
“Permisi” Ferry membuka pintu dan langsung berjalan menuju Jayanti.
“Ferry” dia menjabat tangan Jayanti dan memperkenalkan diri, dan mereka pun mulai bernegosiasi.
“Jadi, kau sudah tahu pokok permasalahannya bukan? Bagaimana caramu untuk meyakinkanku agar kontrak kerja sama ini tetap dijalin?” ucap Jayanti yang melihat tajam kepada Ferry.
“Caraku? Eh, itu, aku berencana akan melamarmu setelah ini..!” ucap Ferry yang terlihat sangat tidak serius dengan negosiasi itu dan Hendra yang duduk membelakangi di sofa hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Oh begitu? Oke..!” ucap Jayanti.
“Oke? Berarti kau mau ku...” Ferry tidak sempat menyelesaikan ucapannya.
“Keluar..! Aku tidak mau berurusan dengan orang yang membuang waktuku sepertimu..!” teriak Jayanti yang membentak Ferry, dan Ferry pun terkejut dengan bentakan.
__ADS_1
“Kau pikir aku datang jauh-jauh dari Heir Group ke sini hanya untuk mendengar lelucon ini, hah?” sambung Jayanti dan dia pun mengusir Ferry keluar dari ruangan direktur.
“Ah sial, aku mengacaukannya..! Tapi bukan salahku juga, soalnya dia terlalu seksi..! Dengan rambut panjang dan kacamata yang menggoda seperti itu, siapa yang tidak kehilangan fokus?” gumam Ferry dengan wajah yang terlihat memerah karena memikirkan hal yang macam-macam tentang Jayanti.
“Ckrek..” pintu ruangan divisi pemasaran dibuka oleh Ferry dan semua orang langsung tahu bahwa dia gagal karena wajahnya yang terlihat kecewa.
“Oke, kalau begitu sekarang giliranku” ucap salah satu karyawan.
“Heh, sudah tiba saatnya aku beraksi” gumam Agung dan langsung melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ruangan direktur.
Agung pun tiba di ruangan direktur dan memulai negosiasinya.
Negosiasi itu terlihat sangat lancar dan Agung pun semakin terbawa suasana dan semakin terlihat membangga-banggakan dirinya lalu dia pun mulai membandingkan dirinya dengan karyawan lain yang prestasinya berada jauh di bawahnya.
__ADS_1
“Jadi ini si Agung yang dibicarakan tuan muda, wajar saja jika dia digantikan oleh nona Debby..! Untuk kualitas kerjanya mungkin memang bagus, tapi dengan sikap sombongnya ini aku yakin lama kelamaan akan merusak mental bawahannya dan cepat atau lambat akan benar-benar menurunkan persentase produktifitas perusahaan” gumam Jayanti sambil melihat Agung yang sedang berbicara sendiri tentang kemampuan dirinya yang berada di atas rata-rata.
“Oke cukup, aku sudah mengerti tentang dirimu, dan keputusan negosiasi ini akan aku umumkan setelah aku memutuskan yang terbaik, sementara ini kau sudah sedikit menarik perhatianku, jadi silakan kembali” ucap Jayanti.
“Baiklah kalau begitu, aku permisi dulu” jawab Agung dengan senyuman penuh keyakinan bahwa dialah yang akan memenangkannya.
Agung berjalan kembali ke ruangan pemasaran, dan melihat ke arah Debby, “Kau dengar ini baik-baik..! Negosiasi ini, aku yang akan memenangkannya dan akulah yang akan menyelamatkan perusahaan dari kesalahanmu..!” ucap Agung sambil menunjuk ke arah Debby.
“Wah, jika kau sudah seyakin itu berarti ada kemungkinan nona Jayanti akan menerima gagasanmu dan mencapai kesepakatan kembali..!” ucap Ferry yang membuat karyawan lainnya merasa kagum dengan Agung.
“Ya, semoga saja..!” jawab Debby santai.
“Cih..! Memangnya kau bisa melakukan yang lebih baik dariku? Coba saja kalau kau bisa..! Paling-paling juga kau hanya akan diusir seperti kucing liar, haha..!” cerca Agung kepada Debby dan dia pun langsung duduk ke meja kerjanya dengan perasaan yang sangat bangga.
__ADS_1