Si Miliarder Muda

Si Miliarder Muda
Aku Traktir Sesuai Janji


__ADS_3

“Baik bos, terima kasih banyak atas kebaikan Anda” ucap Febrianto.


Mereka pun tiba di apartemen setelah menempuh perjalanan 2 jam lebih, dan mereka diturunkan di depan pintu lobby apartemen.


Kemegahan apartemen itu membuat Febrianto tercengang, dia tidak pernah ke tempat semewah ini sebelumnya.


“Siapa sebenarnya Desta ini, dia bahkan bisa tinggal di tempat seperti ini” gumam Febrianto dalam hati yang penasaran dengan latar belakang Desta.


Sesaat kemudian, kesabaran Desta lagi-lagi seperti sedang diuji, dia melihat seseorang yang tidak asing lagi baginya.


“Ya tuhan, sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa kejadian klise seperti ini selalu saja bermunculan? Apa mungkin dia akan menjadi Albert kedua?” Desta melihat sesosok Denis yang sedang mengurus administrasi di meja resepsionis, sepertinya dia akan menetap di Jakarta dan tinggal di apartemen ini, tapi Desta berharap agar tidak terulang kembali seperti kejadian sebelumnya pada Allbert.


“Feb, aku mau nanti kita terus saja berjalan tanpa menghiraukan panggilan siapapun..!” ucap Desta memperingatkan Febrianto sebelum mereka masuk ke dalam apartemen.


“Siap bos” Febrianto memberi sikap hormat dan langsung berjalan mengikuti Desta tanpa menanyakan apapun.

__ADS_1


Mereka berjalan normal tanpa menghiraukan apapun, namun ketika mereka melewati Denis “Hei kau? Apa kau juga tinggal di sini?” ucapnya Denis, tapi Desta tidak menghiraukannya dan terus berjalan ke arah lift.


“Jangan hiraukan..! Kita sedikit lagi sampai lift” Desta membuka kecil bibirnya dan berbisik pelan kepada Febrianto, dan secara kebetulan pintu lift di depan mereka langsung terbuka seolah ingin menyelamatkannya.


“Ting..” pintu lift pun tertutup saat Desta selesai menekan tombol lantai 8.


“Huh, kita selamat” ucap Desta sambil menghela nafas lega.


Tak lama kemudian mereka telah tiba di lantai Delapan, Desta mengeluarkan kunci kamar Andre dari sakunya dan memperagakan cara membuka pintu kamarnya.


“Wow, ini terlalu canggih untukku” ucap Febrianto yang terkesima.


“Beristirahatlah, besok aku akan menghadiri sebuah acara peresmian gedung, jadi kau besok akan ikut bersamaku” ucap Desta yang memberitahukan rencananya esok hari.


“Baik bos, terima kasih banyak” jawab Febrianto, kemudian dia masuk ke dalam kamarnya dan sangat takjub dengan apa yang ada di dalamnya.

__ADS_1


“Benar-benar berbeda dengan tempat tinggalku di malang, dengan uang 200 miliar ini, aku ingin membuatkan rumah yang sangat bagus untuk orang tuaku” walaupun Febrianto seorang tukang pukul, tapi dia adalah anak yang sangat berbakti kepada kedua orang tuanya.


“Apa aku gunakan saja ya hadiah dari bos Desta sebagai liburan ke kampung halaman orang tuaku?” Febrianto mulai berpikir untuk mengambil hadiah yang dijanjikan Desta kepadanya sambil melihat foto kedua orang tuanya yang selalu dia bawa ke mana pun dia pergi.


“Mmm, baiklah akan aku katakan pada bos besok pagi saja, malam ini biar dia beristirahat dulu” akhirnya Febrianto memutuskan untuk menggunakannya sebagai liburan ke kampung halaman kedua orang tuanya di Jogjakarta.


Sementara itu, Desta kembali mengambil ponsel sambil berjalan ke kamarnya.


“Deb, besok pagi ada acara peresmian gedung aku ingin kau ikut denganku, untuk masalah absensi kantor, aku akan mengurusnya” ucap Desta dalam panggilan teleponnya.


“Oke, sekalian aku traktir ya sesuai janjimu” jawab Debby.


“Mmm..” Desta menjawab dan mematikan panggilannya.


“Lelah sekali, aku harus segera tidur untuk memulihkan stamina” Desta pun langsung berbaring di atas kasurnya dan tertidur lelap tanpa berganti pakaian terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2