
“Pak Patrick saja sampai dibuatnya seperti itu? Orang ini benar-benar berbahaya..!” Rio tidak berani melihat ke arah Desta saat dia berjalan melewatinya menuju pintu keluar.
“Untuk saat ini lebih baik aku mencari bantuan untuk semua orang yang terluka” Rio berdiri dan berusaha mencari ponsel miliknya saat dia tidak melihat kehadiran Desta lagi di area kantor polisi tersebut.
“Tolong kirim bantuan ke kantor cabang desa Kadipaten, kami baru saja diserang oleh seorang psikopat yang menyebabkan banyak kerusakan dan korban di sini” Rio menghubungi kantor pusat di kota Jogjakarta untuk mengirimkan bantuan dengan segera.
Tapi, jawaban yang didapatkannya malah membuatnya semakin terkejut.
“Kau Rio dari kantor cabang Kadipaten? Kau yang sudah berani menantang jenderal Winoto saat dalam panggilan telepon?” ucap seorang pria di ujung telepon.
“Hah? Apa yang kau bicarakan? Tahu dari mana kau tentang jenderal Winoto palsu yang dihubungi oleh psikopat itu?” Rio benar-benar kebingungan dengan pertanyaan pria tersebut.
“Tunggu dulu, jangan-jangan yang diucapkan orang itu adalah kebenaran? Itu artinya jenderal Winoto yang diteleponnya tadi benar-benar jenderal Winoto yang asli?” gumam Rio, dia merasa kalau memang ini bukan sebuah lelucon, maka, hidupnya akan segera tamat.
“Dengar kau, mulai saat ini kau dan semua pasukan yang ada di kantor cabang tersebut bukan lagi bagian dari kepolisian, dan jenderal Winoto sendiri yang akan memecat kalian saat tiba di sana sebentar lagi..!” ucap pria di ujung telepon.
__ADS_1
“Jangan bicara omong kosong..! Jika semua petugas kantor cabang desa Kadipaten dipecat, siapa yang akan menjaga ketenangan Desa?” bentak Rio yang tidak terima dengan pernyataan pria tersebut.
“Oh jadi, kau pikir menangkap dan memukuli warga tidak bersalah karena sudah menerima suap dari seseorang itu adalah bentuk dari menjaga ketenangan Desa? lagi pula, jika hanya masalah pengganti saja, itu hal yang tidak bisa dikhawatirkan” jawab pria di ujung telepon.
“Deg.. deg..” detak jantung Rio tiba-tiba semakin cepat setelah mendengar ucapannya.
“Dia tahu dari mana soal itu?” gumam Rio dan dia benar-benar kebingungan saat ini, dia sangat ketakutan tapi juga tidak ingin kehilangan pekerjaannya.
“A-apa maksudmu? Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan” Rio masih berusaha mengelak dari tuduhan tersebut.
“Halo? Siapa ini?” ucap seorang pria yang mengambil alih panggilan telepon dari pria sebelumnya.
“Aku Rio dari unit cabang desa Kadipaten..! Anda siapa? Aku sedang melaporkan hal penting kepada kantor pusat, tolong berikan teleponnya kembali..!” meskipun Rio sudah ketahuan oleh kantor pusat, dia masih berusaha untuk mengelak dan bersikap seolah dia tidak bersalah.
“Kau tahu siapa aku, dan aku akan segera datang ke sana..!” ucap pria tersebut.
__ADS_1
“Je-jenderal Winoto?” Rio langsung mengenali suara jenderal WInoto karena sudah berbicara dengannya tadi.
“Menyerah saja, kau tidak akan bisa lari dari kesalahanmu..! Kalaupun kau berhasil kabur saat aku tiba nanti, kau pikir butuh berapa lama yang dibutuhkan polisi pasukan khusus untuk menemukanmu?” ucap jenderal Winoto.
“I-itu.. Baiklah, aku menyerah..!” karena terlalu asyik menindas warga desa, Rio melupakan betapa kuat dan profesionalnya pasukan khusus di kepolisian.
Bahkan, untuk menemukan jejak seorang ******* yang sangat sulit dilacak saja hanya butuh waktu setengah hari untuk membekuknya.
Apalagi hanya mencari dirinya yang seorang polisi berpangkat rendah dan identitasnya sudah diketahui oleh seluruh jajaran kepolisian.
Jadi, mau lari kemanapun akan percuma baginya.
“Bagus, kalau begitu tunggu saja di sana dan jangan mencoba melakukan apapun..!” jenderal Winoto mematikan panggilannya dan meninggalkan Rio terdiam seribu bahasa.
“Aku benar-benar salah karena mengira orang itu hanya membuat sebuah lelucon” gumam Rio yang membicarakan tentang Desta, dia mengepalkan tangannya dengan sangat kuat karena kekesalan yang ada didalam hatinya.
__ADS_1