
Tak lama kemudian, mereka pun tiba di sebuah ruangan besar yang ditengahnya terdapat sebuah arena pertarungan dan begitu banyak orang yang sedang menonton.
Mereka semua menyoraki kedua petarung yang ada didalam arena tersebut.
“Sepertinya yang dikatakan Lisna benar, tempat ini adalah arena judi tarung” ucap Desta.
Mereka berdua terus berjalan hingga berhenti di depan loket pintu masuk untuk membeli tiket menonton pertarungan.
“Paman, bagaimana aku bisa bertemu dengan bos Widodo?” tanya Desta kepada petugas tiket.
“Kalian siapa?” petugas tiket itu malah berbalik tanya dengan tatapan yang sinis.
“Oh, kami berdua adalah kenalannya” Desta menjawab sambil menunjukkan emblem pemberian Lisna.
“I-ini..! Maafkan aku karena sudah bersikap tidak sopan kepada kalian berdua, pintu masuknya ada disebelah sini” penjaga tiket itu bersikap sama seperti penjaga pintu di depan gedung tadi.
“Serius, sebenarnya emblem apa ini?” Desta menatap heran kepada 2 emblem yang dipegangnya itu.
__ADS_1
“Sebelah sini tuan-tuan..!” penjaga tiket itu mengarahkan Desta dan Febrianto ke pintu masuk menuju ruangan VIP.
“Terima kasih, paman..!” ucap Desta sembari masuk ke dalam ruangan VIP dan pintu pun ditutup.
Ruangan VIP tersebut hanya terdapat 2 kursi yang menghadap ke luar jendela dan sebuah meja yang bertuliskan “Meja taruhan”.
“Sepertinya kita dianggap tamu penting dengan emblem tadi, bos” Febrianto mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya.
“Mmm, aku juga berpikiran yang sama denganmu, tapi sepertinya bukan itu saja..!” ucap Desta membuat Febrianto menaikkan alisnya.
“Memangnya apa lagi, bos?” tanya Febrianto kebingungan.
“Hmm? Memangnya ada apa dengan meja..” mulut Febrianto langsung menganga setelah melihat tulisan kecil yang ada di bawah tulisan meja taruhan.
Di situ tertulis, “Minimal taruhan ruang VIP sebesar 2 miliar rupiah”.
“Oi, yang benar saja..! Memangnya judi apa yang bertaruh segitu besarnya?” Febrianto berteriak kesal setelah membacanya.
__ADS_1
“Ya, sekarang kau sudah melihat perjudian apa yang bertaruh sebesar itu..! Jadi, ikuti saja dulu, jika memang kalah banyak, aku akan mengganti uangmu yang hilang” ucap Desta.
Febrianto pun merasa lega karena tidak harus takut kehilangan uang terlalu banyak.
Di dalam arena pertarungan, setiap orang yang hadir dan menonton diwajibkan untuk bertaruh sesuai dengan tempat mereka menonton.
Jika menonton dari kursi biasa di luar ruangan VIP dengan kelas bawah, minimal taruhan adalah sebesar 5 juta rupiah, dan taruhan minimal 30 juta rupiah untuk kelas menengah, lalu taruhan minimal 100 juta rupiah untuk kelas atas.
“Sekarang kau tarik semua uang yang ada di sini” Desta menyerahkan sebuah kartu ATM yang berisi uang 100 miliar di dalamnya kepada Febrianto.
“Oke bos..! Tapi, tujuan kita ke sini kan untuk memberi salam pada Widodo sialan itu, bos?” Febrianto yang sudah terlalu bersemangat saat berangkat menuju ke sini menjadi sangat kebingungan dengan rencana Desta.
“Sudah, kau ikuti saja kata-kataku, aku tahu apa yang harus aku lakukan dan ini adalah salah satu rencanaku untuk memberi salam pada bos Widodo..!” jawab Desta sambil tersenyum penuh percaya diri.
“Oke bos..!” jawab Febrianto.
“Oke bos oke bos, cepat ambil sana..!” Desta menyuruh Febrianto untuk bergegas karena sesi pertaruhan berikutnya akan segera ditutup.
__ADS_1
Febrianto segera menuju mesin ATM tapi terkendala dengan jumlah maksimal penarikan dalam satu kali tarik, dan itu membuatnya berlama-lama di depan mesin ATM karena harus berkali-kali menggunakannya.