
Sesaat kemudian, ponsel milik Desta berdering oleh panggilan masuk dari Sebastian.
“Paman” ucap Desta saat menjawab panggilan telepon tersebut.
“Tuan muda, aku minta maaf sebelumnya karena baru terpikirkan sekarang olehku” ucap Sebastian sebelum membicarakan sesuatu kepada Desta.
“Meminta maaf untuk apa, paman?” tanya Desta kebingungan sambil menaikkan sebelah alisnya.
“Dengan rencana pembangunan area perumahan elite, aku akan menyiapkan satu area yang paling luas dengan pemandangan yang paling bagus sebagai hadiah pernikahan Anda nanti” ucap Sebastian.
Entah secara kebetulan atau ini adalah perintah ayahnya, yang jelas Desta merasa sangat terbantu dengan berita tersebut dan dia menutup panggilan telepon dengan senyuman lebar di wajahnya setelah mengucapkan terima kasih kepada Sebastian.
“Bontet, kau jangan menakutiku seperti itu..! Apa yang membuatmu tersenyum begitu?” ucap Debby.
“Haha, maaf maaf, aku hanya senang karena tidak perlu repot-repot lagi mencari tempat tinggal” jawab Desta.
“Hmm?” Debby masih belum paham dengan ucapan Desta.
“Sudah, kau tidak usah berpikir terlalu keras, nanti kepalamu bisa berasap” ucap Desta sambil mengacak-acak rambut Debby.
__ADS_1
“Kenapa sih?” Debby mencubit perut Desta lalu memutarnya, dia masih merasa penasaran dan tidak bisa menghilangkannya sebelum Desta mengatakan yang sebenarnya.
“Haha, kau ini benar-benar sangat cantik meskipun sedang marah” ucap Desta sambil menahan rasa sakit karena cubitan yang masih berlangsung di perutnya.
“Huh, ya sudah kalau kau tidak mau memberitahukan..!” ucap Debby dengan nada ketus tanpa melepaskan cubitannya.
Karena sudah tidak tahan dengan cubitan yang semakin lama semakin pedas, akhirnya Desta langsung mengatakannya kepada Debby, “Tadi, paman Sebastian menghubungiku untuk memberikan hadiah pernikahan kita nanti” ucap Desta sambil memicingkan matanya.
“Hmm, hanya itu saja?” tanya Debby.
“I-iya hanya itu saja” jawab Desta sambil memasang wajah seperti memohon untuk segera dibebaskan dari cubitan yang semakin pedas.
“Ya sudah, aku percaya dengan ucapanmu..!” ucap Debby, lalu dia melepaskan cubitan dari perut Desta.
Karena tidak tahu mau ke mana, Desta membawa Debby pergi ke taman kota yang sebelumnya dia memang ingin mengajaknya ke sana.
30 menit kemudian, mereka tiba di taman kota dan langsung duduk di kursi yang tersedia di sana setelah memesan beberapa gelas minuman dingin.
“Deb, tumben sekali kau begitu penasaran dengan panggilan telepon yang aku terima?” tanya Desta penasaran.
__ADS_1
“Ah itu, aku..” Debby terhenti sebentar dan ekspresinya pun berubah menjadi sedikit sedih.
“Kau kenapa?” tanya Desta bingung.
“Aku.. aku ingin kau segera menghentikan kegiatan yang berhubungan dengan kekerasan..! Kau tahu betapa cemasnya aku setiap kali bertanya kepada tuan Sebastian dan beliau memberitahukan kepadaku bahwa kau sedang berurusan dengan kejahatan ini dan itu” ucap Debby dengan mata yang berkaca-kaca.
“Aku tahu kau sangat hebat dalam berkelahi, tapi, aku tidak tahu apa yang akan mungkin terjadi padamu saat itu..!” Debby akhirnya mulai menitikkan air matanya karena setelah selama ini, dia bisa mengatakan kepada Desta tentang kecemasannya.
“Apakah kau tidak pernah memikirkan perasaanku?” tanya Debby.
Dengan perasaan yang tersentuh, Desta pun menarik Debby yang sedang menangis ke pelukannya.
“Sshhh, tenang saja, yang tadi adalah terakhir kalinya aku berurusan dengan penjahat” ucap Desta sambil mengelus kepala Debby.
“Sebelumnya juga kau berkata seperti itu, tapi kenyataannya..” Debby masih tidak bisa langsung percaya dengan ucapan Desta barusan, lalu dia memukul-mukul pelan dada Desta.
“Haha, kali ini aku benar-benar berjanji tidak akan berurusan dengan para penjahat secara langsung” ucap Desta yang berusaha meyakinkan Debby.
“Benar kali ini akan kau tepati?” tanya Debby terisak-isak.
__ADS_1
“Mmm, aku berjanji..!” ucap Desta yang mengacungkan jari kelingkingnya kepada Debby.
Debby menyambut jari kelingking Desta dan kali ini dia mempercayai ucapannya.