
"Huh, baiklah, kasir tolong bungkus semua pakaian yang ada di toko ini..!" ucap Desta agar Agung tidak mengganggunya lagi.
"Tuan, apa kau serius?" kasir itu tidak percaya kepada Desta karena telah mengetahui dia hanyalah seorang satpam.
"Begini saja, jika aku ternyata tidak mampu membayarnya, silakan kalian panggil satpam, polisi, tentara, atau siapapun yang kau suka untuk menangkapku..! Bagaimana?" Desta menantang kasir dan semua orang yang melihatnya.
Debby tidak mengetahui kejadian ini walaupun saat Agung berteriak, karena dia punya kebiasaan mengenakan earphone saat sedang menunggu.
Tak lama kemudian, seluruh kasir dan karyawan ikut membantu mengambil dan membungkus semua baju di toko itu.
"Tuan, total semuanya menjadi 73 miliar 450 juta rupiah..!" kasir itu berkata dengan lantang dan bersiap untuk menghubungi manajer toko dan petugas keamanan jika memang Desta tidak mampu membayarnya.
Desta mengambil sebuah kartu ATM dan memberikannya pada kasir tersebut untuk melanjutkan proses pembayaran.
__ADS_1
Agung yang mendengar jumlahnya sebanyak itu hanya bisa membuka mulutnya lebar-lebar, meskipun begitu, dia semakin percaya diri bahwa Desta akan segera ditangkap dan dia pun tertawa terbahak-bahak.
"Haha, kau dengar itu? Coba baya..." dia tak sempat menyelesaikannya karena ternyata pembayarannya berhasil dan semua baju di toko itu sudah menjadi milik Desta.
Semua orang termasuk Agung hampir memuntahkan darah karena bahkan jika mereka menggabungkan uang milik mereka, tetap tidak akan bisa membeli bahkan setengah dari isi toko.
Agung pun terduduk di lantai dan bertanya "Si-siapa kau sebenarnya?".
"Sial..! Jangan semakin membual untuk menjadi bos di perusahaan Gloria, kau tahu saham perusahaan itu mencapai 2 triliun, mana mungkin kau mampu membeli bahkan 30 persen dari itu..!" Agung berkata sambil bangkit dari lantai.
"Hoo, jadi sahamnya segitu? Baiklah, kita lihat saja nanti..!" Desta menyunggingkan senyuman sinis di wajahnya.
Agung pun berjalan keluar dari toko itu dengan penuh kekesalan dalam hatinya, dia yang semula berencana mempermalukan Desta, malah dia yang dipermalukan dengan telak.
__ADS_1
"Tuan, semuanya sudah dibungkus dan siap untuk dikirim, boleh aku minta alamatmu?" kasir itu berkata dengan penuh hormat. Dia tidak peduli Desta satpam atau bukan, yang penting dia akan mendapatkan komisi yang besar karena ini.
"Tidak perlu, kau bagikan saja ke panti asuhan terdekat, aku hanya butuh baju-baju ini..!" Desta membawa baju yang dipilih oleh Debby tadi dan segera meninggalkan antrian.
Desta segera berjalan mendekati Debby dan melihat keindahan yang dia syukuri hingga saat ini.
"Deb, ini baju yang kau pilih" Desta menyerahkan baju yang sudah dibelinya.
"Terima kasih, Bontet..! Maaf ya aku merepotkanmu." Debby merasa senang namun dia berjanji ini adalah terakhir kalinya dia membiarkan Desta menghamburkan uang untuknya.
"Tidak usah kau pikirkan, ini hadiah ulang tahunku untukmu" Desta menarik tangannya dan segera berjalan menuju lift untuk segera pulang karena waktu sudah menunjukkan jam 7 malam, dia tidak ingin membuat Debby terbiasa pulang malam.
Setelah tiba di parkiran, Desta langsung menyalakan mesin motor dan segera memacu dengan kecepatan maksimal karena jarak dari Mall Central Garden ke kediaman Debby cukup jauh.
__ADS_1