
Saat Desta tiba di apartemennya, dia kembali menghubungi Sebastian.
"Paman, apakah kau bisa mengatur jadwal penerbangan besok siang untukku?" ujar Desta.
"Aku bisa melakukannya tuan muda" jawab Sebastian.
"Bagus, tolong atur penerbangan untuk 2 orang menuju Malang besok jam 1 siang, aku akan menghukum seseorang" ucap Desta yang sedang mempersiapkan pakaian gantinya selama di Malang nanti.
"Tuan muda, aku tidak menyarankan untuk membawa nona Debby bersamamu dalam perjalanan kali ini" Sebastian mengira Desta akan mengajak Debby.
"Haha, kali ini aku akan mengajak pengawal baruku, aku rasa dia cukup bisa diandalkan..!" Desta memberitahu Sebastian tentang Febrianto yang menjadi pengawal pribadinya.
"Tuan muda, jangan sembarangan mengangkat seseorang untuk menjadi pengawalmu, terutama jika orang itu tidak memiliki kemampuan untuk melindungimu" Sebastian mulai cemas karena dia sama sekali tidak mengetahui asal usul dari Febrianto ini.
"Paman, Febrianto bisa menahan beberapa pukulanku, bahkan dia bisa mengelak dari langkah sunyiku, apakah itu tidak cukup untuk membuatnya cocok menjadi pengawalku?" Desta menjelaskan apa yang bisa dilakukan oleh Febrianto saat mereka berkelahi.
Sebastian terdiam sesaat dan sampai-sampai suara ketika dia menelan air liurnya bisa didengar.
"Tuan muda, apa kau yakin itu bukan hanya sebuah kebetulan saja?" Sebastian masih tidak percaya ada yang bisa mengelak dari langkah sunyi Desta.
Langkah sunyi bahkan bisa menumbangkan 30 master beladiri dan mengirim hingga lebih dari setengahnya dalam keadaan koma di rumah sakit karena kecepatan dari gerakan itu seakan bisa mengelabui mata lawannya.
30 master beladiri bahkan tidak bisa menghindarinya, dan kini dia mendengar dari Desta langsung bahwa ada yang bisa mengelak dari serangan itu.
"Aku yakin sekali tidak ada faktor yang membuatnya menjadi sebuah kebetulan, paman..!" jawab Desta dengan penuh keyakinan.
"Ba-baiklah jika memang Anda berkata seperti itu, tidak ada lagi yang bisa aku bantah" Sebastian pun langsung melakukan permintaan Desta, yang seharusnya bisa dia lakukan sendiri, namun dia tahu karena jadwal yang dia inginkan sangat tidak mungkin dipesan 1 hari sebelumnya, jadinya dia meminta bantuan Sebastian untuk mengaturnya.
"Terima kasih paman, aku berhutang banyak kepadamu..!" jawab Desta yang telah selesai mempersiapkan semuanya, lalu dia mematikan panggilannya.
"Aku pun terkejut dengan kemampuan si Febrianto ini. Jika ada kesempatan aku ingin bertanding dengannya sekali lagi" ujar Desta yang merebahkan badannya di atas kasur empuk dan nyaman di kamarnya dan langsung tertidur pulas.
Keesokan harinya..
Ponsel Desta berbunyi oleh panggilan dari Debby.
__ADS_1
"Bontet, hari ini aku akan merayakan kenaikan jabatanku denganmu, jadi nanti malam aku ingin mentraktirmu" Debby akan mengajak Desta makan malam setelah pulang kantor, namun ajakan itu ditolak oleh Desta.
"Maaf Deb, aku ada janji terlebih dahulu dengan pamanku siang ini di luar kota dan kemungkinan akan kembali lagi lusa" jawab Desta sambil meminta maaf.
"Hmm, ya sudah kalau begitu hari setelah lusa saja aku traktirnya" di luar dugaannya, ternyata Debby tidak marah setelah ajakannya ditolak oleh Desta.
"Oke, aku pasti akan datang" Desta mengangguk mengiyakan permintaan Debby lalu menutup panggilannya.
"Paman, aku ingin kau terus melacak kartu ATM yang kuberikan pada Herman, dan melacak semua rekening tujuan transaksinya secara langsung" Desta mengirimkan pesan singkat kepada Sebastian.
Dia tidak ingin kehilangan jejak Herman karena dia tahu persis mental Herman sangat kecil, dia pasti akan mencoba melarikan diri setelah mendapatkan kabar kegagalan orang-orang suruhannya.
Desta memperkirakan bahwa Herman sudah bersiap-siap untuk kabur darinya, tapi Desta sudah memikirkan semua kemungkinannya.
Meskipun begitu, jika tanpa bantuan dari Sebastian, hal ini tentu akan sangat menyulitkannya.
Dia pun bergegas memesan taksi untuk pergi ke bandara bersama Febrianto yang sedari tadi menunggunya.
Tepat jam 12 siang mereka tiba dan segera mengantri di loket untuk verifikasi tiketnya selama 15 menit, lalu dia menunggu di ruang tunggu bandara hingga jam 1 siang.
"Tuan muda, aku sudah melacak keberadaan Herman saat ini, aku akan mengirimkan lokasinya padamu sekarang juga" pesan singkat dari Sebastian masuk ke ponsel Desta dan kemudian dia mengirimkan detail lokasi Herman pada Desta.
