
“Ada apa tuan-tuan?” Sopir taksi tadi, belum pergi karena metode pembayaran yang digunakan adalah tunai dan belum dibayar oleh Desta ataupun Febrianto, lalu dia berjalan keluar mobil mendekati mereka berdua.
“Oh my God..! I-ini..!” dan Sopir taksi tersebut pun ikut memberikan ekspresi yang sama dengan mereka berdua dan mereka bertiga pun sedikit mengeluarkan darah dari hidung.
Lalu wajah mereka bertiga berubah menjadi merah dan mereka tersenyum dengan senyuman yang sangat penuh makna.
“Feb, kau kurang ajar..! Aku kan sudah ada Debby dan sebentar lagi akan menikah..!” ucap Desta yang langsung bersikap seperti orang yang penuh dengan wibawa.
“Hehe, maafkan aku bos, aku tidak sengaja” ucap Febrianto sambil tersenyum yang tidak menunjukkan rasa bersalah sama sekali.
Saat Febrianto akan menyimpan ponsel miliknya ke saku celana, Desta menghentikannya dan berkata, “Ehem, sudah kau simpan lokasinya?”.
“Sudah..!” Febrianto dan sopir taksi tersebut serentak menjawab Desta.
“Bagus, kalau begitu sekarang kita pergi ke hotel Himalaya yang benar..!” ucap Desta dan dia kembali masuk ke dalam mobil taksi tadi.
“Tuan, apakah kalian akan membayarku? Karena, jika kita ingin pergi ke hotel Himalaya yang satunya lagi, perjalanannya akan dua kali lebih panjang dan tentu biayanya akan lebih banyak lagi..!” tanya Sopir taksi tersebut memastikan sebelum mereka melanjutkan perjalanan.
“Kau tenang saja..! Aku akan memberikanmu 200 juta setelah perjalanan ini..!” ucap Desta untuk meyakinkan sopir taksi tersebut.
__ADS_1
“Oke..!” teriak sopir taksi tersebut tanpa bertanya atau merasa curiga sedikitpun.
Mereka pun pergi meninggalkan hotel Himalaya yang lain tersebut menuju hotel Himalaya yang sebenarnya dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam.
Waktu sudah menunjukkan jam 5 subuh dan mereka akhirnya tiba di hotel Himalaya yang dimaksud.
“Oh aku sangat lelah, tapi aku tidak bisa tidur sebelum membereskan Widodol ini..!” ucap Desta dan Febrianto hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Mana mungkin Febrianto bisa tidur ketika bosnya saja tidak tidur karena urusan keluarganya.
“Oke, berikan nomor rekeningmu..! Aku akan transferkan uangnya sekarang..!” ucap Desta untuk menepati janjinya tadi dan sopir tersebut memberikan nomor rekeningnya kepada Desta.
“Ting..” suara ponsel sopir tersebut berbunyi karena pemberitahuan dari bank tempatnya menabung mengirimkan pesan.
Dengan wajah kusut dan kantung mata yang sudah punya kantung mata lagi, mereka berjalan menuju lobby dan Desta menyuruh Febrianto untuk menghubungi orang tuanya.
“Ayah, Ibu, aku dan bos Desta sudah ada di lobby” ucap Febrianto saat panggilan teleponnya diangkat.
“Oh, akhirnya kau sudah tiba ya?” sebuah suara yang bukan dari Tirta ataupun Dewi.
__ADS_1
“Widodo..!” ucap Febrianto dengan nada kesal.
Desta langsung menoleh ke arah Febrianto dan wajahnya menjadi semakin kusut mendengar nama Widodo disebutkan dengan keras oleh Febrianto.
“Bajingan..! Di mana orang tuaku? Kau apakan mereka? Jika kau sampai berani menyakiti mereka, aku akan..” ucapan Febrianto langsung disela oleh Widodo.
“Oh apa? Kau akan apa? Memukulku hingga mati? Haha, memangnya kau bisa apa dengan hanya berdua dengan temanmu yang psikopat itu?” ucapan Widodo terdengar dengan jelas karena Febrianto menelepon dengan mode pengeras suara.
“Oh, tadinya aku mau bilang kalau aku akan mengebiri dirimu..! Tapi, usulmu untuk memukul hingga mati sepertinya bisa dijadikan pilihan lain” jawab Febrianto sambil tersenyum jahat.
“Bagus..! Aku bangga denganmu..!” bisik Desta dari jauh dengan mengacungkan jempolnya.
Sambil menelan ludah Widodo berkata, “Sialan..! Memangnya kau bisa melakukan itu sedangkan orang tuamu sedang terancam seperti ini?”.
“Kau..! Oke oke, sebutkan saja apa maumu agar kau melepaskan orang tuaku?” tanya Febrianto yang menahan amarahnya.
“Tidak banyak, cukup kembalikan semua asetku yang kalian curi sampai jam 10 malam ini dan kalian datanglah ke alamat yang akan kirimkan sebentar lagi..! Oh, jangan pernah berpikir untuk membawa tukang pukul atau polisi..! Jika tidak, kau hanya akan menerima 2 kantung mayat orang tuamu, haha..!” ucap Widodo mengancam, lalu panggilan telepon pun dimatikan.
Febrianto terdiam untuk sementara dan memasukkan ponsel miliknya ke saku celana, lalu dia berdiri dan menarik nafas panjang untuk meneriakkan “Bajingan kau Widodo..!” dengan seluruh amarah dan emosi yang bisa dirasakan oleh Desta.
__ADS_1
Desta berdiri dari duduknya lalu berjalan melewati Febrianto dan berkata “Sudah? Kalau begitu, sekarang beristirahatlah untuk mengumpulkan tenaga agar kau tidak salah serang nanti malam..!”.
“Baik bos..!” jawab Febrianto, Desta pun pergi ke resepsionis dan memesan 2 kamar yang berbeda untuk mereka beristirahat setidaknya hingga pasukan Elang Hitam tiba.