Si Miliarder Muda

Si Miliarder Muda
Pulang Ke Jakarta


__ADS_3

Keesokan harinya..


Desta terbangun karena ponselnya berdering karena panggilan masuk dari Febrianto.


“Bos, apakah Anda sudah bersiap-siap? Jadwal penerbangan kita 2 jam lagi, aku menghubungimu karena dari tadi tidak ada kabar” ucap Febrianto yang mengingatkan Desta tentang jadwal keberangkatan mereka ke Jakarta.


“Ah iya, aku hampir melewatkannya..! Oke aku akan bersiap, terima kasih Feb..!” jawab Desta dan segera mengakhiri panggilan teleponnya.


Febrianto segera turun ke parkiran hotel untuk memanaskan mesin mobil.


“Aku benar-benar tidak tahu bos Desta ternyata tukang tidur, haha..!” ucap Febrianto yang sudah masuk dan menunggu Desta di mobil.


Tak lama kemudian Desta menyusul dengan wajah yang kelelahan.


Wajar saja, itu karena dia telah kehilangan banyak darah yang baru pertama kali dia alami.

__ADS_1


Lalu mereka segera pergi meninggalkan hotel setelah melakukan check out dan Desta kembali menutup matanya untuk beristirahat sebentar lagi.


“Kita langsung saja menuju bandara, aku tidak ingin repot-repot mengejar waktu, kita akan makan pagi di bandara saja” ucap Desta yang masih menutup matanya.


“Oke bos” jawab Febrianto yang langsung menginjak pedal gas dalam-dalam.


“Bos, aku ingin bertanya tentang suatu hal, apakah boleh?” walaupun dia menyanggupi perintah Desta untuk menjadi pengawalnya, tapi dia masih tidak mengerti apa permasalahan Desta dengan Herman hingga dia terlihat begitu benci kepadanya.


“Apakah Herman sudah menyinggungmu hingga kau rela datang ke Malang hanya untuk membunuhnya?” tanya Febrianto dengan nada yang penasaran.


“O-oke bos, aku akan mengingat hal itu..!” jawab Febrianto dan kembali memfokuskan kemudinya.


20 menit kemudian mereka telah tiba di bandara dan mobil yang mereka sewa pun sudah dijemput oleh pemilik sewa mobil, lalu mereka segera menuju loket untuk memverifikasi tiket dan menunggu di ruang tunggu.


“Feb, tentang hadiah yang aku bicarakan sebelumnya, kau ingin apa?” tanya Desta yang ingin menepati janjinya.

__ADS_1


“Eh itu, aku belum memikirkannya, apakah bisa aku minta nanti bos?” jawab Febrianto, dia masih tidak yakin dengan apa yang benar-benar dia inginkan.


“Oke..! kalau kau sudah memutuskannya, beritahu saja padaku” ucap Desta dengan senyuman kecilnya.


“Baik bos, terima kasih banyak” Febrianto menganggukkan kepalanya.


Setelah menunggu lumayan lama, akhirnya berita untuk segera menaiki pesawat pun diumumkan, dan mereka segera masuk ke dalam pesawat yang tidak lama lagi akan lepas landas.


Perjalanan mereka sangat nyaman tanpa adanya gangguan sedikitpun, pesawat yang terbang di ketinggian 30 ribu kaki di atas awan, dan menempuh 1 jam 25 menit hingga akhirnya tiba di bandara Soekarno Hatta.


“Huwaaah, tidurku nyenyak sekali selama perjalanan, sekarang aku sudah segar kembali” Desta berjalan di depan Febrianto sambil meregangkan badannya.


“Bos, untuk barang-barangmu biar aku saja yang mengambilkan, Anda tunggu di dekat antrian taksi saja” ucap Febrianto yang menawarkan diri untuk mengambil barang-barang bawaan mereka.


“Mmm, oke aku akan serahkan ini padamu kalau begitu” Desta menganggukkan kepalanya dan segera berjalan menuju ke dekat barisan antrian untuk menunggu taksi.

__ADS_1


__ADS_2