
Desta masuk ke dalam gedung melalui aula terkecil yang pintu masuknya berada jauh dari aula utama, dan pintu masuk aula utama harus memutari gedung yang besar itu, Desta jadi sedikit malas untuk berjalan sejauh itu.
“Huh, area gedung ini terlalu besar, aku lewat sini sajalah, hitung-hitung aku sekalian melihat-lihat isi gedung pesta ini” gumam Desta saat berjalan di dalam aula terkecil yang dimasukinya pertama kali.
Desta masuk ke dalam aula terkecil tersebut dan dengan segera dia melihat semua orang yang sedang bercengkerama dan menikmati pesta.
“Hai, aku dari tadi penasaran, kenapa pestanya diadakan secara terpisah seperti ini? Maksudku, kenapa tidak diadakan di aula utama saja semuanya?” tanya Desta kepada salah satu pelayan yang sedang meletakkan minuman dingin di atas meja.
“Oh untuk hal itu memang sengaja dibedakan oleh tuan besar Sony, karena yang diundang adalah dari kalangan menengah hingga elite, dan aula utama adalah aula khusus dari kalangan elite” jawab pelayan tersebut.
“Hah? Memangnya kenapa dipisah seperti itu?” tanya Desta penasaran.
“Ya kalau itu sih menurutku, karena status sosial yang kalau ruangan pestanya disatukan bisa berujung pada keributan karena kalangan elite pasti akan sangat merendahkan kalangan menengah” jawab pelayan itu lagi.
“Haha, seperti itu ternyata..! Baiklah, kalau begitu aku sudah mengerti, terima kasih atas penjelasannya” ucap Desta sambil mengambil minuman dingin yang sudah diletakkan pelayan tersebut di atas meja dan dia melanjutkan berkeliling.
__ADS_1
“Haha, ternyata paman Sony bisa berpikir seperti itu juga, bagus sih, karena aku sendiri sering mengalami yang namanya diremehkan” gumam Desta dengan menyeruput minuman dinginnya sambil berkeliling aula tersebut.
Hingga dia menghentikan langkahnya ketika melihat sebuah meja besar yang digunakan para tamu untuk berjudi.
Dia segera bersembunyi dibalik kerumunan orang yang sedang menonton pertandingan judi tersebut, karena dia melihat sesosok wanita yang dia kenal dan itu bukanlah hal yang baik, dan wanita itu adalah Lisa.
Dia adalah wanita yang pernah berseteru dengan Desta di restoran d’Coins.
“Haha, apa kalian masih mau melanjutkannya?” teriak Lisa kepada lawannya berjudi, dia merasa sangat sombong karena sepertinya memang sudah memenangkan beberapa ronde dengan keuntungan yang sangat besar.
“Baiklah, kalau begitu apa kau berani?” ucap Lisa dengan senyuman licik dan mendorong chip yang bernilai 200 juta ke depannya sebagai taruhan di ronde berikutnya.
“Wah, 200 juta? Dia terlalu percaya diri..!”
“Taruhan yang sangat besar, baru kali ini aku melihat ada yang berani taruhan sebesar itu”
__ADS_1
Semua orang yang menonton perjudian tersebut terperangah karena selama ini memang mereka hanya pernah taruhan paling besar 10 juta saja dan tidak pernah melihat taruhan sebesar itu.
“Oke, aku taruhan 200 juta juga..!” jawab pria tersebut.
“Baiklah, bagikan kartunya” ucap Lisa kepada pelayan yang bertugas membagikan kartu.
“Hehe, kali ini kau kalah nona, kartuku Flush” teriak pria yang menjadi lawannya Lisa dan langsung menunjukkan kartu miliknya lalu dengan sangat percaya diri, dia akan mengambil chip taruhan yang ada di depannya.
Namun Lisa tertawa terbahak-bahak mendengarkan ucapan dari pria itu, lalu berkata “Royal Flush..! Aku yang menang..!” Lisa membuka kartunya dan menarik chip yang menjadi taruhan.
Dengan wajah yang sangat kesal, pria tersebut berdiri dan berteriak “Tidak mungkin..! Kau pasti melakukan kecurangan..!” sambil menunjuk ke arah Lisa.
Pria tersebut berjalan ke arah Lisa, namun dia terhalang oleh pengawal yang dibawa oleh Lisa.
“Aku curang? Bagaimana caranya aku melakukan itu? Kartunya kan dibagikan oleh dealer, jadi, bisakah kau jelaskan bagaimana caranya aku melakukan kecurangan?” ucap Lisa sambil menunjuk ke arah pelayan yang bertugas membagikan kartu atau disebut juga sebagai dealer dalam sebuah permainan poker.
__ADS_1