
“Hoo, kau benar-benar ingin berbicara dengannya?” ucap Desta sambil menaikkan alisnya dan menatap heran kepada Rio.
“Berani tidak?” tantang Rio dengan penuh percaya diri.
“Haha, okelah kalau begitu, aku suka dengan semangatmu ini..!” Desta meletakkan ponsel miliknya di sebelah wajah Rio dan mengubah panggilan dalam mode pengeras suara.
“Halo..! Hei kau, jangan mengaku sebagai jenderal Winoto ya, kalau kau memang jenderal Winoto, aku tantang kau untuk datang ke sini dan memecat aku dan semua petugas yang terlibat di sini secara langsung..!” Rio benar-benar tidak tahu apa yang dilakukannya.
Desta hanya menggelengkan kepalanya saat mendengarkan ucapan Rio yang sangat menantang mau tersebut.
“Baiklah, sesuai dengan keinginanmu, hari ini juga aku akan datang ke desa Kadipaten dan saat aku tiba, aku akan segera mencopot jabatan lalu memecat kalian secara langsung..! Dan sesuai dengan yang tuan muda Desta minta, jika memang surat kepemilikan tanah yang dibicarakan beliau adalah asli, aku sendiri yang akan memenjarakan kalian..!” jenderal Winoto benar-benar marah ketika mendengarkan ucapan anak buahnya yang tidak tahu diri itu.
“Haha, kau ini sangat tidak tahu malu ya? Oke, kalau kau memang sangat hebat, datang saja ke sini, aku akan menunggu..!” Rio sudah menggali kuburannya sendiri dan tentu dia tidak akan pernah bisa lolos dari ini.
“Yo, kau sepertinya sudah bosan dengan udara kebebasan ya?” Desta berkata dengan senyuman licik yang terpampang jelas di wajahnya.
“Baiklah, ini semakin menarik saja, kapan pak jenderal tiba di sini?” tanya Desta.
“Aku akan tiba dalam waktu 3 setengah jam” jenderal Winoto menjawab dengan tegas.
“Wah, lagi-lagi membual..! Kalian berdua benar-benar aktor yang bagus ya, semua ini cukup meyakinkan bagiku, haha” Rio yang masih tidak mempercayai ucapan Desta terus saja menertawakannya.
“Tertawalah selagi kau masih bisa” walaupun hanya mendengarnya di telepon, jenderal Winoto merasa sangat jengkel dengan kelakuan Rio yang seperti itu.
“Oke oke, aku akan menunggu sampai 3 setengah jam ke depan untuk menertawakan bualan kalian” Rio semakin tertawa keras sampai-sampai mulutnya terasa pegal karena tertawa.
Panggilan telepon pun dimatikan dan mereka menunggu untuk kedatangan jenderal Winoto seperti yang dijanjikan.
“Hei, apa kalian benar-benar akan menunggu jenderal palsu itu datang? Kalau begitu, kalian akan tertangkap terlebih dahulu sebelum dia datang” ucap Rio dengan sangat percaya diri.
__ADS_1
“Memangnya siapa yang akan berani menangkap kami? Kau saja sudah tidak bisa melawan seperti ini, sedangkan yang lainnya sudah tergeletak tak bergerak” jawab Desta.
“Cih, lanjutkan saja akting aroganmu itu, kau akan mengetahuinya nanti..!” Rio tersenyum licik seolah-olah sedang merencanakan sesuatu yang jahat untuk Desta dan yang lainnya.
2 jam berlalu dan terlihat dari luar kantor polisi ada sekitar 6 orang yang membawa senjata tajam turun dari sebuah mobil van berwarna hitam.
“Feb, sepertinya ayah dan ibumu harus bersembunyi untuk sementara” Desta memberitahukan kepada Febrianto bahwa mungkin saja akan terjadi perkelahian yang menyebabkan pertumpahan darah.
Jadi, lebih baik jika kedua orang tua Febrianto bersembunyi untuk keamanan mereka.
“Mmm..” Febrianto mengangguk dan segera membawa orang tuanya ke dalam sebuah ruangan yang jauh dari pintu masuk lalu menyuruh mereka untuk tetap tenang dan jangan membuat suara sedikitpun.
