan perbuatan Yanto kepada Debby, dan dia akan memastikan bahwa Yanto akan menerima 5 kali lebih sakit dari apa yang akan dia rasakan.
__ADS_1