
“Ya, sudah jangan pedulikan dia, lakukan perintaku tadi sekarang..!” ucap Desta dan semua orang yang dibawa Desta langsung menyerbu masuk ke dalam rumah Yanto untuk mengambil semua barang-barang berharga dan menghancurkan rekaman CCTV yang pasti berada di suatu ruangan di rumah ini.
“Baiklah, sampai mana kita tadi?” Desta melanjutkan hukumannya untuk Yanto.
“Swudwah, akwu mwohwon hwentikwan inwi, akwu mwengakwu swalwah” ucapan Yanto kini sudah tak terdengar jelas karena bibirnya yang terbelah.
“Hah? Kau bilang apa? Aku tidak mengerti ucapanmu, kalau kau berbicara tidak jelas, lebih baik kau diam saja dan nikmati hukumanmu..!” jawab Desta.
“Akwu Bwilwang... Arrrrrhhh” Yanto tidak bisa menyelesaikan ucapannya ketika,
“Crat...” Desta menusukkan pisau itu tepat di bahu Yanto yang membuat seluruh tangan kanannya lumpuh karena syaraf penggerak tangan kanannya putus akibat tusukan tersebut.
“Aku kan sudah bilang diam kalau kau masih bicara yang tidak jelas..!” ucap Desta dengan santainya.
__ADS_1
“Wah, tidak terasa aku sudah menghukummu selama setengah jam, dan sekarang aku sudah mulai bosan di sini, ikut aku yuk..!” Desta berdiri dan menarik rambut Yanto lalu diseretnya keluar dari kamar menuju halaman depan rumahnya.
“Orang ini benar-benar kejam, jangan sampai aku berurusan dengannya atau aku akan berakhir seperti itu juga” gumam salah satu orang yang dibawanya saat dia berpapasan dengan Desta yang sedang menyeret Yanto dengan kondisi yang buruk.
“Kau tahu? Sebenarnya aku tidak mau melakukan hal kejam seperti ini, tapi karena kau sudah melewati batasmu, aku pun tidak akan sungkan melewati batasku..! Karena prinsip hidupku adalah, balas 5 kali lebih banyak ketika orang lain berbuat baik ataupun jahat kepadaku dan keluargaku” ucap Desta sambil tetap menyeret Yanto ke luar rumah.
Tak lama kemudian semua orang yang disuruh Desta keluar dari rumah dan melaporkan pada Desta bahwa semua barang berharga sudah dibawa dan rekaman CCTV pun sudah dimatikan dan dihancurkan.
“Sebarkan bensin ke seluruh rumah ini lalu bakar..!” ucap Desta yang memerintahkan anak buahnya.
Desta menahan Yanto dengan rambut yang masih ditarik olehnya, hingga dia tiba di halaman depan rumahnya yang lumayan luas itu, barulah dilepaskan genggamannya dari rambut Yanto.
“Kau lihat itu? Rumah dan harta kekayaan yang sangat kau bangga-banggakan tadi? Sebentar lagi akan menjadi abu..!” ucap Desta.
__ADS_1
Yanto hanya bisa mengeluarkan air mata dan diam tanpa berkata sepatah kata pun karena apa pun yang dikatakannya tidak akan bisa dimengerti lagi.
“Tuan muda, rumah ini sudah sepenuhnya tersiram oleh bensin, haruskah aku nyalakan sekarang?” teriak salah satu anak buah Desta yang terlihat sedang memegang sekotak korek api.
Ya, kalian bisa baka..” sebelum Desta sempat mengucapkannya, ponselnya berdering oleh panggilan dari nomor rumah sakit dan dia pun segera menjawab telepon tersebut.
“Halo?” jawab Desta sambil melambaikan tangan agar anak buahnya tidak membakar rumah itu terlebih dahulu.
“Halo, keluarga dari pasien bernama Debby?” tanya seseorang di ujung telepon.
“Ya aku tunangannya, ada apa dengan Debby?” tanya Desta dengan perasaan yang belum tenang.
“Jadi begini, dokter kami sudah berusaha semampunya..”
__ADS_1
“Deg-deg..” jantung Desta seperti mau berhenti berdetak saat mendengar sepatah kalimat dari orang di ujung telepon tersebut.
“Lalu?” ucap Desta lemas.