“Tenang saja ayah, ibu, aku dan bos Desta akan segera menyelesaikan masalah ini” Febrianto keluar dari ruangan dan menyuruh orang tuanya untuk mengunci pintu dari dalam.
“Kau siap Feb?” tanya Desta.
“Aku selalu siap untuk hal ini bos..!” Febrianto mengepalkan tinjunya dan memukul-mukulkan ke telapak tangannya.
“Tak..” Desta memukul bagian belakang leher Rio untuk membuatnya tak sadarkan diri selama 20 menit agar tidak menjadi hambatan nantinya.
“Oke, provokator sudah dilumpuhkan untuk sementara, sekarang saatnya berolahraga” Desta berdiri untuk meregangkan tubuhnya dan membunyikan beberapa tulang.
Keenam orang tersebut langsung berlari dan mengayunkan senjata tajam mereka kepada Desta.
Gerakan mereka sangatlah lambat jika dibandingkan dengan refleks yang dimiliki oleh Desta dan Febrianto.
Dengan sangat mudah mereka berdua menghindari ayunan senjata tajam yang mengarah pada mereka.
“Feb, ternyata kau masih sangat gesit ya, aku kira kau sudah mulai berkarat kerena sudah lama tidak berkelahi” ucap Desta mengejek Febrianto karena memang perutnya yang terlihat bertambah buncit.
__ADS_1
“Hehe, walau aku bertambah 100 kilogram pun, tidak akan mengurangi kecepatanku bos” jawab Febrianto.
Mereka berdua tidak terlihat seperti sedang terancam, malah sebaliknya, serangan dari keenam orang tadi hanya dianggap sebagai permainan anak kecil bagi mereka.
“Bos, mau sampai kapan kita mempermainkan mereka?” Febrianto bertanya kepada Desta karena sudah hampir 15 menit mereka terus menghindar tanpa memberikan perlawanan.
“Hmm, aku rasa kau benar, ya sudah kita selesaikan saja sekarang, aku 3 dan kau 3 tanpa korban” ucap Desta yang bermaksud memberitahu kepada Febrianto untuk menghabisi 3 orang, dan Desta 3 orang lainnya tanpa luka yang disebabkan oleh senjata tajam yang digunakan oleh keenam orang tersebut.
“Oke bos..!” jawab Febrianto sambil tersenyum.
Kemudian, mereka berdua mengambil posisi dengan mundur beberapa langkah ke belakang lalu memulai serangan balasan.
Febrianto melangkah lebih dulu untuk menghabisi 1 orang yang berada di sebelah kirinya karena dia yang terdekat dengan posisi Febrianto saat ini.
“Buk.. Plak.. Buk..”
Pukulan keras dan tamparan yang seperti bisa merobek kulit wajah pun dihantamkan oleh Febrianto kepada orang pertama dan langsung saja merubuhkannya.
“Alex..!” teriak salah satu dari penyerang tersebut saat melihat temannya dijatuhkan dengan sangat mudah.
Febrianto mengambil senjata tajam yang dijatuhkan oleh penyerang yang dilumpuhkan olehnya dan melihat-lihat ke seluruh bagiannya.
“Krek.. krek..” senjata tajam tersebut pun dapat dengan mudah dipatahkan oleh Febrianto dan tentu saja membuat kelima orang lainnya terperangah melihatnya.
“O-orang ini seperti monster saja..!” ucap salah satu dari mereka.
“Hei, lihat ke mana kalian?” Desta berlari mendekati mereka dan langsung menghajar 3 orang sekaligus.
Dengan langkah sunyi, dia bisa menjatuhkan lawan lemah seperti itu dalam waktu kurang dari 5 detik.
__ADS_1
“Bos, kau memang tidak bisa dilawan dengan cara biasa seperti mereka ini, haha..! Jika saja kau tidak sekuat itu, aku tidak akan mau menjadi bawahanmu..!” Febrianto memuji kemampuan yang dimiliki Desta.
Walaupun waktu itu dia berhasil menghindari pukulan dari Desta yang menyerangnya dengan langkah sunyi, dia tidak berpikir akan berhasil untuk kedua kalinya dengan kecepatan yang dimiliki Desta sekarang ini.