
Pagi tiba dan saatnya Desta bersiap untuk menghadiri acara peresmian gedung perusahaan Heir Group.
"Ah, aku malas jika harus mengenakan pakaian yang merepotkan dan tidak nyaman, lebih baik aku pakai kaos sajalah" Desta memang tidak suka jika harus menggunakan pakaian formal seperti jas dan lainnya karena itu sangat membatasi gerakannya.
"Tok.. Tok.."
"Bos, jam berapa kita akan berangkat?" tanya Febrianto setelah mengetuk pintu kamar Desta.
"Sebentar lagi" teriak Desta dari dalam kamar dan 15 menit kemudian dia pun keluar.
"Kita akan menjemput Debby terlebih dahulu, karena sekarang masih jam 8, jadi kurasa masih sempat" ucap Desta sambil berjalan ke arah lift dan Febrianto mengikuti di belakangnya.
“Oke bos, kalau begitu aku akan memesankan taksi untuk kita” ucap Febrianto sambil mengeluarkan ponselnya.
“Oke, ini alamatnya” jawab Desta seraya memberikan alamat kontrakan Debby kepada Febrianto.
Setelah menunggu selama 10 menit, akhirnya taksi yang mereka pesan pun tiba di depan lobby dan mereka bergegas naik ke dalam taksi agar tidak membuang-buang waktu lagi.
“Deb, aku sudah menuju ke sana, apa kau sudah bersiap-siap?” ucap Desta dalam panggilan teleponnya.
__ADS_1
“Aku sudah siap sejak 2 jam yang lalu, kau ke mana saja Bontet?” jawab Debby dengan nada ketus.
“E-eh hehe aku kesiangan, maaf ya” Desta tertawa tidak enak kepada Debby, tapi dia berpikir tidak seperti biasanya Debby sudah selesai berdandannya sebelum Desta tiba di sana.
“Ya sudah aku akan menunggu di depan gerbang perumahan agar kau tidak perlu berlama-lama menungguku saat kau tiba nanti” ucap Debby.
“Oke, aku sebentar lagi juga sampai kok” ucap Desta dan kemudian mematikan panggilan teleponnya, tapi tak lama kemudian Sebastian menelepon Desta.
“Tuan muda, aku menyarankan agar Anda lewat jalan ini, karena jalan utama menuju Heir Group sedang ada keramaian oleh kebakaran di salah satu distrik” ucap Sebastian yang memperingatkan Desta agar dia tidak terjebak kemacetan.
“Mmm, baiklah paman, terima kasih sudah memperingatkanku” lalu Desta mematikan panggilan teleponnya.
“Tuan muda, apakah Anda tidak ingin membeli kendaraan sendiri seperti mobil atau motor? Jadi tidak perlu repot-repot menunggu taksi datang dan membayar mahal setiap harinya” Febrianto menyarankan Desta untuk membeli sebuah kendaraan untuk digunakannya ke mana-mana.
“Bagaimana dengan BMW? Atau Ferrari? Atau mungkin Porsche?” rekomendasi yang diberikan Febrianto membuat Desta menepuk dahinya, dia sangat mengerti semua itu adalah merek mobil mewah, dan Febrianto masih belum tahu bahwa bosnya tidak suka memamerkan kekayaannya dengan membeli sesuatu yang sangat menarik perhatian orang banyak.
“Feb, sudahlah, aku tidak akan membeli mobil dengan harga semahal itu, aku ini orang miskin, aku hanya ingin mobil yang biasa saja yang penting bisa digunakan” jawab Desta sambil memegang bahu Febrianto.
“Haha, bos sangat suka bercanda ya” jawab Febrianto yang tidak mengerti kenapa orang yang memiliki banyak uang seperti Desta tidak mau membeli mobil mewah saja yang sangat berkelas.
__ADS_1
“Apakah ucapanku terdengar seperti bercanda?” Desta tersenyum jahat ke arah Febrianto, dan dia pun terdiam tidak berani mengatakan apapun.
“Ti-tidak bos, baiklah aku akan menyarankan harga mobil yang di bawah 300 juta saja” jawab Febrianto yang kemudian buru-buru mencari rekomendasi mobil murah.
“Mmm..” Desta menganggukkan kepalanya.
Tak lama kemudian, mereka sudah tiba di depan gerbang area perumahan Debby dan melihat seorang gadis cantik dengan dandanan sederhana tapi terlihat elegan, itu adalah Debby yang sudah menunggu mereka sedari tadi.
“Deb, ayo” ucap Desta menyuruh Debby masuk ke dalam taksi.
Ketika dia masuk, dia dikagetkan dengan sosok Febrianto yang tinggi besar dan terlihat sangat garang.
“Bontet, kau buat masalah apa lagi?” ucap Debby ketus.
“Hah? Masalah apa maksudmu?” Desta bingung dengan pertanyaan Debby, kemudian dia melihat lirikan Debby mengarah ke Febrianto.
“Ah ini, kenalkan, namanya Febrianto, dia adalah teman baikku dari Malang yang datang berkunjung ke perusahaan Gloria beberapa waktu lalu” jawab Desta yang memberikan kode kepada Debby.
“Maksudmu dia..” Debby tidak melanjutkan omongannya karena mengira Febrianto benar-benar temannya Desta yang memperbaiki mobil ayahnya, memang sempat diceritakan Desta sewaktu mereka di Malang, tapi dia tidak mengira wajahnya akan semenakutkan ini.
__ADS_1
“Mmm, jadi dia akan tinggal di Jakarta mulai sekarang” jawab Desta setelah menganggukkan kepalanya.
“Oke, salam kenal, aku Debby tunangannya Desta” ucap Debby yang memperkenalkan dirinya.