Si Miliarder Muda

Si Miliarder Muda
Kau Benar-Benar Menguji Keberuntunganmu


__ADS_3

Desta akhirnya memutuskan untuk memancing mereka satu per satu untuk melumpuhkan mereka secara perlahan.


“Saat aku lampu itu aku pecahkan, kau larilah ke arah yang berlawanan denganku dan bersembunyilah, kita akan memancing salah satu dari mereka keluar lalu kita lumpuhkan dari belakang” Desta berkata kepada Febrianto sambil menunjuk ke arah lampu yang ada di sepanjang lorong, berencana untuk merebut senjata yang bisa dia gunakan untuk berperang melawan semua penjaga bersenjata itu dengan cara melumpuhkan salah satu dari mereka terlebih dahulu.


Jika saja penjaga di luar tadi memiliki senjata, mereka pasti akan langsung menyerbu.


“Prang...” suara lampu yang pecah membuat pencahayaan di lorong menjadi hilang dan mengagetkan semua orang yang di dalamnya termasuk Febrianto.


“Kenapa kau malah ikut kaget? Cepat lari dan jalankan rencana” bisik Desta kepada Febrianto.


“Maaf bos, aku memang gampang kaget” lalu Febrianto berlari melewati pintu ruangan Harianto dan Herman, lalu bersembunyi di balik sebuah kotak besar.


“Siapa di sana?” Harianto berteriak dan mengisyaratkan 2 orang untuk memeriksanya.


Mereka berjalan perlahan mendekati lorong, Desta dan Febrianto bersiap untuk menyergapnya saat kedua orang itu berada cukup dekat.

__ADS_1


Salah satu dari 2 orang itu memberi isyarat untuk memeriksa di kedua arah, jadi mereka berpencar ke arah kiri dan kanan, sungguh keputusan yang akan mereka sesali seumur hidup mereka karena itulah yang diinginkan Desta dan Febrianto.


Ketika sudah cukup dekat dengan posisi Febrianto dan Desta,


“Buk...”


Pukulan keras menghantam kepala kedua penjaga itu dan langsung merobohkannya, senjata yang mereka pegang pun langsung direbut oleh Febrianto dan Desta.


Desta menganggukkan kepalanya kepada Febrianto menandakan rencananya akan segera dimulai.


Karena tak kunjung ada jawaban dari orang suruhannya, dia pun mengutus 2 orang lagi untuk mengecek situasi di sana, namun belum sempat mereka berjalan, suara tembakan terdengar dari arah lorong.


Desta sengaja menembakkan senjatanya dan melemparkan tubuh kedua orang tadi ke dalam ruangan untuk membuat mereka panik.


“Siapa yang sudah berani masuk dan mengacau?” teriak Harianto yang sangat marah dan segera memanggil semua pasukannya yang berjaga di pintu depan, mereka berjumlah 15 orang dan membuat seluruh pasukan yang ada di dalam ruangan itu berjumlah 35 orang.

__ADS_1


“Serahkan Herman padaku dan kalian akan aku berikan kesempatan untuk melihat esok hari” jawab Desta dengan sedikit mengintimidasi.


“Hei, kau pikir dirimu siapa berani mengancam seperti itu, hah?” jawab Harianto yang semaklin berang.


“Hoo, jadi kau sudah lupa dengan orang yang sudah mengalahkanmu?” Desta memberikan petunjuk kepada Harianto dan Herman.


“Kau tetaplah bersembunyi di sini hingga aku berikan isyarat” ucap Desta pelan agar Febrianto menjadi penyelamatnya ketika situasi menjadi tidak baik dan Febrianto mengangguk mengerti dengan rencana Desta.


“Ka-kau, bajingan, apakah kau pikir dirimu sudah sangat hebat karena mengalahkanku hingga kau berani menerobos masuk ke sini seorang diri?” jawab Harianto.


“Herman, sebaiknya kau pegang ini untuk berjaga-jaga” Harianto memberikan pistol dengan amunisi sebanyak 20 peluru untuk melindungi dirinya saat keadaan terdesak.


“Tidak, aku tidak merasa sangat hebat, tapi aku memang sangat hebat..!” jawab Desta yang bermaksud untuk memancing emosi Harianto dan menunggunya melakukan kesalahan.


“Herman, kau benar-benar sudah menguji keberuntunganmu, jadi sekarang aku datang untuk menghukummu..!” lanjut Desta.

__ADS_1


Desta berniat untuk langsung masuk dan segera bersembunyi di balik tiang beton yang ada di depannya, dengan begitu dia akan memiliki kesempatan untuk mendekati Herman dengan mengalahkan pasukan Harianto satu per satu.


__ADS_2