
Desta hanya tersenyum mendengarkan ucapan dari bawahannya yang sedang mengamuk itu.
“Dan kau sudah membuktikan bahwa aku tidak salah mengangkatmu menjadi bawahanku..!” Desta berjalan mendekati Febrianto dan menepuk pundaknya.
“Cepatlah, bawa tubuh orang ini selagi pingsan, sebentar lagi pasti akan banyak bawahannya yang akan datang ke sini” Desta menyuruh Febrianto mengangkut Widodo yang masih tidak sadarkan diri.
“Oke bos..!” Febrianto langsung mengangkat tubuh Widodo yang tidak berdaya di pundaknya.
Mereka pun pergi meninggalkan ruangan tersebut sambil melihat sekeliling apakah aman atau tidak.
“Bos, uang yang dimenangkan tadi bagaimana?” Febrianto memang dijanjikan oleh Desta akan menggantikan uangnya yang terpakai saat taruhan tadi, hanya saja dia merasa tidak rela meninggalkan begitu banyak uang di belakangnya.
“Sudahlah, tidak ada waktu untuk menukarkannya, lagi pula aku sudah bilang akan menggantikannya nanti, ‘kan? Yang terpenting sekarang ini kita keluar dari sini..!” jawab Desta sambil berlari di depan Febrianto.
“Baiklah, kau memang yang terbaik, bos..!” Febrianto akhirnya merelakan uang yang tertinggal karena dia tahu Desta bukanlah orang yang akan mengingkari ucapan yang sudah dibuatnya.
__ADS_1
Mereka berlari melalui jalan mereka masuk, dan akhirnya tiba di lorong tempat pertama kali mereka datang.
“Bos, itu treadmill yang tadi..!” ucap Febrianto mengenali treadmill yang mengganggunya saat memasuki gedung ini.
“Mmm, berarti ini jalan yang benar” jawab Desta, dan mereka pun hampir tiba di pintu keluar.
Baru saja Desta akan membuka pintu keluar, terdengar sebuah suara tembakan dari arah belakang mereka.
“Dor.. Dor..” Desta dan Febrianto mengelak dan mencari tempat bersembunyi terdekat.
“Bos, haruskah si Widodol ini kita jadikan sandera?” ucap Febrianto kepada Desta dengan bahasa isyarat.
“Widodol? Haha, boleh juga idemu..! Oke, dalam hitungan ketiga” Desta memberikan isyarat dan menyuruh Febrianto untuk bersiap.
“Tiga..!” Febrianto berdiri sambil bersembunyi dibalik tubuh Widodo yang masih tidak sadarkan diri.
__ADS_1
“Tahan tembakan..! Dia menyandera bos Widodo..! Kurang ajar, pengecut sekali kau..!” ucap seorang pria yang sepertinya ketua dari kelompok tersebut.
“Cih, apa kalian tidak pernah bercermin? Memangnya menembaki orang yang tidak bersenjata itu tidak pengecut?” balas Febrianto, dia berniat untuk mengulur waktu agar Desta bisa menyelinap dibalik cahaya yang remang-remang.
“Beruntung orang-orang yang mendesain interior ruangan ini sangat pelit dalam pemasangan pencahayaan, aku jadi bisa memaksimalkan langkah sunyi..!” Desta mulai bergerak mengendap-endap mendekati para bawahan Widodo.
“Lagi pula, bos kalian yang memulai ribut-ribut ini..! Dia datang dengan 5 orang bawahan untuk menghajarku karena terus menang taruhan melawannya, dasar pecundang..!” Febrianto memang sangat andal dalam menarik perhatian.
“Kurang ajar..!” salah satu anak buah Widodo yang tidak terima bosnya dihina seperti itu, menembakkan pistol yang dipegangnya ke arah Febrianto.
Namun, dengan sigap Febrianto pun menghalangi laju tembakan tersebut dengan tubuh Widodo dan akhirnya peluru pun bersarang di atas tulang belikat Widodo.
“Bodoh..! Apa yang kau lakukan?” teriak ketua dari kelompok tersebut, dan dia pun menembakkan pistolnya ke tumit anak buahnya tersebut.
“Arrrgghhh..! Kakak, kenapa kau malah menembak aku?” tanya pria tersebut dengan menahan rasa sakit.
__ADS_1
“Masih untung aku tidak meledakkan kepalamu..! Sekarang pergilah dari sini, kau sudah tidak berguna..!” ucap ketuanya yang sangat marah karena bawahannya tidak mematuhi perintahnya dan bertindak seenaknya.