Si Miliarder Muda

Si Miliarder Muda
Febrianto Pulang Ke Jogjakarta


__ADS_3

“Mmm, aku tidak apa-apa, hanya saja aku sangat lelah saat ini” Desta terdengar sangat lelah bahkan untuk menjawab pertanyaan Febrianto.


“Apakah Anda ingin membatalkan saja untuk ikut denganku?” tanya Febrianto.


“Tidak perlu, aku akan tetap ikut, ya mungkin akan tidur di sepanjang perjalanan” jawab Desta yang kemudian keluar dari kamarnya dengan membawa semua perlengkapannya, Desta terlihat sangat kacau, wajahnya begitu lelah.


“Tapi mungkin kali ini kau saja yang memesan taksi ke bandara” ucap Desta sambil menepuk pundak Febrianto.


“Oke bos..!” lalu Febrianto memesan taksi, dan tak lama kemudian mereka berangkat menuju bandara.


Jam 10 pagi pesawat mereka pun terbang menuju Jogjakarta dengan waktu tempuh selama 1 jam 10 menit, dan akhirnya mendarat di bandara internasional Adisutjipto jam 11.20 siang.


Mereka tidak menyewa kendaraan untuk menuju kediaman orang tua Febrianto, melainkan dengan menaiki becak yang ada di sekitar bandara.

__ADS_1


“Bos, apa kau yakin?” Febrianto tidak menyangka Desta sebagai orang kaya, sudi untuk menaiki becak, karena yang dia tahu kebanyakan orang kaya bahkan tidak sudi untuk naik taksi.


“Memangnya tidak boleh? Apa kau sedang terburu-buru?” tanya Desta yang terlihat sangat senang dengan becak karena ini adalah pertama kalinya dia melihat kendaraan seperti ini.


“Tidak juga bos, tapi kalau naik becak, kita bisa tiba di rumah orang tuaku nanti malam” jawab Febrianto dengan senyuman kecut.


“Haha, ya sudah kalau begitu, aku tidak ingin membuang-buang waktu yang bisa kita gunakan untuk membeli hadiah ulang tahun ayahmu” ucapan Desta mengingatkan Febrianto bahwa dia belum membelikan apapun untuk hadiah ulang tahun ayahnya.


“Coba tanyakan ayahmu, hal mustahil yang dia inginkan sebagai kadonya” ucap Desta yang juga membuat Febrianto bingung.


“Sudah tanyakan saja..!” Desta yakin bahwa ayahnya akan mengerti maksud dari pertanyaan itu.


“Ayah, kado apa yang menurutmu mustahil dan yang paling kau inginkan selama ini” Febrianto menelepon ayahnya untuk menanyakannya secara langsung.

__ADS_1


“Itu, aku dari dulu memang selalu memikirkan itu, tapi jika kau bertanya, aku selalu ingin memiliki rumah baru yang layak dan membelikan kendaraan untuk mengantar ibumu ke pasar setiap harinya, tapi dengan kondisi keuangan seperti ini aku selalu berpikir itu sangat mustahil” mendengar jawaban ayahnya, Febrianto tidak sadar telah meneteskan air matanya karena sekarang dia bisa mewujudkan keinginan ayahnya yang sangat diimpikannya.


“Baiklah kalau begitu ayah, aku akan berusaha untuk mewujudkannya” ucap Febrianto.


“Kau memang anak yang baik, tapi tidak usah nak, gunakan saja uangmu untuk keperluanmu” jawab ayahnya.


“Tidak ayah, itu adalah impianku untuk membuat kedua orang tuaku bahagia” jawaban Febrianto membuat Desta tersenyum, dia benar-benar senang dengan sifat pengawalnya ini.


Lalu Febrianto menutup panggilan teleponnya dan mengusap air matanya, “Maaf bos, Anda harus melihatku seperti ini, tapi aku tak bisa menahannya karena aku sayang kedua orang tuaku”.


“Aku tahu itu, dan aku akan membantumu jika kau butuh untuk mewujudkan semua impian orang tuamu” jawab Desta sambil menepuk pundak Febrianto.


“Terima kasih bos, kau memang yang terbaik..!” Febrianto merunduk untuk memberikan hormat kepada Desta, dia merasa beruntung sudah menerima tawarannya untuk menjadi pengawal, karena hal itu sudah mengubah hidupnya seperti sekarang ini.

__ADS_1


__ADS_2