
“Hanya jika kalian membuang seluruh senjata kalian di depan pintu rumah ini dan bos kesayangan kalian ini akan aku bebaskan..!” Desta mencoba cara tersebut agar mereka setidaknya bisa melawan dengan beberapa senjata yang dilemparkan di depan rumah Febrianto kalaupun akan terjadi baku tembak.
Tapi, Desta tidak benar-benar mengharapkan itu terjadi.
“Memangnya orang bodoh mana yang mau mempercayai ucapan penculik?” gumam Desta sembari memikirkan cara lain untuk melawan di situasi seperti ini.
“Oke, kalian semua lemparkan senjata yang ada seperti yang dikatakannya..!” ucap pria tersebut.
“Tapi ketua, bagaimana jika itu hanya jebakan?” tanya bawahan pria yang berteriak tadi.
“Apa kalian lebih suka bos Widodo terluka di dalam sana?” bentak pria tersebut dengan gagah berani.
“Tidak pak..!” jawab semua bawahannya.
“Kalau begitu lakukan seperti yang dikatakannya tadi..!” perintah pria tersebut.
__ADS_1
“Baik pak..!” jawab semua bawahannya lagi.
Tidak seperti yang diduga oleh Desta, semua bawahan Widodo melemparkan seluruh senjata yang mereka bawa ke depan pintu rumah Febrianto tanpa satupun yang tersisa untuk mereka sendiri.
“Wow, ternyata bawahanmu anak baik semua, ya?” ucap Febrianto menyindir.
“Aku sudah tidak tahu harus berkata apa sebagai bos dari mereka yang sangat bodoh itu..!” jawab Widodo yang berusaha keras untuk menahan malunya agar tidak muntah darah.
“Hehe, kalau seperti ini aku akan lebih mudah untuk menyingkirkan kalian semua” Desta memasang wajah seram yang menakut-nakuti Widodo hingga gemetaran.
“Tidak..! To-tolong jangan sakiti aku..!” ucap Widodo, dia sangat ketakutan dengan kondisinya saat ini, tidak punya uang, tidak bisa melawan, dan ditambah dengan bawahan yang seperti itu.
Jadi, dalam situasi seperti ini tidak ada lagi yang bisa dia lakukan selain memohon belas kasih dari Desta agar dia tidak membunuhnya.
“Bos, mereka sudah melemparkan begitu banyak senjata..! Selanjutnya apa yang akan kita lakukan?” tanya Febrianto saat mendengarkan bunyi senjata yang jatuh di depan pintu rumahnya.
__ADS_1
“Sebelum itu, apa kau tidak apa-apa dengan luka seperti itu? Darahnya masih terus mengalir, apa tidak sebaiknya kau tutupi dulu lukamu dengan kain?” tanya Desta melihat luka tembakan di bahu Febrianto.
“Ini bukan apa-apa, bos..! luka seperti ini hanya seperti goresan kecil saja bagiku..!” ujar Febrianto sambil menepuk dadanya.
“Ya sudah, kalau begitu ambil salah satu senjatanya lalu periksa apakah ada pelurunya atau tidak..!” ucap Desta memerintahkan Febrianto.
“Oh, jangan lupa bawa jaminan..!” Desta melirik ke arah Widodo dan Febrianto mengangguk mengerti maksud Desta.
“Kemari kau..!” Febrianto menarik kerah baju Widodo dan menyeretnya hingga ke belakang pintu sembil menodongkan sebuah pisau lipat ke lehernya.
“Jika mereka menembak, aku akan langsung memisahkan kepala dari badanmu..!” Febrianto mengancam Widodo dengan maksud dia akan memberitahukan kepada seluruh bawahannya agar tidak menyerang.
“Ckrek..” pintu pun dibuka dan Febrianto menunjukkan kepala Widodo terlebih dahulu untuk memastikan aman dari tembakan.
Febrianto melihat ada begitu banyak senjata yang bertebaran di depan pintu rumahnya, lalu dia melihat ke sebuah senjata laras panjang yang tidak asing baginya.
__ADS_1
“M16..!” Febrianto mengambil senjata tersebut dan memeriksanya.
“Oke, yang ini penuh, dan yang ini..! Yang ini juga..!” Febrianto mengambil beberapa senjata laras panjang dan pistol beserta cadangan peluru yang tidak diduga dilemparkan juga ke depan pintu rumahnya.