
"Aku bosan dengan semua ancaman-ancaman dan omong kosong tentang menghancurkan ini dan itu, bisakah kau menghiburku sedikit? Karena kau sudah melewati batasmu, aku tidak perlu berbelas kasih padamu" ucap Desta yang membiarkan Herman terjatuh di lantai karena kesulitan bernafas, tatapan mata Desta sangat tajam seakan hanya dengan memandangnya saja bisa membunuh.
Anna pun jatuh lemas karena sudah tidak tahan melihat semua kekacauan ini, jika saja Desta tidak ikut datang, pasti Herman tidak akan berbuat sejauh ini.
Sementara Retno, sangat bersemangat ketika Desta membuat Herman kesulitan bernafas, dia sangat dendam kepada Herman yang menyuruh pengawalnya untuk merusak mobilnya.
Retno masih mempercayai Desta akan membantunya menyelesaikan masalah ini.
"Aku akan mengurusmu nanti, kau tetaplah diam di lantai" ucap Desta kepada Herman.
Lalu Desta berjalan ke arah pengawal Herman yang membawa sebuah pipa besi yang akan digunakannya untuk menghancurkan rumah Debby.
"Sepertinya kau terlihat kuat, kalau begitu aku beri kau kesempatan untuk memukulku 3 kali, lalu akan membalasmu 1 kali saja" pengawal itu meremehkan kemampuan Desta yang hanya membuat Herman terjatuh, karena dia tahu Herman memanglah sangat lemah, jadi dia mengira Desta pasti juga lemah.
"Hoo, boleh juga" Desta berjalan semakin mendekat ke arah pengawal itu.
"Oh tidak kau hanya akan mematahkan tanganmu sendiri, haha..!" pengawal itu sangat percaya akan kemampuannya.
__ADS_1
Tanpa berbasa-basi lagi..
"Buk..Buk..Buk." suara pukulan yang sangat keras telah terdengar 3 kali secara beruntun.
Tubuh besar pengawal itu terpental sejauh 10 meter dan terbaring di tanah tak menunjukkan pergerakan apapun.
Lalu Desta berbalik menghadap dan berjalan ke arah Herman yang masih berusaha menarik nafasnya.
Debby dan Retno yang melihat kekuatan Desta seketika merasakan 2 hal, senang dan ketakutan, senang karena Desta membalaskan dendam mereka, dan takut kalau nanti Desta akan membunuh Herman, tapi mereka pun tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan kemarahan Desta.
Akhirnya Desta memutuskan untuk menyelesaikan urusannya dengan pengawalnya terlebih dahulu.
"Hoo, kau masih hidup? Aku terkejut, baru kali ini ada yang masih hidup setelah aku pukul seperti itu" ucap Desta dengan ekspresi dingin.
"Karena kau orang pertama yang bertahan dari pukulanku, aku ingin tahu namamu..!" ujar Desta kepada pengawal itu
"Namaku.. Ha..rian..to.." setelah mengucapkan namanya, pengawal itu kembali terbaring ke tanah dan mengeluarkan darah segar dari mulutnya.
__ADS_1
"Harianto, akan kuingat itu, merasa terhormatlah..!" lalu Desta kembali berjalan ke arah Herman.
"Herman, maaf membuatmu menunggu gelandangan ini" Desta kemudian mengambil kursi dan duduk di hadapan Herman.
"Sekarang aku tanya, maumu apa?" Desta bertanya padanya.
"Sia..lan, hah.. hah.." Herman terengah-engah bertarung dengan nafasnya.
"Buk.." sebuah tendangan ke arah wajah Herman mendarat dengan keras.
"Aku bertanya maumu apa bukan ucapan kasar yang ingin kudengar darimu..!" ucap Desta.
Debby saat ini tidak lagi melihat Desta yang dia kenal, dia sedang melihat seorang iblis yang sedang menghukum.
"Kau akan menyesali i..ni" Herman masih saja mengancamnya, dia benar-benar sangat ingin mati.
"Wow wow wow, bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku tidak suka diancam dan sekarang kau masih mengancamku? Coba kau katakan sekali lagi" Desta meletakkan tangannya yang terbuka di telinganya seperti sedang mendengarkan.
__ADS_1