Si Miliarder Muda

Si Miliarder Muda
Alasan Yang Sesungguhnya


__ADS_3

"Jadi begitu..! Tidak heran kau bisa mendadak menjadi seorang pemegang saham terbesar di perusahaan Gloria dan pasti kartu VIP tadi bukanlah hasil undian kan?" tanya Debby yang menunjuk wajah Desta.


"Hehe, bukan, aku membelinya dengan saldo 100 miliar untuk membuat pemegang kartu itu bisa makan gratis sepuasnya" ucap Desta sambil mengusap-usap rambutnya sendiri.


"Huh, dasar kau ini, dari dulu tidak pernah berubah kalau soal makanan..!" Debby menepuk dahinya setelah mengetahui Desta menghabiskan uang sebanyak itu hanya demi makanan.


"Kalau begitu pasti kau akan sangat kesulitan ya jika banyak orang yang mengetahui identitasmu yang begitu luar biasa ini" Debby memegang dagunya dan membuat ekspresi sedang berpikir.


"Ya begitulah..! Itu sebabnya aku tidak pernah muncul di publik ketika paman Sebastian mengumumkan keberadaan Heir Group dan membiarkan paman Sebastian yang akan mengurusnya, walaupun seluruh Heir Group adalah milikku, aku hanya bertugas untuk menentukan kontrak kerja sama antar perusahaan diterima atau tidak" sambung Desta.


"Dan itu juga menjadi alasan kenapa aku memilih pekerjaan yang tidak dianggap" Desta menjelaskan alasannya menjadi seorang kurir dan kemudian menjadi seorang satpam adalah untuk menutupi identitasnya yang asli.


"Kalau begitu, aku berjanji akan menjaga rahasiamu sampai kau sendiri yang memutuskan untuk membongkarnya ke publik" ucap Debby yang mengulurkan jari kelingkingnya untuk berjanji.


"Oke, aku pegang janjimu..!" Desta menyambut jari kelingking Debby dengan jari kelingkingnya lalu dia mengacak-acak rambut Debby.


Tak lama kemudian, mereka telah tiba di rumah Debby, Desta melihat pintu rumah yang terbuka lebar dan dia melihat ke arah Debby.

__ADS_1


"Deb, apa pintu rumahmu memang selalu dibuka lebar seperti itu?" tanya Desta yang bersiaga.


"Tidak, biasanya ditutup walaupun ada orang di dalam rumah" Debby dan Desta menyadari sesuatu yang tak beres sedang terjadi.


Mereka segera berlari menuju rumah, Desta menyuruh Debby menunggu di luar dan bersiap untuk berteriak minta tolong jika sesuatu yang buruk terjadi.


Desta pun masuk ke dalam rumah dan melihat pintu kamar juga terbuka lebar.


Dia berjalan sangat pelan mendekati kamar itu, hingga akhirnya dia melihat seseorang yang duduk di lantai dan sedang menangis mengulangi kata-kata maafkan aku berkali-kali.


"Bibi..! Apa yang terjadi di sini?" tanya Desta yang berjalan mendekat secara perlahan namun Anna masih tidak merespon pertanyaan Desta.


Desta berjalan mendekat hingga akhirnya jarak mereka hanya sejengkal saja.


"Maafkan aku..! Maafkan aku..! Maafkan aku Lia..!" Anna terdengar sangat menyesali perbuatannya, dia seperti takut akan kehilangan Lia karena luka pukulan yang diterimanya karena ulah ibunya sendiri.


"Bibi, tenanglah..! Lia sudah sadar dan masalah hutangmu sudah terselesaikan" ucap Desta yang mencoba menenangkan Anna.

__ADS_1


"Tidak mungkin..! Bagaimana kau bisa melunasi hutangku begitu saja? Leon bukan orang seperti itu, dia tidak akan memberikan surat hutang itu padaku, dan selamanya aku akan terlilit hutang padanya..!" Anna benar-benar depresi berat karena 2 hal tersebut.


"Bibi, tenanglah..! Surat hutang yang kau bicarakan itu sudah aku bakar dan hutangmu juga sudah aku lunasi, dan lagi orang yang menganiaya Lia sudah mendapatkan hukumannya..!" ucap Desta, dan itu bisa membuat Anna berhenti mengucapkan hal yang sama yang dari tadi dia ucapkan.


"Apa benar seperti itu?" tanya Anna dengan suara yang bergetar.


"Aku tidak pernah bohong untuk urusan penting seperti ini..!" Desta menjawab dengan penuh kepastian, dan akhirnya Anna benar-benar berhenti menangis lalu terbaring di lantai karena lemas.


Desta segera mengangkat Anna ke luar rumah dan menyuruh Debby untuk menelepon ambulans.


"Sepertinya ibumu depresi karena masalah hutangnya dan Lia yang menjadi korban pemukulan karena hutang itu" ucap Desta.


"Tapi tenang saja, sepertinya dia hanya kelelahan karena banyak pikiran hingga akhirnya pingsan" sambung Desta untuk menenangkan Debby yang sangat khawatir pada ibunya.


"Mmm, aku percaya padamu..!" jawab Debby yang mengusap air matanya.


Lalu mereka kembali lagi ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan bagi Anna.

__ADS_1


__ADS_2