Si Miliarder Muda

Si Miliarder Muda
Widodo Panik


__ADS_3

“Kardi, apa yang terjadi?” tanya Widodo kepada pemimpin pasukan pengawalnya.


“Aku juga tidak tahu, tapi akan segera memeriksanya, tuan..!” jawab Kardi, sambil melambaikan tangan untuk menyuruh beberapa dari sisa pasukannya ikut bersamanya.


Desta menunggu ketika tidak begitu banyak orang yang berada didekat kedua orang tua Febrianto untuk melakukan rencananya.


Dia berencana untuk menyuruh Jefrey dan penembak jitu menghabisi sisa pasukan Widodo dengan senjata yang bisa menembus dinding dan baru saja menyelamatkan Febrianto.


“Bos, sepertinya tuan muda akan segera melancarkan aksinya..!” ucap salah satu penembak jitu yang masih memantau situasi di dalam ruangan dengan teropong pendeteksi panas yang bisa menembus tembok hingga setebal 100 milimeter.


“Mmm, tunggu perintahku..! Ingat, hanya sisakan orang yang memegang senjata revolver itu sesuai dengan perintah tuan muda..!” Jefrey bersiap untuk memberikan perintah kepada penembak jitu ketika Desta sudah memberikan aba-aba kepadanya.


“Siap..!” jawab semua penembak jitu.

__ADS_1


Sementara itu, Widodo yang ketakutan langsung saja mengikuti Kardi dari belakang sambil memegang sebuah pistol di tangan kanannya.


“Seharusnya tidak apa-apa mereka aku tinggal, karena tidak mungkin ada orang yang bisa masuk ke sini tanpa ketahuan” pikir Widodo dengan logikanya.


Tirta dan Dewi merasakan sesuatu yang bergerak di pergelangan tangan mereka lalu terkejut saat melihat ke arah samping kanan.


“Ssshhhh....” Desta menutup mulutnya dengan jari telunjuk untuk mengisyaratkan kepada mereka agar tetap tenang dan tidak membuat suara apapun.


Setelah mereka berdua menganggukkan kepala, secara perlahan Desta melucuti tali yang mengikat kedua tangan mereka.


“Sekarang..!” Desta memberikan perintah kepada Jefrey dan pasukan penembak jitu untuk melumpuhkan sisa pasukan Widodo sambil menyeret Tirta dan Dewi ke tempat yang aman dari jarak tembakan.


“Cep.. Cep.. Cep..” bunyi peluru yang teredam, menembus tembok setebal 50 milimeter langsung menghantam pasukan Widodo saat mereka akan keluar untuk mengecek situasi di luar ruangan.

__ADS_1


Semua tembakan mengenai targetnya, dan hanya menyisakan Widodo saja dengan rasa kebingungan yang amat sangat.


“Kardi..! Apa yang terjadi? Hei, kalian semua, ada apa? Apa yang terjadi?” teriak Widodo saat melihat semua pasukan yang menjadi harapan terakhir untuk melindungi dirinya dari Desta dan Febrianto.


Desta menyuruh kedua orang tua Febrianto untuk bersembunyi dibalik tumpukan kursi dan meja yang akan menutupi pandangan Widodo agar tidak tertembak secara tidak sengaja.


Setelah yakin dengan keamanan mereka berdua, Desta langsung berdiri untuk menghadapi Widodo.


“Sekarang, hanya tinggal kau..!” ucap Desta yang mengagetkan Widodo, dan secara spontan dia pun menembakkan pistolnya ke arah sumber suara.


“Dorr.. Dorr.. Dorr.. Dorr..” namun, tak satupun peluru yang mengenainya karena keadaan gelap membatasi pandangan Widodo.


Desta memutari ruangan untuk membingungkan Widodo tentang posisinya, “4 peluru sudah kau tembakkan, jadi, kau masih punya 2 kesempatan lagi untuk menembakku..!” ucap Desta dari arah kiri Widodo.

__ADS_1


“Jangan main-main denganku..!” Widodo dengan sangat panik langsung saja menembakkan sisa peluru yang dimilikinya ke arah suara Desta tanpa membidik lagi.


“Dorr.. Dorr.. Cek.. Cek.. Cek..” dan Widodo pun kehabisan peluru tapi masih terus menarik pelatuk pistol di tangannya


__ADS_2