Si Miliarder Muda

Si Miliarder Muda
Jenderal Winoto Palsumu Pt.1


__ADS_3

“Siapa kau? Mau apa di sini?” orang itu langsung bertanya ketika melihat Febrianto masuk tanpa mengetuk pintu.


“Tidak perlu tahu siapa aku, katakan saja di mana kunci ruang tahanan?” Febrianto bertanya balik kepada pria tersebut.


“Atau apa?” pria tersebut menantang balik.


“Atau aku akan menghancurkan wajahmu..!” Febrianto sudah benar-benar tidak bisa menahan emosinya lagi.


Kedua orang tuanya sudah berada di depan matanya untuk dibebaskan, tapi sekarang malah menemui orang yang menyusahkan baginya.


“Oh, kau berani mengancam bos Patrick? Besar juga nyalimu..! Oke, aku akan memberikan kuncinya padamu hanya jika kau bisa menjatuhkanku” tantang pria tersebut.


“Aku tidak peduli siapa itu bos Patrick, yang aku tahu adalah kalian semua polisi korup yang tidak bisa mengayomi masyarakat..!” ucap Febrianto dan dia sudah bersiap untuk menyerang Patrick.


“Baiklah, tampaknya kau benar-bena..” Patrick tidak sempat menyelesaikan ucapannya karena kepalan tangan Febrianto sudah mendarat tepat di wajahnya dan membuatnya terhempas sejauh 1 meter ke belakang dan menghantam tembok.


“Cepat serahkan kuncinya..!” raut wajah Febrianto sudah sangat kusut dan tatapannya pun berubah dingin seolah dia sudah siap untuk membunuh orang yang ada di depannya ini.


“Oh, sepertinya aku tahu siapa kau..! Kau anaknya si bajingan yang tidak mau menjual tanahnya..! Oh aku sangat menikmati saat memukuli wajah ayahmu, haha” dengan bersimbah darah yang bercucuran dari hidungnya, Patrick masih terus memprovokasi Febrianto ke level yang lebih jauh.

__ADS_1


“Bajingan..!” dengan penuh amarah, Febrianto melompat melewati meja yang menghalanginya lalu berdiri tepat di depan Patrick.


Dengan tatapan penuh kebencian, Febrianto merunduk dan menarik kerah baju Patrick dan menantangnya sekali lagi, “Coba kau katakan yang barusan kau katakan..!” ucap Febrianto.


“Ayahmu adalah seorang baji..”


“Buk.. Buk.. Buk..” pukulan bertubi-tubi dihantamkan ke wajah Patrick hingga wajahnya pun penuh dengan darah.


“Coba katakan lagi..!” Febrianto berhenti sejenak dan menantangnya lagi.


“Ayahmu..”


“Jangan pernah kau berkata seperti itu tentang keluargaku..!” Febrianto melepaskan genggamannya dari kerah baju Patrick dan menghempaskannya ke lantai.


Dia pun langsung mencari kunci ruangan penjara dari saku Patrick namun tetap tidak ditemukan.


“Mungkin salah satu kunci yang digantung di sana adalah kuncinya” Febrianto bangkit lalu mengambil semua kunci tersebut dan segera kembali ke ruang penjara untuk mencobanya satu per satu.


“Febri, apa yang terjadi? Kenapa tanganmu penuh dengan darah?” tanya ibunya karena khawatir.

__ADS_1


“Tenang saja bu, aku tidak apa-apa” Febrianto masih mencoba satu per satu kunci-kunci tersebut hingga akhirnya salah satu kunci pun berhasil membuka pintu penjara.


“Yes..!” Febrianto merasa senang karena akhirnya dia bisa mengeluarkan orang tuanya penjara para polisi korup tersebut.


“Sudah selesai Feb?” ucap Desta dari belakang.


“Ah bos, aku sudah berhasil membebaskan kedua orang tuaku, terima kasih atas bantuanmu bos..!” Febrianto merunduk berterima kasih kepada Desta namun dihalangi oleh Desta karena dia tidak mau membuat Febrianto terlihat rendah di depan kedua orang tuanya.


“Ka-kalian tidak akan pernah lolos dari ini..!” Rio yang sudah babak belur karena dihajar oleh Desta masih berusaha untuk mengancam mereka dengan penangkapan besar-besaran.


“Hoo, kau bisa mencobanya kalau mau..! Tapi aku akan memastikan, bukan kami yang ditangkap, tapi kalian semua yang akan dikeluarkan dari kepolisian dan kalian semua akan dipenjara..!” ucap Desta dengan senyuman mengejek.


“Cih, memangnya kau siapa berani mengancam seperti itu, hah?” bentak Rio mencibir ucapan Desta barusan.


“Oh aku hanyalah manusia biasa dengan berkah yang sangat luar biasa yang bahkan kau tidak akan mampu membayangkannya..!” Desta menjawab dengan sangat santai.


“Haha, masih saja kau membual..! Itu benar-benar membuatku tertawa, kau ternyata lucu juga ya” jawab Rio karena tidak percaya dengan ucapan Desta dan menganggapnya itu hanyalah sebuah lelucon belaka.


“Terserah kau saja, aku dan mereka akan pergi dari sini..!” Desta melambaikan tangannya kepada Febrianto untuk mengajaknya pergi dari kantor polisi tersebut.

__ADS_1


__ADS_2