Jam 2 lewat 25 mereka tiba di bandara Malang, Desta langsung mengajak Febrianto untuk menyewa kendaraan di sebuah agen penyewaan mobil, dan Desta memutuskan untuk menyewa mobil sedan model lama agar tidak terlalu menarik perhatian.
Desta memutuskan untuk pergi saat malam tiba, dia juga tidak akan khawatir Herman akan melarikan diri, karena menurut informasi yang diberikan oleh Sebastian, tempat itu merupakan markas dari kelompoknya Harianto, jadi seharusnya Herman akan merasa sangat aman jika bersemunyi di sana.
Malam pun tiba dan mereka bergegas untuk pergi menuju lokasi..
Dengan menempuh kurang lebih 30 menit, mereka akhirnya berhenti tak jauh dari sebuah gedung tua yang menjadi titik lokasi Herman saat ini.
“Tuan, jika kita akan ke sana sekarang, aku sarankan kita berjalan kaki dari sini dan melewati jalur belakang, karena akan sangat mudah menyelinap dari sana” ucap Febrianto memberikan pilihan yang lebih baik untuk Desta karena dia sudah paham sekali seluruh bagian gedung itu.
“Oke, aku percaya padamu” dan mereka pun berjalan melalui pintu belakang untuk menyelinap.
Benar saja, ketika mereka mendekati gedung itu, ada banyak sekali yang berjaga di pintu depan, sedangkan untuk pintu belakang tidak begitu banyak karena bagian belakang berhadapan langsung dengan hutan.
__ADS_1
“Baiklah, kita akan maju secara perlahan dan menghabisi para penjaga di sana, lalu aku serahkan padamu untuk mengakses pintu masuknya” mereka bersembunyi di balik semak belukar yang menjulang tinggi hingga menutupi seluruh bagian tubuh mereka, lalu Desta memberikan arahan untuk Febrianto sesuai dengan rencana yang akan dia jalankan.
Febrianto berjalan di depan Desta untuk melihat situasi terlebih dahulu, lalu melambaikan tangan pada Desta yang menandakan bahwa aman baginya untuk mendekat.
Lalu mereka melihat ada sekitar 7 orang yang berjaga, 2 orang yang berdiri menjaga pintu masuk, dan sisanya berpatroli mondar-mandir di area tersebut.
“Tuan, bagaimana caranya kita mengalihkan melumpuhkan mereka tanpa membuat keributan?” ucap Febrianto yang kebingungan, karena dia selalu membuat segalanya menjadi sebuah keributan, jadi dia tidak tahu bagaimana caranya untuk menyelinap.
“Kau lihat dan perhatikan, aku akan membuat mereka semua tertidur dalam 1 menit” Desta maju perlahan dan dalam sekejap, dia menghilang dari pandangan Febrianto, Desta menggunakan langkah sunyi, hanya saja kali ini terlihat berbeda, karena Febrianto sekali pun tidak bisa melihat pergerakannya.
“Bak... Buk... Krek...”
Bunyi pukulan yang terdengar sangat pelan, Febrianto tidak bisa melihat apa yang terjadi, dia hanya melihat semua penjaga yang terjatuh di lantai tak sadarkan diri, lalu dia melihat ke arah pintu masuk, Desta sudah berdiri di sana sambil melambaikan tangan ke arahnya.
“A-apa yang barusan terjadi? Orang ini sangat mengerikan, untung aku menerima tawaran untuk menjadi pengawalnya” Febrianto merasa sedikit beruntung karena dia tidak melanjutkan pertarungan dengan Desta setelah melihat apa yang sudah dilakukannya kepada 7 penjaga itu.
Febrianto segera berlari untuk membuka pintu masuk yang dipasang kode akses itu.
“Akses ditolak” bunyi sistem yang menandakan kode yang dimasukkan oleh Febrianto salah dan bunyi itu terdengar hingga beberapa kali seraya dia menekan tombol aksesnya.
“Tidak mungkin salah, kode seluruh pintu semuanya sama” ucap Febrianto yang merasa panik karena tidak bisa membuka pintunya.
“Kecuali, kau melupakan sesuatu..!” Desta berjalan ke arah penjaga yang pingsan dan memeriksa secara keseluruhan, lalu mengambil sebuah kartu dari kantong celananya.
“Ah benar, aku melupakan hal itu” lalu Febrianto menempelkan kartun dan memasukkan kode aksesnya.
“Akses diterima, selamat datang Leri” lalu pintunya pun terbuka dan mereka berdua bergegas masuk.
Febrianto yang berjalan di depan Desta mengisyaratkan untuk berjalan dengan sangat pelan agar tidak mengginjak sesuatu yang bisa menunjukkan keberadaan mereka.
Untungnya gedung ini sudah tidak berfungsi dengan penuh dan kamera pengawas pun tidak pernah dipasang di gedung ini, jadi mereka masih merasa aman untuk mencari keberadaan Herman.
Tak lama kemudian, mereka menemukan lokasi Herman.
Dia terlihat sedang berbincang-bincang dengan Harianto dan dijaga oleh sekitar 20 orang yang memegang senjata.
__ADS_1
“Bos, bagaimana caranya kita mendekati mereka dengan penjaga yang membawa senjata itu?” ucap Febrianto.
“Aku akan memikirkan sesuatu” jawab Desta yang tampak sedang memikirkan sebuah rencana.